Persekutuan AS-Arab untuk Melawan Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i63429-persekutuan_as_arab_untuk_melawan_iran
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menilai sanksi Departemen Keuangan AS terhadap Tehran dengan alasan mendukung Taliban, sebagai upaya mengalihkan opini publik dari pemberitaan kekejaman Arab Saudi di Istanbul.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Okt 25, 2018 14:38 Asia/Jakarta
  • Raja Salman bin Abdulaziz berjabat tangan dengan Ibu Negara AS Melania Trump di Bandara Riyadh pada Mei 2017.
    Raja Salman bin Abdulaziz berjabat tangan dengan Ibu Negara AS Melania Trump di Bandara Riyadh pada Mei 2017.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menilai sanksi Departemen Keuangan AS terhadap Tehran dengan alasan mendukung Taliban, sebagai upaya mengalihkan opini publik dari pemberitaan kekejaman Arab Saudi di Istanbul.

"Washington menjatuhkan sanksi terhadap Tehran dengan dalih mendukung Taliban. Ini terjadi bersamaan dengan kunjungan menteri keuangan AS ke Riyadh untuk mengalihkan opini publik dari berita yang terkait dengan kekejaman Saudi di Istanbul dan Yaman," tulis Zarif di akun Twitter-nya hari Rabu (24/10/2018).

Dia juga menyinggung sejumlah pertemuan rahasia yang dilakukan oleh para pejabat AS dengan anggota Taliban.

Selasa lalu, Arab Saudi dan Bahrain dalam sebuah langkah yang seirama dengan pemerintah AS, memasukkan nama Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) dalam daftar yang mereka sebut kelompok teroris.

Langkah anti-Iran ini merupakan upaya kolektif Amerika-Arab untuk mengalihkan opini publik dari kejahatan anti-kemanusiaan di Istanbul, dan meringankan beban Putra Mahkota Mohammed bin Salman atas kasus pembunuhan jurnalis kritis, Jamal Khashoggi.

Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dan Jamal Khashoggi.

Barbarisme rezim Saudi dalam membunuh seorang wartawan telah memicu reaksi keras dari dunia, di mana Washington dan sekutu Arab-nya tidak kuasa menutupi kejahatan Riyadh dengan mengalihkan perhatian dunia ke Iran.

Kejahatan Saudi tidak hanya terbatas pada pembunuhan Khashoggi di Istanbul, dan orang-orang Yaman telah menjadi korban arogansi rezim Saudi selama lebih dari tiga tahun.

Kejahatan ini tidak bisa dipisahkan dari dukungan langsung AS terhadap Arab Saudi; rezim yang telah memelihara kelompok teroris seperti Daesh, Front al-Nusra, Taliban, dan Al Qaeda dengan uang minyaknya, dan mereka kemudian beroperasi di bawah dukungan AS.

Kerjasama AS-Saudi dengan Taliban bermakna kerjasama dengan teroris dan hasil dari kolaborasi ini adalah tumpahnya darah orang-orang Afghanistan setiap hari. Sudah bukan rahasia lagi jika AS mendukung Taliban dan selalu memanfaatkan kelompok itu untuk mengejar kepentingannya di Afghanistan.

Dalam hal ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan, ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Departemen Pertahanan AS sebagai salah satu penyokong dana Taliban.

Invasi Afghanistan oleh AS sudah berjalan 17 tahun, tetapi keamanan dan perdamaian tidak pernah tercipta. Ini adalah bukti dari kebijakan standar ganda AS yang menduduki negara itu dengan alasan memerangi terorisme.

Pengamat politik Afghanistan, Vahid Mojdeh menuturkan, "AS datang ke Afghanistan dengan dalih memerangi terorisme, namun sekarang menurut pengakuan mereka sendiri, lebih dari 20 kelompok teroris beroperasi di Afghanistan. Misi lain AS adalah memberantas opium, tetapi penanaman dan produksi opium terus tumbuh sejak tahun 2001." (RM)