Hari Republik Islam, Tonggak Baru Demokrasi Religius
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i54284-hari_republik_islam_tonggak_baru_demokrasi_religius
Tanggal 12 Farvardin 1358 Hijriah Syamsiah, yang bertepatan dengan 1 April 1979 Masehi, menandai era baru lembaran politik Iran. Pasalnya, pada tanggal itu, bangsa Iran merayakannya sebagai Hari Republik Islam yang diperingati setiap tahun.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Apr 01, 2018 09:24 Asia/Jakarta

Tanggal 12 Farvardin 1358 Hijriah Syamsiah, yang bertepatan dengan 1 April 1979 Masehi, menandai era baru lembaran politik Iran. Pasalnya, pada tanggal itu, bangsa Iran merayakannya sebagai Hari Republik Islam yang diperingati setiap tahun.

Pada hari-hari awal kemenangan Revolusi Islam Iran diumumkan referendum pemilihan sistem pemerintahan Iran. Peristiwa yang terjadi tepat 50 hari pasca kemenangan Revolusi Islam Iran ini merupakan keputusan yang tidak diduga sebelumnya oleh publik dunia, sekaligus menjadi model yang khas dan menentukan bagi perjalanan Iran ke depan.

Pada hari itu, digelar sebuah referendum nasional di Iran dengan hasil 98,2 persen rakyat Iran menyetujui Republik Islam sebagai sistem pemerintahan di negeri mereka.Melalui mekanisme pemilihan yang berlangsung secara demokratis, mereka mengakhiri era despotisme di Iran.

Hari Republik Islam

Lahirnya sistem Republik Islam Iran melalui referendum menandai babak baru dimulainya partisipasi nyata rakyat dalam menentukan masa depannya, sekaligus memberi referensi baru tentang eksperimen demokrasi religius di dunia.  

Referendum tersebut menunjukkan bahwa kemenangan Revolusi Islam Iran, dan berakhirnya rezim despotik Shah di Iran telah membuka lembaran baru bagi dinamika politik Iran. Ketika itu, para teoritikus politik Barat gencar menampilkan Iran sebagai negara yang tidak demokratis di bawah bendera revolusi Islam. Tapi, gerakan besar dan bersejarah Imam Khomeini dengan menggelar referendum telah mematahkan plot tersebut.

Sebelum penyelenggaraan referendum 12 Farvardin, Imam Khomeini selaku pendiri Republik Islam Iran menyampaikan dua pesan penting. Pertama, mengenai urgensi partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat dalam referendum. Kedua, semua orang bebas untuk memilih sesuai suara hatinya sendiri dalam referendum tersebut.

Imam Khomeini berkata,"...referendum ini menentukan nasib bangsa kita. Referendum ini memberikan kebebasan dan independensi, tidak seperti dahulu, bergantung kepada pihak lain. Referendum inilah yang harus dikuti oleh seluruh lapisan [masyarakat]. Kalian bisa memilih bentuk yang diinginkan sesuai pilihan masing-masing.Kalian berhak dan bebas untuk memilih Republik, demokrat, atau rezim monarki dalam kertas pemilu."

Partisipasi sekitar 99 persen rakyat Iran dalam referendum mematahkan skenario kekuatan adidaya global yang gencar mempersoalkan tingkat partipasi rakyat dalam pembentukan Revolusi Islam. Referendum tersebut menunjukkan kepada adidaya global bahwa parameter gerakan Revolusi Islam Iran dalam pemilu adalah suara rakyat.

Suara rakyat sebagai faktor utama dan penting dalam menentukan nasib politik dan masa depan demokrasi di Iran, sekaligus memperjuangkan kemerdekaan dan independensi menghadapi kekuatan arogan global.

Memasuki empat puluh tahun kemenangan Revolusi Islam, Iran tetap tegar di tengah gencarnya berbagai tekanan dari berbagai arah. Keberlangsungan Republik Islam bertumpu pada partisipasi rakyat Iran yang diwujudkan dalam berbagai pemilu yang berlangsung secara periodik di negara ini.

Musuh-musuh bangsa Iran sejak dahulu telah melakukan berbagai cara untuk melemahkan Revolusi Islam dan mengucilkan Iran di arena internasional supaya bangsa-bangsa lain tidak mengikuti jejak Iran yang mendirikan Republik Islam pasca kemenangan Revolusi Islam.

Tapi referendum 12 Farvardin meneguhkan demokrasi di Iran, sekaligus membuktikan kepada publik dunia mengenai dukungan rakyat Iran terhadap Republik Islam. Sebab partisipasi rakyat sebagai prinsip utama demokrasi telah dijalankan dengan sebaik-baiknya oleh Iran.

Hari Republik Islam

Referendum penentuan sistem pemerintahan di Iran menjadi babak baru bagi tahapan penting dan sensitif dari perkembangan demokrasi di Iran. Sebab, referendum tersebut menunjukkan tingginya kesadaran politik rakyat Iran dalam menentukan nasib bangsa dan negaranya, berdasarkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Sepanjang perlawanan menghadapi rezim despotik Shah, rakyat Iran meneriakkan slogan "Independensi, kebebasan, dan Republik Islam" hingga kemenangan Revolusi Islam pada 22 Bahman. Demikian juga dalam referendum yang digelar secara bebas, mayoritas rakyat Iran memilih Republik Islam.Oleh karena itu, hari penyelenggaraan referendum tersebut disebut sebagai "Hari Republik Islam" yang ditulis dengan tinta emas dalam sejarah Iran.

Selama hampir empat dekade pasca terbentuknya Republik Islam di Iran, kekuatan arogan global terus-menerus melancarkan berbagai serangan tanpa henti terhadap negara ini. Untuk mewujudkan tujuan busuknya, musuh-musuh Iran menggelontorkan dukungan besar terhadap oposisi pemerintah Iran, dan memperkuat media mereka dengan teknik dan cara baru untuk mengobarkan kerusuhan di dalam negeri Iran dan mengucilkan Tehran di arena internasional.

Musuh-musuh Republik Islam Iran selama 39 tahun melancarkan berbagai skenario dari dukungan militer terhadap rezim Saddam Husein Irak dalam perang pertahanan suci selama delapan tahun terhadap Iran, teror terhadap tokoh politik dan ilmuwan nuklir Iran, sanksi ekonomi, hingga menciptakan beragam hambatan untuk menjegal kemajuan Iran demi melemahkan independensi bangsa Iran.

Tapi partisipasi aktif rakyat Iran dalam setiap pemilu sebagai infrastruktur demokrasi dalam pemerintahan Republik Islam, menjadi penangkal efektif berbagai skenario Barat terhadap Tehran. Rakyat Iran tidak akan membiarkan musuh mengotori atmosfir politik dan sosial Iran yang bertujuan merusak pilar Republik Islam.

Oleh karena itu, sejarah Revolusi Islam, termasuk "Hari Republik Islam" menjadi  momentum sangat penting bagi Iran. Bangsa Iran selama bertahun-tahun menghadapi berbagai ujian.Tapi selama itu pula, rakyat Iran menunjukkan komitmennya terhadap Republik Islam dalam menghadapi berbagai konspirasi musuh.

Sejatinya, 12 Farvardin menjadi ufuk baru dukungan rakyat terhadap Republik Islam. Pesan global referendum ini sangat jelas bagi bangsa-bangsa dunia. Pesan terpenting adalah dijadikan nilai-nilai Islam sebagai pilar pemerintahan dan tata kelola negara.

Kini, Republik Islam Iran yang bertumpu pada kehendak rakyat tetap tegar menghadapi arogansi kekuatan adidaya global demi membela cita-cita luhur Revolusi Islam dan tuntutan rakyat Iran.

Pemerintahan Republik Islam lahir dari prinsip kehendak rakyat dan nilai-nilai keislaman yang ditentukan melalui referendum. Oleh karena itu, tanggal 12 Farvardin 1358 Hijriah Syamsiah menjadi hari nasional terbesar di Iran, pasca kemenangan Revolusi Islam, 22 Bahman 1358 Hs. Inilah yang membedakan antara Revolusi Iran dengan revolusi lainnya di dunia.

Republik Islam Iran

Salah satu sisi penting dari referendum adalah berlanjutnya gerakan politik masyarakat Iran dalam memperkuat pilar independensi negara. Salah satu pesan yang disampaikan rakyat Iran bagi publik internasional adalah persatuan politik dan sosial rakyat dalam bernegara sebagai faktor penting untuk mewujudkan tujuan berbangsa dan bernegara.

Referendum 12 Farvardin dan dinamika politik Iran setelahnya menjadi pangkal gerakan menyempurna dalam meningkatkan kedaulatan bangsa dan negara di berbagai bidang, dari politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan.

Mayoritas rakyat Iran yang telah memberikan suara dalam referendum 12 Farvardin dan setelahnya telah menunjukkan kebenaran tekad bangsa dalam perlawanan menghadapi arogansi kekuatan global.