Langkah Ganda dan Kontradiktif AS soal JCPOA dan Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i91752-langkah_ganda_dan_kontradiktif_as_soal_jcpoa_dan_iran
Seiring kian dekatnya waktu pelaksanaan ancaman Republik Islam Iran untuk menghentikan implementasi sukarela protokol tambahan, Washington terpaksa melakukan langkah ganda. Sekaitan dengan ini, pemerintahan Joe Biden Kamis (18/2/2021) dalam sebuah langkah simbolis menunjukkan niat baiknya.
(last modified 2026-04-24T09:08:16+00:00 )
Feb 19, 2021 16:11 Asia/Jakarta
  • AS keluar dari JCPOA (dok)
    AS keluar dari JCPOA (dok)

Seiring kian dekatnya waktu pelaksanaan ancaman Republik Islam Iran untuk menghentikan implementasi sukarela protokol tambahan, Washington terpaksa melakukan langkah ganda. Sekaitan dengan ini, pemerintahan Joe Biden Kamis (18/2/2021) dalam sebuah langkah simbolis menunjukkan niat baiknya.

Wakil sementara Amerika Serikat di PBB, Richard Mills di suratnya kepada Dewan Keamanan, menolak sikap dan klaim pemerintah Donald Trump terkait pengaktifan mekanisme pemicu dan pemulihan kembali sanksi internasional terhadap Iran.

Di langkah lain, Amerika seraya mengklaim berusaha menurunkan tensi menyatakan bahwa Washington menurunkan pembatasan lalu lalang diplmomat Iran di kota New York, markas PBB yang ditetapkan oleh pemerintahan Donald Trump. Di samping itu, seorang petinggi Amerika hari Kamis mengatakan, jika Uni Eropa mengundang Amerika, maka Washington siap berunding dengan Tehran. Sebelumnya seorang pejabat Uni Eropa mengatakan siap menggelar pertemuan antara pihak-pihak JCPOA yang terdiri dari Inggris, Cina, Prancis, Jerman, Rusia dan Amerika Serikat.

JCPOA

Di samping langkah yang tampaknya positif ini, Washington masih jug mengejar pendekatan represif dan ancaman terhadap Tehran. Sekaitan dengan ini, menteri luar negeri AS dan Troika Eropa (Jerman, Prancis dan Inggris) Kamis malam usai pertemuan virtual di statemen bersama seraya mengungkapkan kekhawatiran atas langkah legal Iran pasca pelanggaran sepihak JCPOA oleh Amerika dan tanpa mengisyaratkan ketidakpatuhan negara-negara mereka terhadap JCPOA, meminta Iran untuk tidak mengambil langkah lebih besar khususnya menghentikan pelaksanaan protokol tambahan dan membatasi inspeksi IAEA di Iran.

Para menlu ini memperingatkan bahwa segala bentuk pembatasan kepada inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memantau reaktor nuklir Iran sebuah tindakan berbahaya.

Presiden AS Joe Biden sebelumnya berjanji jika berkuasa di Gedung Putih maka Amerika akan kembali ke JCPOA. Meski demikian setelah satu bulan dari pembentukan pemerintahannya, Amerika masih belum mengambil langkah yang jelas di bidang ini.

Joseph Cirincione, pengamat politik AS seraya menekankan bahwa Biden sampai saat ini masih melanjutkan kampanye gagal Donald Trump "represi maksimum terhadap Iran" mengatakan, Biden berisiko kehilangan kesepakatan nuklir penting sampai dia memperbaiki jalannya. Kini seiring dengan kian dekatnya tenggat waktu pelaksanaan ancaman Iran untuk menghentikan implementasi protokol tambahan dan membatasi akses inspeksi IAEA di Iran yang dijadwalkan diberlakukan pada 23 Februari, Barat khususnya Amerika dengan memberi sejumlah konsesi beranggapan mampu melemahkan tekad Iran untuk melaksanakan langkah-langkah respontifnya.

Padahal langkah pemerintah Biden hari Kamis pada dasarnya dilakukan karena kegagalan kebijakan represi maksimum AS terhadap Tehran serta resistensi maksimum bangsa Iran. Harapan AS dan mitra Eropanya yang kini bertindak dalam satu front melawan Iran adalah tanpa merealisasikan tuntutan utama Iran yakni pencabutan penuh sanksi AS, verifikasinya dan kembali ke komitmen JCPOA, mereka akan mampu memaksa Tehran untuk menghentikan langkah-langkah balasan. Meski demikian, sikap Tehran tidak berubah. Pemimpin Besar Revolusi Islam atau Rahbar Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei baru-baru ini mengatakan, Iran akan kembali ke komitmen JCPOAnya ketika Amerika secara praktis dan bukan sekedar di mulut atau di atas kertas mencabu seluruh sanksi serta pencabutan sanksi ini akan diuji oleh Iran. Ini adalah kebijakan pasti Iran dan tidak dapat diubah serta disetujui oleh seluruh pejabat dan tidak ada yang dapat mundur dari sikap ini.

Meski Amerika menganggap bahwa dengan memberi sejumlah konsesi kecil, mereka akan mampu memaksa Iran membatalkan kebijakan utama JCPOAnya. Tapi pengalaman beberapa bulan lalu, setelah peratifikasian undang-undang langkah strategis untuk mencabut sanksi dan melindungi hak bangsa Iran, harus ditunjukkan kepada Barat bahwa Tehran tidak akan mundur dari tuntutan utamanya dan langkah balasannya. (MF)