Revolusi Islam dan Harapan Masa Depan
https://parstoday.ir/id/radio/other-i67309-revolusi_islam_dan_harapan_masa_depan
Pakar sejarah, Crane Brinton dalam bukunya The Anatomy of Revolution percaya bahwa semua revolusi akan bernasib sama. Selama euforia dan semangat revolusioner masih bersemanyam dalam diri masyarakat, revolusi akan bergerak maju dan mencapai puncaknya, kemudian euforia dan semangat ini secara perlahan berkurang dan dalam kasus tertentu muncul sentimen anti-revolusi, revolusi kemudian akan jatuh dan terperosok.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Feb 06, 2019 19:49 Asia/Jakarta
  • Pawai merayakan hari kepulangan Imam Khomeini ra dari tempat pengasingan di Paris. (Dok/1 Februari 2019)
    Pawai merayakan hari kepulangan Imam Khomeini ra dari tempat pengasingan di Paris. (Dok/1 Februari 2019)

Pakar sejarah, Crane Brinton dalam bukunya The Anatomy of Revolution percaya bahwa semua revolusi akan bernasib sama. Selama euforia dan semangat revolusioner masih bersemanyam dalam diri masyarakat, revolusi akan bergerak maju dan mencapai puncaknya, kemudian euforia dan semangat ini secara perlahan berkurang dan dalam kasus tertentu muncul sentimen anti-revolusi, revolusi kemudian akan jatuh dan terperosok.

Lalu, apakah Revolusi Islam – setelah usia 40 tahun – juga akan bernasib seperti itu dan tidak ada harapan akan masa depan?

Dewasa ini, para analis dan peneliti lebih menyoroti masalah nasib dan masa depan Revolusi Islam ketimbang sejarah Revolusi Islam itu sendiri. Masa depan Revolusi Islam tidak akan lepas dari tiga kemungkinan berikut: pertama, semangat revolusioner mungkin akan hilang dan gerak revolusi melenceng dari jalurnya, kedua ia mungkin akan bubar karena faktor dari luar dan intervensi kekuatan besar, dan ketiga revolusi akan terus eksis dan meneruskan jalannya mencapai kemajuan.

Kemungkinan ketiga lebih bisa diterima berdasarkan bukti-bukti dan fakta saat ini. Tujuan Revolusi Islam adalah mewujudkan peradaban Islam dan tujuan ini akan terus menumbuhkan harapan dan semangat revolusioner di tengah masyarakat Muslim untuk menuju ke arah sana.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa Islam adalah kandidat terkuat untuk membangun peradaban masa depan, dan saat ini Revolusi Islam adalah satu-satunya perwakilan Islam hakiki.

Revolusi Islam merupakan bagian dari kebangkitan Ilahi yang dipelopori oleh para nabi. Dapat dikatakan Revolusi Islam dilakukan untuk menyadarkan manusia dan menyeru mereka kembali ke nilai-nilai agama. Menurut para ilmuwan Barat, Revolusi Islam adalah tanda-tanda dari kembalinya kehidupan yang berketuhanan atau beragama.

Bapak Pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini ra percaya bahwa kebangkitan bangsa Iran terjadi karena "Tangan Kuasa Tuhan" dan manusia tidak mampu melakukan ini, karena kebangkitan seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Tangan kuasa Tuhan telah membangkitkan bangsa ini.

Dalam hal ini, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Revolusi ini tidak akan gagal, revolusi ini tidak akan redup, dan revolusi ini tidak akan terhenti dari gerakannya, karena masyarakat kita adalah sebuah masyarakat yang mukmin dan agamais, agama dan iman telah menancap di sanubari mereka. Masyarakat benar-benar meyakini agama."

Ayatullah Khamenei menyebut 40 tahun revolusi sebagai fase matang dan berkembang. "40 tahun usia revolusi bukanlah masa tua revolusi, bukan era kemunduran revolusi, ini adalah era kematangan dan kesegaran revolusi. Segala puji bagi Allah Swt, revolusi di usianya yang ke-40 tahun melangkah maju dengan kekuatan, menjaga slogan-slogannya, dan mengibarkan panji-panjinya."

Sejauh ini, konspirasi yang dirancang oleh musuh-musuh Revolusi Islam belum mampu melencengkan revolusi ini dari cita-citanya atau memaksanya tunduk pada tatanan dunia saat ini.

Jika kekuatan-kekuatan dunia kala itu mampu membajak Revolusi Islam dan memaksanya tunduk pada mereka, tentu perkembangan Islam di dunia telah terhenti. Tentu saja Islam tidak bergantung pada Revolusi Islam, tetapi peran Republik Islam Iran dalam kemajuan Islam di dunia tidak bisa dipungkiri.

Ada banyak revolusi yang terjadi di dunia, tetapi Revolusi Islam Iran merupakan sebuah revolusi religius dan istimewa, dan menurut ungkapan Imam Khomeini, Revolusi Islam berbeda dengan semua revolusi di dunia.

Revolusi ini telah menyita perhatian dari para pakar dan kaum revolusioner dunia. Televisi BBC dalam sebuah program dokumenter menyebut pengaruh revolusi Iran lebih jauh dari yang dibayangkan.

"Apa yang terjadi di Iran pada 1979 bukan hanya untuk rakyat Iran, tetapi sebuah titik balik bagi semua agama di dunia yang mengabarkan kembalinya jutaan orang di seluruh dunia kepada agama. Para penganut agama-agama lain di dunia seperti Kristen, Yahudi, dan Hindu juga kembali ke prinsip-prinsip agama, bahkan di Turki yang terlibat perang dengan agama selama 70 tahun, proses kembali kepada prinsip-prinsip agama berjalan cepat," kata siaran BBC.

Dari waktu ke waktu, musuh-musuh revolusi dan kekuatan arogan terus meningkatkan upayanya untuk menumbangkan Revolusi Islam, tetapi mereka tidak memperoleh hasil apapun.

Seorang peneliti Yahudi, Moshe Feiglin dalam sebuah analisanya berkata, "Amerika Serikat dengan kekuatan militer dan ekonomi, dan Eropa dengan semua kebijakan yang cerdik dan misteriusnya, tidak memiliki kemampuan untuk melawan penyebaran Islam. Ini sebuah fakta bahwa Islam dalam waktu dekat akan menjadi penentu di Barat."

Upaya menghidupkan Islam di zaman sekarang – di bawah panji Revolusi Islam – tidak hanya dilakukan di dunia ketiga atau negara-negara miskin, tetapi juga di negara-negara Eropa dan Amerika.

Meski tidak ada angka pasti tentang jumlah warga yang pindah ke agama Islam di Eropa, namun otoritas yang bertugas mengendalikan populasi Muslim Eropa, memperkirakan bahwa ribuan pria dan wanita memilih Islam setiap tahunnya. Surat kabar The Daily Telegraph dalam sebuah laporan mengenai populasi Muslim di negara-negara Eropa menyatakan bahwa seperlima penduduk Eropa akan menjadi Muslim pada 2050.

Kekuatan hegemoni telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membangun apa yang mereka sebut pagar besi di sekeliling Iran dan mengisolasi Revolusi Islam. Namun, Iran justru sukses mengembangkan hubungannya dengan negara-negara dunia dan bahkan tampil sebagai pemain kunci di beberapa daerah.

Republik Islam Iran bergerak ke arah pembangunan peradaban baru Islam dan mengejar kemajuan di berbagai bidang sehingga bisa mendukung peradaban besar ini.

Iran memulai terobosan untuk mencapai sains dan teknologi modern selama dua dekade terakhir. Negara ini melakukan investasi besar-besaran di ranah teknologi strategis seperti sel punca, energi terbarukan, bioteknologi, teknologi mikro-elektronika, antariksa, nanoteknologi, kedokteran, tanaman obat, dan bidang-bidang lain.

Langkah tersebut telah mendorong kemajuan Republik Islam di berbagai bidang dan saat ini nama Iran bersanding dengan negara-negara top dunia di bidang ilmu strategis.

Berdasarkan laporan Nature Index Institute pada 24 Januari 2018, Republik Islam Iran telah membuat lompatan besar di bidang sains dan teknologi dengan tingkat pertumbuhan tahunan 22%. Angka ini menempatkannya di urutan pertama dunia.

Meskipun menghadapi kondisi sulit sanksi, namun pencapaian Revolusi Islam di berbagai bidang telah memberikan harapan yang cerah kepada masyarakat, dan menjelang ulang tahunnya yang ke-40, Republik Islam tetap bergerak di jalurnya  mencapai cita-cita Revolusi Islam 1979. (RM)