Revolusi Islam Iran dalam Narasi Foto
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i66149-revolusi_islam_iran_dalam_narasi_foto
Sejumlah foto yang sebagian besar hitam putih dan sedikit buram, berjajar teratur di dinding sebuah ruangan besar aula pameran. Orang-orang berdatangan dan menatap satu persatu foto itu dengan seksama. Foto ini menjadi saksi sejarah penting Iran modern, Revolusi Islam, yang terjadi empat dekade lalu.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Jan 03, 2019 16:03 Asia/Jakarta
  • Pameran foto tepi-tepi Revolusi
    Pameran foto tepi-tepi Revolusi

Sejumlah foto yang sebagian besar hitam putih dan sedikit buram, berjajar teratur di dinding sebuah ruangan besar aula pameran. Orang-orang berdatangan dan menatap satu persatu foto itu dengan seksama. Foto ini menjadi saksi sejarah penting Iran modern, Revolusi Islam, yang terjadi empat dekade lalu.

Sekitar sebulan menjelang peringatan kemenangan Revolusi Islam ke-40 digelar pameran foto karya dokumenter terkemuka Iran, Kamran Shirdel. 

Pameran foto dokumentasi yang dipajang sejak 30 November 2018 hingga 25 Januari 2019 ini mengusung tema "Tepi-tepi Revolusi". 

Foto-foto ini menjadi saksi sebuah peristiwa paling penting dan menentukan dalam lembaran sejarah kontemporer Iran. Revolusi Islam dii Iran termasuk revolusi yang khas di dunia, dan sampai saat ini masih menjadi perhatian dunia. Hingga kini berbagai karya dari buku, film hingga foto merekam perjalanan empat dekade kemenangan Revolusi Islam di Iran.

Foto-foto yang disajikan Kamran Shirdel tampak berbeda dari yang lain. Meskipun memotret satu fenomena yang mungkin juga dilakukan oleh fotografer lain, tapi Shirdel menyajikan "kejujuran dalam bercerita". dari satu foto ratusan bahkan ribuan kata bisa hadir menggambarkan apa yang terjadi ketika itu.

Duduk di samping karya-karya fotonya, jebolan Centro Sperimentale di Cinematografia, Roma ini memberikan kesempatan kepada para pengunjung untuk memberikan penilaian terhadap karya-karya fotonya. Pria berusia 80 tahun ini juga bersedia untuk berdialog dengan para pengunjung yang datang untuk menikmati jepretannya. Sutradara film dokumenter terkemuka Iran ini juga secara terbuka menyampaikan pengalaman dan perasaan yang dialaminya ketika memotret peristiwa penting yang terjadi tahun 1979 itu.

Seluruh karya foto Kamran Shirdel yang dipamerkan mengenai Revolusi Islam dibukukan dalam bentuk buku koleksi foto. Di ruangan pameran, ia juga melayani pengunjung yang meminta tanda tangannya.

Di sebuah foto tampak seorang berdiri di jalan dan seberangnya tiga orang mengenderai motor. Di foto lain, tampak beberapa kendaraan militer dan sejumlah tentara dengan senapan siap menembak sasaran. Foto lainnya  terlihat orang yang mengacungkan tangannya. Ada juga foto kendaraan yang dibakar, dan orang-orang yang berunjuk rasa di jalan. Semua ini menampilkan narasi mengenai protes rakyat menuntut perubahan besar ketika itu.

Foto lain menampilkan orang-orang yang berdemonstrasi dengan mengusung foto Imam Khomeini. Foto lainnya, menggambarkan para pengunjuk rasa yang melintasi jembatan Karim Khan Zan dengan membawa bendera hitam, dan sebagian gambar pedang zulfikar Imam Ali serta simbol lainnya yang menunjukkan perlawanan dan kekuatan.

Foto lain tentang masuknya Imam Khomeini ke Tehran, dan Behesti Zahra dan kerumunan orang menyambut beliau.     

Pameran foto Tepi-tepi Revolusi dalam jepretan Kamran Shirdel

Para pengunjung yang datang dari berbagai tempat di Iran ke pameran foto ini tenggelam menikmati satu-persatu foto yang dipajang di galeri Nabshi Center, Tehran.

Shirdel dengan sabar melayani pertanyaan dari beberapa orang yang bertanya tentang foto karyanya dan peristiwa di balik itu. Ketika ditanya, apakah ada pesan khusus yang akan disampaikan dari foto-foto dalam pameran tersebut, Shirdel mengatakan, "Saya tidak mengkhususkan foto ini untuk secara sengaja mempengaruhi para pengunjung, Tapi pastinya, foto ini memberikan pengaruh. Itu jelas saya kira,".

"Saya sendiri heran dan balik bertanya, apakah masih ada orang yang datang untuk melihat foto-foto Revolusi ? Tapi ternyata saya melihat sambutan yang baik dari para pengunjung. Dari tanya jawab dengan para pengunjung ada momentum menarik mengenai generasi muda yang tidak mengalami revolusi, tapi mereka penasaran dan mencari informasi mengenainya. Dengan foto ini sedikit banyak bisa bercerita tentang realitas sejarah tersebut," papar pria berusia 80 tahun ini.

Kamran Shirdel melayani para pengunjung pameran

Salah seorang pengunjung yang juga fotografer terkemuka Iran, Mohammad Farnoud memberikan penilaian tentang karya-karya foto Kamran Shirdel. Menurutnya, foto-foto hasil jepretan Shirdel tidak hanya menampilkan karya dokumentasi sejarah, tapi juga karya seni yang artistik. Tampaknya inilah yang membedakan antara karya Shirdel dengan para fotografer lain mengenai Revolusi Islam Iran.

Foto-foto yang dipasang ruangan pameran

Kamran Shirdel terlahir tahun 1939 di Tehran. Di usia muda, ia menempuh pendidikan arsitektur dan urban di Universitas Roma. Tapi karena ketertarikannya yang besar terhadap dunia sinema, Shirdel mengikuti ujian masuk studi film di Centro Sperimentale di Cinematografia,  Rome hingga lulus di tahun 1964. Ia bekerja sebagai asisten sutradara John Huston di Roma. Dia  kembali ke Iran dan memulai karirnya di tahun 1965.

Shirdel adalah pendiri dan sutradara Festival Film Dokumenter Internasional Kish, yang diadakan setiap tahun di Pulau Kish di Teluk Persia. Sejumlah film yang dihasilkannya antara lain: Nedamatgah (Women's Prison), Qal'eh, Tehran is the Capital of Iran 1966 - 1980, The Night It Rained The Morning of the Fourth Day (Sobh-e Rooz-e Chaahaarom), dan Solitude Opus 1 (2002).

Selain itu, sutradara film dokumenter terkemuka Iran ini menghasilkan ratusan film pendek dan panjang yang sebagian sudah ditayangkan di berbagai festival film internasional di sejumlah negara.

Kamran Shirdel di salah satu wawancaranya mengungkapkan, "Di dunia dokumentasi dan sinema, cara pandang adalah tanda tangan sutradara. Oleh karena itu, di dunia sinema saat ini ketika kita melihat kepingan sebuah film penting dari sutradara terkemuka, kita akan segera tahu siapa sutradaranya,".

salah satu foto hasil jepretan Shirdel

"Dari kehidupan ini saya belajar, jika tidak peka, maka akan kehilangan kesempatan. Dosen saya di universitas Roma mengatakan, film dokumenter tidak ada pelajarannya. Oleh karena itu, bisa saja dipelajari dalam waktu 10 menit, tapi sisanya adalah pengalaman dan mengenali kehidupan. Saya meyakini pendapat tersebut," tutur Shirdel dalam pernyataannya.

Mengenai pameran foto tepi-tepi Revolusi, Kamran Shirdel mengutip pernyataan sutradara film dokumenter terkemuka Italia, Michelangelo Antonioni yang mengatakan, "Saya bukan sosiolog, juga bukan politikus. Saya hanya seorang yang ingin menggambarkan tentang masa depan bagi saya sendiri,".(PH)