Pergulatan Dunia Mencari Vaksin Covid-19
-
Ilustrasi perusahaan-perusahaan pengembang vaksin Corona.
Virus Corona sudah mewabah di dunia sejak Desember 2019 dan sejauh ini jumlah orang yang terinfeksi mencapai lebih dari 106 juta jiwa, di mana 2,3 juta lebih di antaranya meninggal dunia.
Sejak awal pandemi Covid-19 di dunia, perusahaan-perusahaan raksasa farmasi mulai melakukan penelitian dan pengujian vaksin Corona. Saat ini beberapa perusahaan farmasi dalam dan luar negeri telah mengumumkan proses produksi vaksin dan memasuki tahap uji klinis. Namun, komunitas medis masih belum menyetujui penggunaan beberapa vaksin karena risiko dan efek sampingnya.
Pembuatan dan vaksinasi bukan hanya masalah komersial, tetapi merupakan sebuah masalah vital. Dunia menghadapi sebuah virus baru dari keluarga virus Corona yang disebut Covid-19, dan virus ini masih memiliki banyak misteri yang belum tersingkap.
Beberapa bulan lalu, Kementerian Kesehatan Rusia mendaftarkan vaksin Corona pertama di dunia dengan nama Sputnik V. Vaksin ini dikembangkan di Gamaleya Research Institute Moskow dan menjalani tahap ketiga uji klinis di Belarus, Uni Emirat Arab, Venezuela, dan negara-negara lain.
Studi terperinci tentang vaksin Corona Rusia menunjukkan tingkat efektivitasnya mencapai 96 persen. Para peneliti mengatakan, keamanan vaksin Sputnik V lima kali lebih stabil dibandingkan vaksin serupa seperti vaksin Pfizer dan memberikan kekebalan hingga 96 persen dari penularan virus Corona.
Sputnik V adalah vaksin vektor berbasis dua jenis virus (kelompok adenovirus) yang menyebabkan flu pada manusia. Vektor adalah virus rekayasa yang kekurangan gen untuk reproduksi. Setelah disuntikkan ke dalam tubuh manusia, vektor yang mengandung gen coronavirus akan memicu produksi protein lonjakan virus Corona tanpa benar-benar menginfeksi tubuh, sehingga membangun kekebalan terhadap virus.
Mengenai vaksin Sputnik V, Direktur Gamaleya Research Institute Moskow, Alexander Gintsburg mengatakan, “Pada orang-orang yang divaksinasi, Covid-19 lebih mungkin muncul dalam bentuk pilek, batuk, dan demam ringan, dan virus tidak akan masuk ke paru-paru.”
Lebih dari 50 negara telah mengajukan pembelian total 1,2 miliar dosis vaksin Sputnik V, dan vaksin ini diharapkan juga akan diproduksi di Brasil, Cina, Korea Selatan, India, dan negara-nelara lain.
Iran telah menerima pengiriman pertama vaksin Corona Rusia pada 4 Februari lalu. Badan Pengawas Obat dan Makanan Iran telah mengeluarkan izin penggunaan darurat untuk vaksin Sputnik V. Menurut keterangan Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, vaksin Sputnik V Rusia telah terdaftar di lebih dari 16 negara, termasuk Iran. Berdasarkan kesepakatan yang dicapai dengan Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), vaksin Sputnik V juga akan diproduksi bersama di Iran.
Di Eropa, Hongaria adalah negara pertama yang mengeluarkan izin darurat untuk penggunaan vaksin Corona Rusia. Menurut data resmi, lebih dari 1,5 juta orang di seluruh dunia telah divaksinasi dengan vaksin Sputnik V. Argentina dan Uni Emirat Arab termasuk di antara 11 negara yang menyetujui penggunaan massal vaksin tersebut.
Kanselir Angela Merkel juga mengusulkan kepada Institut Penelitian Vaksin Paul Ehrlich Jerman agar mendukung vaksin Rusia. Menurutnya, lembaga penelitian Paul Ehrlich dapat membantu Rusia dalam proses persetujuan vaksin Sputnik miliknya, setelah itu Rusia dan Jerman dapat mendiskusikan produksi dan penggunaan bersama vaksin ini.

Rusia telah mengumumkan kesiapannya untuk memasok 100 juta dosis vaksin Sputnik V ke Uni Eropa. Rusia bahkan telah mengajukan izin kepada Badan Pengawas Obat-obatan Eropa (EMA) setelah hasil vaksin ini terbukti efektif. Vaksin Sputnik V menunjukkan efektivitas 91,4 persen 28 hari setelah penyuntikan dosis pertama.
Di pihak lain, vaksin Pfizer-BioNTech yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Amerika, Pfizer dan BioNTech Jerman, vaksin Moderna yang diproduksi oleh perusahaan bioteknologi Amerika, dan vaksin Oxford-AstraZeneca hasil kerja sama Inggris dan Swiss, telah melakukan promosi besar-besaran dalam beberapa bulan terakhir.
Sekarang para peneliti mengatakan bahwa mereka kesulitan untuk menyimpulkan tentang berapa lama vaksin yang diproduksi oleh perusahaan Amerika Pfizer dan BioNTech Jerman, akan memberikan perlindungan kepada tubuh manusia.
Sebuah survei yang dilakukan oleh Kaiser Family Foundation (KFF) menemukan bahwa 29 persen tenaga kesehatan di Amerika menolak penggunaan vaksin Pfizer-BioNTech.
Salah satu pakar vaksin Iran, Dr. Gholamreza Shokri mengatakan tentang penyebab ketidakpercayaan tersebut bahwa efek samping berbahaya dari vaksin Pfizer dan AstraZeneca sudah terbukti. Vaksin ini mungkin memberikan kekebalan relatif pada tubuh, tetapi tidak jelas perubahan biologis apa yang akan terjadi dalam tubuh setelah beberapa lama dari penyuntikan vaksi ini.
“Dunia telah mencoba membuat vaksin untuk virus AIDS selama bertahun-tahun. Menurut Anda, mengapa mereka belum berhasil sampai sekarang? Karena ini adalah sebuah proses yang panjang dengan banyak ujian dan kesalahan,” tambahnya.
Sejumlah laporan resmi menunjukkan bahwa perusahaan Pfizer pernah melakukan pelanggaran terbesar dalam sejarahnya. Menurut situs resmi Departemen Kehakiman AS, perusahaan Pfizer melakukan 10 pelanggaran terkait pelayanan medis dalam 21 tahun terakhir, termasuk mempromosikan produk yang belum ada izinnya.
AstraZeneca, sebuah perusahaan Swedia-Inggris juga tersangkut dalam beberapa kasus pelanggaran. Pelanggaran besar perusahaan ini adalah mempromosikan penjualan obat-obatan yang tidak memiliki izin.
Ketidakpercayaan terhadap vaksin yang diproduksi oleh negara tertentu di tengah situasi genting saat ini, dapat dimengerti. Di Iran sendiri, Kementerian Kesehatan mengandalkan kemampuan dalam negeri untuk menyediakan vaksin Corona.
Namun karena situasi darurat, Iran juga mengambil langkah untuk menyediakan vaksin Corona dalam jumlah terbatas dari sumber yang dapat dipercaya dengan memperhatikan aspek keamanan dan efektivitas, sampai vaksin yang benar-benar aman dan efektif dapat diproduksi di dalam negeri atau tersedia secara global.
Saat ini, sembilan proyek pembuatan vaksin Corona sedang melakukan tugasnya di Iran dan beberapa vaksin telah memasuki tahap uji klinis. Fase pertama uji klinis vaksin Coviran Barakat dilakukan pada 29 Desember 2020 terhadap relawan. Vaksin Corona kedua Iran yang dinamai Razi Cov Pars juga mulai memasuki tahap uji klinis. Vaksin produksi bersama antara Iran dan Kuba juga siap melakukan uji klinis.
Menteri Kesehatan Iran Saeed Namaki mengatakan, perusahaan-perusahaan berbasis sains Iran terus berusaha memproduksi vaksin Corona dengan berbagai metode efektif, dan sampai sekarang telah dihasilkan dua vaksin yaitu COV Iran Barkat dan Razi Cov Pars.
Sementara itu, Wakil Presiden Iran Bidang Sains, Sorena Sattari mengatakan, Iran sekarang mampu memproduksi berbagai jenis vaksin Corona baik dengan virus yang sudah dilemahkan maupun dengan metode mRNA. (RM)