Tensi Hubungan Paris dan Riyadh
https://parstoday.ir/id/news/world-i57810-tensi_hubungan_paris_dan_riyadh
Presiden Perancis, Emmanuel Macron seraya mengklaim memiliki peran penting dalam menyelesaikan krisis politik Lebanon tahun lalu membongkat masalah ini bahwa Arab Saudi beberapa pekan telah menahan Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri.
(last modified 2026-01-11T09:54:06+00:00 )
May 30, 2018 20:08 Asia/Jakarta
  • Macron dan MBS
    Macron dan MBS

Presiden Perancis, Emmanuel Macron seraya mengklaim memiliki peran penting dalam menyelesaikan krisis politik Lebanon tahun lalu membongkat masalah ini bahwa Arab Saudi beberapa pekan telah menahan Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri.

Macron saat menjawab pertanyaan apakah kebijakan luar negeri Perancis selama satu tahun lalu memiliki prestasi penting, mengisyaratkan kunjungan tahun lalu Saad Hariri ke Arab Saudi dan langkah tak normalnya mengumumkan pengunduran diri dari Riyadh. Ia menjelaskan, "Perlu kami ingatkan bahwa perdana menteri Lebanon ditahan di Arab Saudi selama beberapa pekan."

 

Sontak ucapan Macron ini membangkitkan kemarahan Arab Saudi, karena Riyadh serta Hariri telah menepis penahanan dirinya di Arab Saudi.

 

Dalam hal ini, kantor berita Arab Saudi hari Selasa (29/5) mengutip sebuah sumber terpercaya di Departemen Luar Negeri Arab Saudi, menepis statemen Macron dan mengklaim Riyadh senantiasa membela keamanan dan stabilitas Lebanon dan pribadi perdana menteri dengan seluruh fasilitas yang dimilikinya.

 

Meski ada bantahan terkait ucapan Macron oleh Riyadh, penjelasan presiden Perancis termasuk bantahan atas sikap terbaru Arab Saudi di kasus ini. Sebuah masalah yang semakin membangkitkan kemarahan Saudi atas aksi presiden Perancis membongkar isu tersebut. Arab Saudi berusaha memaksa perdana menteri Lebanon mengundurkan diri dengan memanggilnya ke Riyadh pada 4 November 2017 dengan harapan mampu mempersiapkan peluang untuk mengobarkan krisis politik di Beirut.

 

Tujuan Arab Saudi mengobarkan iklim politik anti Hizbullah dan aktivitasnya sebagai alasan bagi pengunduran diri Hariri, tapi dengan respon tegas petinggi Lebanon serta sikap tepat kubu Muqawama, konspirasi Arab Saudi ini gagal. Menurut Bernard Amy, pengamat politik, penangkapan Saad Hariri sangat berbahaya dan mencoreng wajah Arab Saudi di tingkat internasional dan Riyadh sebagai terkesan menjadi negara yang melanggar kesepakatan internasional terakit delegasi diplomatik dan kunjungan petinggi sebuah negara.

 

Presiden Lebanon Michel Aoun seraya memanggil kuasa usaha kedubes Arab Saudi menyebut pengunduran diri Hariri di Arab Saudi sebuah langkah tak jelas dan menekankan bahwa Hariri harus secepatnya kembali ke Beirut untuk memperjelas alasan pengunduran dirinya. Lebanon mengumumkan jika Arab Saudi menolak mengijinkan Hariri kembali ke Beirut, maka mereka akan mengadukan Riyadh ke Dewan Keamanan PBB. Masalah ini membuat Riyadh dihadapkan pada kebuntuan unik, karena berharap tidak akan ada respon dari Lebanon terkait penahanan Hariri.

 

Sejatinya presiden Perancis melalui kunjungannya ke Riyadh memainkan peran mediator Arab Saudi khususnya Pangeran Mohammad bin Salman, sang putra mahkota. Macron di kunjungannya ini seraya meyakinkan putra mahkota Arab Saudi, dan kemudian mengundang Saad Hariri berkunjung ke Paris serta selanjutnya kembali ke Beirut, berharap mampu mengakhiri krisis ini.

 

Kini Macron membongkar masalah ini demi meraih konsesi baru dari Riyadh. Namun reaksi negatif Riyadh menunjukkan bahwa Arab Saudi sama sekali tidak rela dengan aksi Macron tersebut. (MF)