Perang Iran: Kesalahan Ekonomi Termahal Trump untuk Eropa
-
Selat Hormuz
Pars Today - Agresi koalisi Amerika-Zionis terhadap bangsa Iran tidak hanya mengubah peta militer dan politik kawasan, tetapi juga meninggalkan dampak mendalam dan luas terhadap ekonomi berbagai negara, bahkan terhadap kekuatan ekonomi besar Eropa yang selama ini disebut-sebut sebagai sekutu Trump.
Dilansir dari kantor berita IRNA, 3 Mei 2026, dua bulan setelah invasi militer AS dan rezim Zionis ke Iran, dampak dan konsekuensi agresi ini semakin mempengaruhi kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Eskalasi resesi dan inflasi menjadi indikator utamanya. Yang membedakan perang ini dari konflik sebelumnya adalah penutupan Selat Hormuz sebagai jalur vital energi dunia, yang telah mengacaukan rantai pasok global dan memangkas separuh pertumbuhan ekonomi banyak negara, terutama di Eropa.
Dalam kondisi ini, pertanyaan terpenting adalah: berapa biaya ekonomi yang dipikul negara-negara dunia akibat perang yang dipaksakan ini, dan kapan jalan keluar dari krisis ini mungkin terjadi?
Jerman: Korban Utama di Eropa
Meski pada awal perang diperkirakan dampaknya terbatas pada Iran atau Timur Tengah, pernyataan terbaru para pejabat Eropa telah mengungkap realita pahit. Pernyataan pejabat Jerman menunjukkan bahwa negara Eropa ini paling terpukul oleh konflik tersebut. Lars Klingbeil, Menteri Keuangan Jerman, baru-baru ini mengungkapkan bahwa perang Trump terhadap Iran telah memangkas separuh pertumbuhan ekonomi Jerman, sementara biaya bahan bakar dan energi melonjak drastis, meskipun Berlin tidak terlibat dalam perang ini.
Faktanya, perang terhadap Iran bukanlah krisis regional, tetapi secara langsung menyasar rantai pasok energi dan industri Jerman. Industri otomotif Jerman, yang sebelumnya sudah terhambat oleh krisis energi akibat perang Ukraina, kini lumpuh akibat melonjaknya harga energi dan terputusnya rantai pasok komponen melalui Selat Hormuz.
Yang jelas, pihak utama yang bertanggung jawab atas situasi ini adalah AS dan Israel, yang mengacaukan stabilitas energi global dengan memulai perang terhadap Iran. Jerman, yang menganggap dirinya tidak bersalah dan tidak terlibat dalam perang ini, pada praktiknya menjadi sandera kebijakan Gedung Putih.
Katerina Reich, Menteri Ekonomi Federal Jerman dari partai konservatif CDU, hanya membawa kabar buruk di Berlin. Ia memperkirakan perang di Teluk Persia akan membatasi pertumbuhan ekonomi Jerman pada tahun ini menjadi hanya setengah persen.
Italia dan Spanyol: Dua Nasib Berbeda
Masalah ekonomi di Eropa tidak terbatas pada Jerman. Negara-negara lain seperti Italia juga telah memangkas tajam proyeksi pertumbuhan mereka. Georgia Meloni, Perdana Menteri Italia, pekan lalu menyatakan, "Prioritas saya saat ini adalah mengendalikan tekanan inflasi pada harga, terutama energi, mengingat dampak perang Amerika terhadap Iran. Dalam krisis internasional yang kita hadapi saat ini, pengendalian harga dan energi, serta pencegahan dampak inflasi yang jelas-jelas menghancurkan pertumbuhan PDB, harus menjadi prioritas."
Di sisi lain, ekonomi Spanyol menunjukkan kinerja yang mengejutkan. Berdasarkan data yang dirilis oleh Institut Statistik Nasional Spanyol (INE), PDB negara ini pada kuartal pertama tahun ini tumbuh 0,6 persen dibanding kuartal sebelumnya, dan secara tahunan mencapai 2,7 persen. Carlos Cuerpo, Menteri Ekonomi Spanyol, menyatakan bahwa ekonomi Spanyol berhasil mempertahankan laju pertumbuhannya di awal tahun yang diliputi perang di Iran.
Ia menyebut keberhasilan ini berkat investasi dalam energi terbarukan (dengan porsi 55 persen dalam bauran energi), diversifikasi sumber impor minyak (AS dan Afrika sebagai pengganti Teluk Persia), serta paket bantuan senilai 5 miliar euro untuk rumah tangga dan bisnis. Namun demikian, pertumbuhan ini tidak datang tanpa biaya. Tingkat inflasi Spanyol meningkat akibat perang, dan meskipun pada April turun menjadi 3,2 persen, harga bahan bakar tetap tinggi. Bank Sentral Spanyol sebelumnya telah memperingatkan tentang perlambatan ekonomi yang signifikan jika perang berlanjut.
Von der Leyen: Krisis Energi Kedua dalam Empat Tahun
Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa, pekan lalu dalam pidatonya menekankan bahwa konsekuensi konflik di Asia Barat kemungkinan akan berlanjut selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun mendatang. Ia menyebut krisis energi saat ini sebagai krisis energi besar kedua dalam kurun waktu singkat empat tahun. Untuk keluar dari krisis energi di Eropa, ia mengusulkan tiga langkah: pertama, peningkatan koordinasi di tingkat Eropa; kedua, perlindungan bagi konsumen dan bisnis; dan ketiga, modernisasi sistematis konsumsi energi.
Selat Hormuz: Tenggorokan Ekonomi Dunia
Menurut para analis politik dan ekonomi, salah satu kartu truf Iran dalam perang ini adalah penutupan Selat Hormuz. Awalnya, lalu lintas kapal dikelola berdasarkan konvensi internasional dalam kondisi konflik dan perang, tetapi akibat blokade laut AS terhadap Iran, selat tersebut akhirnya ditutup sepenuhnya.
Selat sempit antara Iran dan Oman ini secara alami menjadi jalur transit seperlima minyak mentah dan gas alam cair dunia. Bank Dunia memperingatkan bahwa perang di Timur Tengah telah menyebabkan penurunan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, dan harga energi tahun ini rata-rata akan meningkat sekitar seperempat.
Para analis Oxford Economics meyakini bahwa mengembalikan ekspor minyak dari zona perang ke tingkat sebelum perang adalah proses yang sangat memakan waktu. Sebagai contoh, tiga tahun setelah Perang Teluk pada 1991, produksi minyak Irak dan Kuwait masih lebih dari 60 persen di bawah tingkat sebelum perang.
Dengan ditutupnya Selat Hormuz, kapal-kapal harus menempuh rute yang lebih jauh dan lebih mahal untuk mengangkut minyak, yang semakin memperburuk kenaikan harga. Bank Dunia memperkirakan dibutuhkan setidaknya enam bulan bagi transportasi laut melalui Selat Hormuz untuk kembali normal. Dalam rentang waktu tersebut, ekonomi global akan bergulat dengan guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Berapa Lama Pemulihan Ekonomi?
Pertanyaan kunci yang mengganggu pikiran banyak analis adalah: kapan ekonomi negara-negara yang terlibat perang (dan bahkan negara ketiga seperti Jerman) dapat kembali normal? Menurut analisis Oxford Economics, inflasi akibat perang Iran kemungkinan akan hilang sepenuhnya dua hingga tiga tahun setelah konflik berakhir. Namun, skenario paling optimistis menunjukkan bahwa bahkan dengan asumsi gencatan senjata segera terjadi, dampak psikologis dan gangguan logistik akan terus membelenggu ekonomi Jerman dan negara-negara Eropa lainnya setidaknya selama satu tahun ke depan.
Mengenai pemulihan pertumbuhan ekonomi, pengalaman perang sebelumnya menunjukkan bahwa negara-negara yang secara langsung terlibat dalam perang (seperti Iran sendiri) memerlukan program lima tahunan untuk mengatasi masalah ekonomi dan merekonstruksi infrastruktur. Sementara negara-negara yang hanya terkena dampak guncangan energi dapat pulih dalam waktu 18 hingga 24 bulan, dengan syarat perang tidak berkepanjangan.
Akar Semua Bencana
Harus dikatakan bahwa sumber dari semua krisis ini adalah aksi militer ilegal AS dan Israel terhadap Iran. Trump, yang membayangkan dengan kampanye militer singkat ia dapat menaklukkan Iran, kini menyaksikan sendiri ekonomi sekutunya di Eropa sedang runtuh. Bahkan negara-negara Arab di kawasan pun terperosok dalam rawa ini. UEA, meskipun keluar dari OPEC, masih menderita akibat penutupan Selat Hormuz. Arab Saudi, meskipun memiliki cadangan minyak sangat besar, tidak mampu mengekspor melalui rute alternatif dengan biaya yang wajar.
Menariknya, rezim Zionis sendiri juga tidak kebal dari perang ini. Para analis ekonomi Israel melaporkan bahwa biaya perang dan penghentian ekspor gas dari sumur bersama dengan kawasan telah membuat pertumbuhan ekonomi rezim tersebut menjadi negatif. AS juga, meskipun dengan propaganda kemenangan Trump, menghadapi gelombang inflasi baru. Para analis Wall Street memperkirakan inflasi di AS akan melebihi 4 persen, bahkan dengan asumsi gencatan senjata tercapai.
Perang Iran bukan hanya bencana bagi Timur Tengah, tetapi pukulan telak bagi ekonomi Eropa dan stabilitas global. Jerman tumbuh setengah persen, Italia tercekik inflasi, dan hanya Spanyol yang selamat berkat investasi energi terbarukan, sebuah pengecualian, bukan standar. Penutupan Hormuz telah melumpuhkan rantai pasok dunia, dan pemulihan diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun. Ironisnya, Trump yang mengira perang singkat akan memenangkan segalanya, kini justru menyaksikan sekutunya porak-poranda, ekonomi global merana, dan rakyat Amerika sendiri mulai merasakan inflasi yang tidak kunjung reda. Ini bukan kemenangan, ini kehancuran yang dirancang sendiri.(sl)