Bisnis Senjata Trump dengan Negara-negara Arab
https://parstoday.ir/id/news/world-i70526-bisnis_senjata_trump_dengan_negara_negara_arab
Pemerintahan Donald Trump akan mengabaikan Kongres terkait penjualan senjata ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Yordania senilai miliaran dolar.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 26, 2019 08:17 Asia/Jakarta
  • Trump memperlihatkan papan tentang rencana penjualan senjata ke Saudi saat bertemu Pangeran Mohammed bin Salam di Gedung Putih, 20 Maret 2018.
    Trump memperlihatkan papan tentang rencana penjualan senjata ke Saudi saat bertemu Pangeran Mohammed bin Salam di Gedung Putih, 20 Maret 2018.

Pemerintahan Donald Trump akan mengabaikan Kongres terkait penjualan senjata ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Yordania senilai miliaran dolar.

Pemerintah AS terus meningkatkan ketegangan dengan Iran setiap hari. AS bahkan telah beralih ke ancaman militer dalam konteks kebijakan tekanan maksimum terhadap Republik Islam.

AS telah mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan empat pembom strategis B-52 ke wilayah Asia Barat. Setelah keputusan itu, media-media dunia kemudian berbicara tentang kemungkinan perang AS dengan Iran.

Trump dalam cuitan bernada ancaman di akun Twitter-nya menulis, "Jika Iran ingin berperang, maka itu akan menjadi akhir resmi dari Iran." Namun, Trump beberapa jam kemudian mengatakan, "Saya bukan orang yang akan berperang dengan Iran."

Pendekatan AS dalam konteks tekanan maksimum terhadap Iran, lebih mengarah pada perang psikologis. Dalam sebuah keputusan baru, Trump mengumumkan bahwa 1.500 pasukan baru akan dikerahkan ke wilayah Asia Barat. Padahal, sebelumnya dia mengatakan AS tidak perlu mengirim lebih banyak pasukan ke kawasan.

Keputusan AS menjual senjata ke negara-negara Arab menunjukkan bahwa Trump selain sedang melakukan perang psikologis terhadap Iran, juga berusaha untuk terus memeras negara-negara kaya Arab, termasuk Arab Saudi dan UEA.

Pada dasarnya, Trump – sebagai seorang pebisnis – memandang negara-negara seperti Saudi dan UEA sebagai "sapi perah."

Oleh sebab itu, Trump mengeluarkan perintah ekspor senjata ke Arab Saudi, UEA, dan Yordania senilai lebih dari 8 miliar dolar dengan alasan bahaya ancaman Iran bagi sekutu AS di kawasan.

Menurut data kontrak senjata Kongres AS yang dirilis pada November 2017, Trump telah menjual sekitar 49 miliar dolar senjata ke berbagai negara dunia sejak 20 Januari sampai November 2017.

Bahrain, Arab Saudi, dan UEA tercatat sebagai importir terbesar senjata dari AS.

Namun, kontrak penjualan senjata ke Saudi senilai 110 miliar dolar yang ditandatangani Trump pada 2017 lalu di Riyadh, tidak dimasukkan dalam laporan Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan AS.

Trump benar-benar mengejar kepentingan ekonomi semata dan sama sekali tidak berusaha untuk mengakhiri krisis yang terjadi di kawasan seperti di Yaman. Dia secara prinsip menentang berakhirnya perang di Yaman.

Sekarang dengan meningkatkan ketegangan dengan Tehran, Trump berusaha mendapatkan dolar minyak dari negara-negara Arab di Teluk Persia. (RM)