Penentangan Turki terhadap Sanksi Minyak Iran
Juru bicara Kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin mengatakan pada hari Selasa (16/4/2019) bahwa Turki mengharapkan Amerika Serikat untuk memperpanjang pengecualian negara ini dari sanksi sehingga bisa melanjutkan pembelian minyak dari Iran.
AS mengembalikan sanksi terhadap ekspor minyak Iran pada November 2018 setelah Presiden Donald Trump secara sepihak keluar dari perjanjian nuklir 2015 antara Republik Islam dan enam kekuatan dunia.
Selama 2018, pemerintah AS mengumumkan rencananya untuk menghentikan penjualan minyak Iran ke titik nol. Namun karena tidak mungkin terwujud, AS kemudian memberikan pengecualian kepada delapan negara konsumen utama minyak Iran. Mereka adalah Cina, India, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Turki, Italia, dan Yunani.
"Kami menegaskan bahwa kami hanya ingin terus membeli minyak dari Tehran, dan Iran juga negara tetangga ... Orang-orang seharusnya tidak berharap Turki akan berpaling dari Iran begitu saja," ujar Ibrahim Kalin.
Dia menegaskan bahwa Turki tidak mendukung kebijakan sanksi AS terhadap Iran dan tidak berpikir itu akan memberikan hasil yang diharapkan.
Hubungan Iran dan Turki di sektor energi sudah berlangsung lama dan mengindikasikan kebutuhan timbal-balik kedua negara ini. Nama Iran selalu berada di tengah eksportir utama energi ke Turki dan Ankara juga selalu berusaha untuk mengabaikan sanksi Washington terhadap Tehran.
Iran-Turki memiliki hubungan ekonomi dan bisnis yang sangat erat, dan konflik politik mereka bahkan tidak mampu mempengaruhi hubungan tersebut.
Ellen R. Wald dari Atlantic Council's Global Energy Center menuturkan bahwa kedua pemerintah Iran dan Turki bahkan telah mempertahankan hubungan bisnis yang erat di tengah konflik besar pada masa Usmani dan Safawi.
Ketika berbicara tentang sektor energi, Ankara telah memprioritaskan hubungannya dengan Tehran karena menguntungkan secara ekonomi dengan membeli minyak dan gas dari Iran.
Namun, sektor swasta Turki bisa terkena dampak akibat tekanan ilegal pemerintah AS. Hal ini mungkin akan membuat sektor swasta untuk berhati-hati dalam berbisnis dengan Iran.
Di sini, masyarakat dunia perlu memainkan perannya untuk mencegah kerusakan tatanan ekonomi global dan menghentikan pelecehan hukum internasional oleh AS.
Pemerintah Turki juga perlu memahami bahwa AS berniat memperlemah bangsa-bangsa regional. Oleh sebab itu, kedua negara dapat bersatu untuk melawan konspirasi AS serta menciptakan stabilitas dan perdamaian di kawasan. (RM)