Kebijakan Trump Soal Iran Picu Konflik di Tengah Sekutu
-
Pada 8 Mei 2018, Presiden Trump secara sepihak mengumumkan penarikan AS dari kesepakatan nuklir dengan Iran.
Wakil Direktur Brookings Institution AS, Suzanne Maloney mengatakan, tindakan sepihak Presiden Donald Trump terhadap Iran akan mempertajam perselisihan antara Washington dan sekutunya di Eropa dan Asia.
Seperti dimuat laman Brookings Institution, Sabtu (30/6/2018), Maloney dalam sebuah artikel menulis, tekanan maksimum pemerintahan Trump terhadap Tehran dan permintaan Departemen Luar Negeri AS untuk menghentikan pembelian minyak dari Iran mulai November 2018, adalah bukti dari mengesampingkan diplomasi.
Gedung Putih juga telah memilih serangan ekonomi untuk memukul pemerintah Iran.
Menurut Meloney, penerapan sanksi Trump hanya akan memperlebar konflik antara Washington dan sekutunya di Eropa dan juga membuka peluang konfrontasi berbahaya Cina, India dan para pemasok minyak Iran lainnya dengan AS.
"Berbeda dengan masa pemerintahan Obama, AS kali ini bertindak sendirian untuk melawan Iran," jelasnya.
"Pada masa Obama, kerjasama antara AS dan kekuatan dunia telah mengurangi penjualan minyak Iran, namun sekarang Trump akan menghadapi hari yang lebih sulit tanpa keikutsertaan Inggris, Jerman dan Perancis," ujar Meloney.
Dia mengingatkan bahwa memastikan alternatif untuk ekspor minyak Iran, secara pasti akan meningkatkan tekanan pada pasar, memperbesar guncangan dan membebani biaya bagi perekonomian dunia serta bertentangan dengan kebijakan AS, yang ingin menjaga harga minyak tetap rendah. (RM)