Reaksi Rusia Atas Anggaran Baru Militer AS
-
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani anggaran militer 2019 dengan nilai 716 miliar dolar.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini menandatangani anggaran militer 2019 dengan nilai 716 miliar dolar. Angka fantastis ini telah mengundang reaksi di tingkat internasional.
Dalam strategi keamanan nasionalnya yang baru, AS secara eksplisit menyebut Rusia sebagai musuh dan ancaman utama. Oleh karena itu, Moskow secara serius mengikuti perkembangan militer dan keamanan AS, termasuk pengesahan anggaran baru militer.
Dalam hal ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan anggaran baru Angkatan Besenjata AS adalah simbol hegemoni militer Washington di dunia. Dia menambahkan, anggaran pertahanan nasional 2019 yang ditandatangani oleh Presiden Trump, mencerminkan kebijakan hegemonik AS di dunia dari sudut pandang kekuatan.
Pada dasarnya, Trump mengadopsi pendekatan keras dalam menyikapi isu-isu internasional, di mana pendekatan ini lebih menitikberatkan pada penggunaan kekuatan militer untuk mencapai kepentingan AS. Secara bersamaan, kebijakan luar negeri Trump secara nyata mengejar unilateralisme, yang berarti kembalinya negara itu ke era mantan Presiden George W. Bush. Pada waktu itu, AS menyerang Afghanistan dan Irak dengan alasan perang global terhadap terorisme.
Unilateralisme Trump bertumpu pada aspek militer dan keamanan, di mana AS memposisikan dirinya sebagai polisi global yang memberikan perintah dan larangan langsung kepada negara-negara lain. Di samping itu, AS juga mengandalkan kekuatan semi keras yaitu kekuatan ekonomi dalam bentuk penerapan sanksi terhadap pihak lain.

Meski demikian, kekuatan militer dan ancaman serangan masih menjadi andalan AS untuk mengintimidasi negara-negara lain demi mencapai tujuannya di luar negeri. Seperti serangan rudal ke Suriah dan penyebaran kapal induk di sekitar Semenanjung Korea untuk menakut-nakuti Korea Utara. Selain itu, peningkatan anggaran militer AS bertujuan untuk memenuhi kepentingan industri dan perusahaan persenjataan negara itu.
Andrei Frolov, seorang pakar di Pusat Kajian Strategis dan Teknologi Rusia, mengatakan, "Kompleks industri militer AS selalu berada di bawah pengawasan kubu Republik, dan Trump telah memberikan kepuasan kepada mereka dengan anggaran seperti itu."
Dalam dokumen militer dan keamanan AS seperti, strategi keamanan nasional, strategi pertahanan nasional, dan doktrin baru nuklir negara itu selalu memandang Rusia sebagai ancaman utama terhadap AS dan juga ancaman nuklir nomor satu.
AS memandang Rusia dan kemudian Cina sebagai musuh dan ancaman utama keamanannya. Jadi, penambahan anggaran militer secara alami akan menargetkan dua negara tersebut. Washington juga telah mengalokasikan anggaran fantastis untuk modernisasi senjata nuklir dan membentuk pasukan ruang angkasa untuk melawan ancaman Moskow dan Beijing.
Deputi Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan bahwa Moskow mengkhawatirkan alokasi anggaran yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk keperluan militer AS, dan Rusia akan menganalisis anggaran militer 2019 sebelum mengambil langkah-langkah yang diperlukan.
Dapat dikatakan bahwa anggaran baru militer AS adalah indikasi dari sikap agresif Gedung Putih untuk mengejar kepentingan regional dan global AS melalui kekuatan keras yaitu; kekuatan militer dan penggunaan kekerasan.
Masalah ini telah menimbulkan banyak kekhawatiran di tingkat internasional tentang tindakan AS di masa depan untuk mendestabilisasi dan merusak tatanan global. (RM)