Ghalibaf: Bukan Medan Perang yang Jadi "Garis Depan" Melawan AS
-
Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran
Pars Today - Ketua Majelis Syura Islam Iran memperingatkan pemegang obligasi AS di negara-negara Arab, "Selagi masih ada kesempatan, jual obligasi kalian. 'Garis depan' mereka sebenarnya adalah kurva imbal hasil."
Melaporkan dari ParsToday, Sabtu, 25 April 2026, Mohammad Bagher Ghalibaf menulis di X bahwa "swap line valas" menurut Menteri Keuangan AS telah diaktifkan untuk "mencegah penjualan aset AS yang tidak teratur" oleh negara-negara Arab. Ini berarti beberapa pemegang obligasi tidak bisa menjual saham mereka secara bebas dan dibatasi oleh AS dalam menjual aset mereka!
Ghalibaf merujuk pada sensitivitas sistem keuangan AS terhadap penjualan obligasi dan menambahkan bahwa sebenarnya ada batasan tidak tertulis yang harus dipatuhi oleh investor institusional dan pemerintah. "Jika situasi semakin kritis, pintu penjualan saham ini akan ditutup total!"
Ketika Ghalibab bicara soal "garis depan," ia tidak sedang merujuk pada tank atau rudal, melainkan kurva imbal hasil obligasi AS. Ini adalah bentuk peperangan yang lebih halus, tetapi tak kalah mematikan: perang finansial.
Menurut data analis, sekitar 40 persen dari total utang AS yang dipegang asing kini berada dalam ancaman. Jika negara-negara Teluk Persia yang selama ini menjadi "penyangga" ekonomi AS mulai menjual obligasi mereka secara besar-besaran, dampaknya bisa seperti bom atom terhadap stabilitas dolar.
Seruan Ghalibab untuk menjual obligasi selagi masih ada waktu bukan sekadar omong kosong belaka. Ini adalah bacaan yang tepat atas kepanikan yang melanda pasar AS saat ini. Pertanyaannya, akankah negara-negara Teluk Persia mendengar seruan ini? Atau sampai kapan mereka akan terus terjebak dalam "garis depan" yang tidak pernah mereka minta?(sl)