Reaksi Korut atas Penempatan Kapal Perang Inggris
Korea Utara menilai langkah Inggris menempatkan kapal-kapal perangnya di Semenanjung Korea sebagai "tindakan perang".
Pemerintah Korea Utara mengumumkan, langkah Inggris menempatkan kapal-kapal perangnya di perairan sekitar Semenanjung Korea sama halnya dengan "tindakan perang" yang bisa melemahkan perdamaian dan stabilitas di kawasan ini.
Pyongyang menegaskan, Inggris lebih baik mengurusi urusan rumah tangganya sendiri daripada mengintervensi urusan dalam negeri negara lain. Sejumlah media mengabarkan penempatan kapal perang Angkatan Laut Kerajaan Inggris, HMS Albion untuk bergabung dengan HMS Sutherland dan HMS Argyll yang terlebih dahulu ditempatkan di Semenanjung Korea.
Setelah Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa, pemerintah London melakukan sejumlah langkah memperkuat kehadiran militernya di beberapa wilayah dunia dalam rangka apa yang mereka sebut sebagai "kembali ke era otoritas" di masa lalu, saat negara itu sangat berpengaruh dalam perkembangan regional dan internasional.
Keterlibatan Inggris dalam agresi militer Amerika Serikat dan Perancis ke Suriah, pengerahan kapal perang ke Asia Timur, digelarnya manuver militer gabungan dengan Jepang dan penempatan kapal perang Inggris di perairan sekitar Korea Utara, dilakukan dalam kerangka tujuan itu.
Dengan memperhatikan tekanan Amerika atas Korea Utara dan Cina, serta campur tangan Washington terhadap urusan regional, pada dasarnya, Inggris juga sudah mengambil posisi guna memperkuat kehadiran militernya di kawasan Asia Timur.
Tidak diragukan, Korea Utara mengamati dengan seksama pergerakan Inggris ini dan memperingatkan dampak-dampak yang mungkin ditimbulkan dari petualangan perang Inggris di kawasan, namun pemerintah Inggris tetap berusaha memperkuat posisi militernya di Asia Timur dengan terus menyebarkan fobia atas Korea Utara.
Salah seorang pengamat politik Inggris, James Edward Hoare mengatakan, upaya melemahkan posisi Barat di kawasan Asia Timur, mungkin saja menjadi salah satu target jangka panjang Korea Utara. Negara ini siap melakukan rekonsiliasi dan tidak ada keraguan tentang itu. Akan tetapi bukan berarti kita juga bisa lepas dari semua ancaman. Jaminan terkait perlucutan senjata total Korea Utara tidak akan mungkin, karena anda tidak tahu sedang berhadapan dengan apa.
Dalam beberapa bulan terakhir, dunia menyaksikan sejumlah langkah positif dilakukan Korea Utara dan Korea Selatan dalam upaya meredakan ketegangan dua negara, sehingga mempengaruhi konstelasi politik di kawasan menuju ke arah yang lebih baik.
Pemimpin Korea Utara juga sudah mengumumkan kesiapan untuk berdialog dengan Presiden Amerika guna menurunkan tensi ketegangan. Namun pengerahan kapal perang Inggris ke Asia Timur terutama perairan dekat Korea Utara, dianggap bisa merusak seluruh kemajuan dalam upaya mengurangi ketegangan yang berhasil diraih dalam beberapa bulan ini.
Salah satu pakar urusan Korea menuturkan, langkah Inggris mengerahkan kapal perangnya ke kawasan dapat merusak upaya pemulihan hubungan dua Korea dan deeskalasi ketegangan di kawasan Semenanjung Korea.
Apapun yang terjadi, krisis Semenanjung Korea tidak punya solusi militer dan kenyataannya, setiap kali Korea Utara dan Selatan bergerak ke arah rekonsiliasi, negara-negara Barat berusah mengganggu dan meningkatkan kehadiran militernya di Semenanjung Korea untuk mencegah tercapainya rekonsiliasi dua Korea.
Penempatan tiga kapal perang Inggris di sekitar Semenanjung Korea dan digelarnya manuver militer gabungan dengan Jepang, disinyalir dilakukan untuk merusak kemajuan rekonsiliasi Korea Utara dan Selatan, dan mencegah terwujudnya perdamaian kedua negara bertetangga itu. (HS)