Proyek Pengaruh AS di Irak; Dengan kedok NGO (2)
https://parstoday.ir/id/radio/other-i82334-proyek_pengaruh_as_di_irak_dengan_kedok_ngo_(2)
Baru-baru ini, masalah "organisasi non-pemerintah" atau NGO telah menjadi salah satu masalah yang paling penting, kontroversial atau mengkhawatirkan di berbagai kalangan pemerintah dan non-pemerintah.
(last modified 2026-04-05T11:58:22+00:00 )
Jun 15, 2020 09:31 Asia/Jakarta
  • Protes dan Kerusuhan di Irak (dok)
    Protes dan Kerusuhan di Irak (dok)

Baru-baru ini, masalah "organisasi non-pemerintah" atau NGO telah menjadi salah satu masalah yang paling penting, kontroversial atau mengkhawatirkan di berbagai kalangan pemerintah dan non-pemerintah.

Yang mengkhawatirkan dalam masalah ini adalah dampak dan pengaruh sejumlah kekuatanglobal dalam mengorganisir organisasi ini. Oleh karena itu, banyak cendikiawan, PBB, lembaga pemerintah dan non pemerintah yang menekankan pentingnya memperhatikan isu ini mengingat kapasitas dan dampaknya serta ancaman bagi keamanan nasional berbagai negara serta posisi budaya, sosial dan politik mereka.

Menurut para pakar, sebagian kekuatan hegemoni global seperti Amerika mengorganisir kerusuhan di berbagai negara dunia demi mensukseskan ambisinya melalui suntikan dana ke berbagai kelompok serta menciptakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Hal ini telah ditekankan George Soros beberapa tahun lalu dan pemerintah AS dengan mendefinisikan organisasi seperti Yayasan Pembela Demokrasi, bertanggung jawab merekrut anggota dan mengorganisirnya.

Protes di Lebanon

Metode ini juga sempat digunakan terhadap Iran. Pembentukan lebih dari 500 organisasi sipil dan pemuda di organisasi kepemudaan juga berkaitan dengan hal ini di mana peran mereka di kerusuhan dan fitnah tahun 1388 Hs dan 1396 Hs tidak dapat dipungkiri. Penangkapan sejumlah agen spionase Barat dan Israel berkaitan dengan hal ini.

Protes dan kerusuhan baru-baru ini di Irak dan Lebanon juga dapat dipertimbangkan dalam hal ini. Struktur kedua negara serupa, dan ini adalah struktur yang ditetapkan untuk mereka oleh kekuatan kolonial. Di Lebanon, kolonialisme Prancis telah mendefinisikan struktur, dan di Irak, pemerintah AS telah memberlakukan struktur saat ini pada rakyat. Dalam kedua struktur itu, tujuannya adalah agar pemerintah menjadi perusahaan saham gabungan.

Arus struktur ini, yang didasarkan pada etnisisme, berpartisipasi dalam pemerintahan dan dipaksa untuk saling bertoleransi. Kedua negara didefinisikan dalam persamaan regional sebagai aktor penting dan berwawasan ke depan yang secara fundamental menentang rezim Zionis dan Amerika Serikat dan memiliki kecenderungan yang kuat terhadap poros perlawanan. Itulah sebabnya hegemoni global seperti Amerika Serikat berusaha mengejar tujuan mereka di negara-negara ini dengan kedok organisasi non-pemerintah. Oleh karena itu, peran organisasi ini di aksi demo dan kerusuhan dua tahun lalu sangat jelas.

Yang sangat kentara di protes dua negara ini adalah partisipasi pemuda 17-25 tahun di aksi protes. Pemuda yang sejatinya tidak menyaksikan pembantaian massal perang saudara Lebanon atau perang sektarian dan juga tidak menyaksikan kejahatan rezim Saddam Husein di Irak di mana hukuman paling ringan bagi pengritik pemerintah adalah potong lidah.

Apa yang dapat disaksikan di dua negara iin adalah tidak adanya pemimpinya nyata di aksi protes dan prospeknya. Pemuda berduyun-duyun dan tumpah ke jalan-jalan menyuarakan tuntutannya, namun tidak memiliki prospek yang jelas untuk selanjutnya. Demonstran menuntut pemberantasan korupsi dan pembubaran pemerintah, namun tidak memberi solusi serta sistem penggantinya.

Analisa terkait peristiwa dan akar di kedua negara ini menunjukkan jejering sosial memainkan peran unggul dalam mengorganisir aksi kerusuhan. Sejatinya organisator aksi protes adalah organisasi kemasyarakatan dan dengan kata lain, organisasi non pemerintah di mana jumlahnya di setiap negara hanya beberapa persen. Organisasi yang sejak lama dibentuk oleh negara-negara Barat khususnya Amerika untuk merekrut individu di tengah masyarakat ini.

Organisasi seperti ini kerap menggelar periode pelatihan di luar negeri dengan dukungan finansial besar dari negara Barat khususnya Amerika. Di setiap kedua negara ini organisasi kemasyarakatan berusaha memperluas domain protes dan mempertahankannya untuk waktu yang lama dengan menyediakan berbagai fasilitas seperti makanan, tenda dan lainnya serta suntikan dana.

Serangan ke instansi dan gedung pemerintah serta diplomatik dan bahkan membakarnya serta laporan dan beragam dokumen terkait penggunaan senjata oleh demonstran yang diklaim tidak melakukan kekerasan tidak menyisakan keraguan bahwa gerakan ini di balik slogan penipuannya memiliki esensi politik sebagai bagian dari proyek pengaruh dan rencana baru di kawasan.

Serangan ke pusat Hashd al-Shaabi serta teror sebagian pemimpin gerakan muqawama ini di mana keamanan Irak berhutang banyak kepada mereka juga dapat dianalisas di koridor ini.

Berbagai sumber independen, bersamaan dengan kerusuhan di Lebanon, melihat Irak sebagai kebangkitan baru bagi Amerika Serikat dan mitranya sebagai upaya terakhir untuk mengacaukan tatanan baru kawasan itu dengan menggunakan warisan herediter neoliberal Sharp dan dengan kerja sama LSM lokal serta satelit Institut Albert Einstein di negara-negara target.

Gene Sharp dikenal sebagai bapak revolusi berwarna Amerika. Meskipun hampir dua tahun telah berlalu sejak kematiannya pada usia 90, jejak cara berpikirnya, yang dirancang untuk membongkar struktur "negara-bangsa" dari negara-negara independen dari Barat di lembaga think tank di Washington dan Tel Aviv, masih dapat dilihat.

Meskipun penolakan terus-menerus dari Sharp dan rekan-rekannya di Albert Einstein Institute bahwa mereka tidak memiliki rencana khusus untuk kerusuhan, revolusi atau perubahan rezim dalam tiga dekade terakhir di Eropa Timur, Timur Tengah dan Afrika Utara, Asia dan Kaukasus dan Amerika Latin, tetapi kemudian Sejak kematiannya pada 1 Januari 2018 di Massachusetts, media seperti Guardian dan Huffington Post menggambarkannya sebagai inspirasi untuk apa yang disebut Musim Semi Arab dan Revolusi Berwarna. Revolusi di mana peran organisasi non-pemerintah tidak dapat disangkal. Tren ini berlanjut hari ini.

Sekaitan dengan ini, sebuah aktivis media di akun pribadinya menulis, "Di laporan tersembunyi aksi kerusuhan di Irak, kami menyaksikan NGO yang mayoritasnya dicatat di Amerika dan sejak lama aktif di Irak dalam bentuk bantuan kemanusiaan dan jejaring sosial di Irak, namun dalam beberapa bulan terakhir mereka mengubah metodenya dan mempersiapkan dua jalur utama kerusuhan yakni melemahkan pasukan muqawama Irak dan Iranphobia."

Ia menambahkan, "Di sisi lain, kita menyaksikan kelompok NGO lainnya yang memiliki akses ke fasilitas intelijen dan keamanan lebih besar dari sebuah LSM. Para pendukung NGO ini sepertinya USAID."

Dinas keamanan Irak di laporannya mengisyaratkan meletusnya aksi protes diawali dengan seruan di internet dan kemudian pengorganisiran kerusuhan di dunia maya serta menekankan peran sejumalh pemuda yang menjadi anggota IYLEP (Iraqi Young Leaders Exchange Program).

Fakta ini beberapa waktu lalu dikuak oleh Daniel McAdams, direktur eksekutif Yayasan Ron Paul, sebuah organisasi dibawah kelompok senator Republik anti Trump. Ia mengakui, CIA terlibat di sejumlah instabilitas dan kerusuhan sosial di Asia Barat.