Pembatalan Kesepakatan Militer AS-Filipina
-
Juru bicara kepresidenan Filipina, Salvador Panelo
Juru bicara kepresidenan Filipina, Salvador Panelo mengumumkan instruksi presiden negaranya untuk membatalkan perjanjian militer dengan AS.
Paleno mengatakan, Presiden Rodrigo Duterte menanggapi pembatalan perpanjangan visa masuk pejabat tinggi Filipina ke AS dengan memerintahkan pembatalan perjanjian militer dengan Washington.
Presiden Filipina baru-baru ini mengatakan bahwa Manila tidak akan mengejar kebijakan luar negeri AS di kawasan. Ditegaskannya, jika Amerika Serikat tidak memperpanjang visa kunjungan seorang kepala polisi Filipina yang telah membantu dalam memerangi perdagangan narkoba, maka kerja sama pelatihan militer tahunan dengan pasukan AS akan dibatalkan.
Keputusan presiden Filipina untuk membatalkan perjanjian kerja sama militer dengan AS menjadi pukulan besar terhadap ambisi Washington di Asia Tenggara karena kehilangan pangkalan militernya di Filipina.
Amerika Serikat memanfaatkan perjanjian kerja sama dengan Filipina yang dijadikan alat untuk menancapkan pengaruhnya di Asia Tenggara, khususnya untuk mengganggu kepentingan Cina di kawasan Laut Cina Selatan.
Latihan perang tahunan antara militer AS dengan angkatan darat Filipina di Laut Cina Selatan juga merupakan bagian dari tujuan Gedung Putih untuk mempertahankan ruang psikologis melawan Cina di tingkat regional dan internasional.
Dengan pembatalan perjanjian kerja sama militer dengan Amerika Serikat oleh Presiden Filipina menjadi keputusan independen dalam kerangka pelaksanaan kedaulatan nasionalnya.
Meningkatnya kedekatan antara Cina dengan Filipina dan perluasan investasi, bahkan dukungan finansial Beijing terhadap Manila faktor yang mendorong pembatalan perjanjian kerja sama militer Filipina dengan Amerika Serikat.
Pembatalan perjanjian kerja sama militer AS dengan Filipina, menjadikan Gedung Putih untuk sementara kehilangan pangkalannya yang paling penting di Asia Tenggara, juga membuka jalan bagi pengembangan hubungan strategis antara Manila dengan Beijing dan Moskow sebagai pesaing utama Washington di arena internasional.
Keputusan Duterte untuk membatalkan perjanjian kerja sama militer dengan Amerika Serikat terjadi di tengah ancaman pemutusan bantuan finansial Washington terhadap Manila jika kesepakatan itu dihentikan. Masalah ini menunjukkan Manila lebih mementingkan kedaulatan nasionalnya daripada bantuan keuangan tersebut.(PH)