Imam Jawad as; Manifestasi Kedermawaan Ilahi
-
Imam Jawad as
Hari kesepuluh bulan Rajab dihiasi dengan kelahiran yang diberkati. Pada hari ini di tahun 195 HQ, Imam Muhammad Taqi as lahir di kota Madinah. Beliau dikenal denganpanggilan Jawad yang mengingatkan kebaikan dan kedermawanannya.
Jawad adalah salah satu nama yang paling indah dari Allah Swt yang berarti pemberian tanpa berharap sedikitpun dan memberi sebelum diminta. Kedermawanan luar biasa dan senantiasa. Dia tidak menerima apa pun sebagai balasan atas pemberian dan setelah memberi. Dia tidak meminta apa pun, sementara Dia memberikan yang sama antara mereka yang taat atau berbuat dosa. Nama Ilahi ini telah sepenuhnya memanifestasikan dirinya dalam diri Imam Muhammad Taqi as dan mengungkap pemberian serta kedermawanan Allah Swt. Karena itu, siapa pun yang berusaha untuk memperoleh pengetahuan dan memiliki berkah dalam harta dan kehidupan, jika dia menyebut nama beliau, tidak diragukan lagi akan membawa berkah bagi hidupnya.
Imam Ridha as berkali-kali berkata kepada sahabat dan orang-orang dekatnya, "Ini adalah putraku. Tidak ada pecinta kami yang dilahirkan lebih berkah darinya. Ibnu Asbath dan Abbad bin Ismail dua orang dari sahabat Imam Ridha as menukil bahwa suatu hari kami berada bersama Imam Ridha as. Beliau menunjukkan Muhammat Taqi as yang masih bayi. Kami bertanya, "Apakah ini bayi yang dilahirkan penuh kebaikan dan berkah?" Beliau menjawab, " Iya. Inilah bayi dilahirkan dan tidak ada bayi yang dilahirkan penuh berkah selainnya dalam Islam."
Tentu saja bahwa seluruh Imam Maksum as penuh berkah bagi para pecinta Ahlul Bait as, tapi mengapa Imam Ridha as menyebutnya sebagai paling berkah? Itu kembali pada kondisi khusus periode itu. Masa itu adalah periode khusus, dimana Imam Ridha as menghadapi kesulitan untuk menentukan penggantinya sebagai imam pengganti dirinya, dan hal itu tidak dihadapi oleh para Imam as sebelumnya.
Pasca gugur syahid Imam al-Kazhim as, sebuah kelompok yang kemudian dikenal sebagai Waqifiah mengingkari keimamahan Imam Ridha as atas dasar motif material. Di sisi lain, dalam banyak hadis yang diriwayatkan lewat jalur Ahli Sunnah dan Syiah dinukil dari Nabi Muhammad Saw bahwa para Imam berjumlah dua belas orang dan sembilan orang dari mereka berasal dari keturunan Imam Husein as. Oleh karenanya, tidak ada anak bagi Imam Ridha as membuat keimamahan beliau dan begitu juga terkait kelanjutan Imamah dipertanyakan.
Aliran Waqifiah menjadikan masalah ini sebagai dasar akidah sesatnya dan mengingkari keimamahan Imam Ridha as. Mereka berkata kepada beliau, "Bagaimana mungkin engkau menjadi Imam, padahal engkau tidak memiliki anak!" Imam Ridha as menjawab pertanyaan mereka, "Dari mana kalian mengetahui bahwa aku tidak akan punya anak? Demi Allah! Tidak lama hari itu akan tiba dimana Allah Swt memberikan aku rezeki anak laki-laki dan dirinya akan menjadi pemisah antara kebenaran dan kebatilan."
Apa yang dijanjikan Imam Ridha as terwujudkan pada tanggal sepuluh bulan Rajab tahun 195 Hijriah Qamariah dan Imam Kesembilan menginjakkan kakinya ke dunia. Ketika Imam Jawad lahir ke dunia, Imam Ridha as berkata, "Allah Swt menganugerahkan anak kepadaku yang menyerupai Musa bin Imran as yang membelah laut dan seperti Isa bin Maryam as yang ibunya disucikan oleh Allah Saw dan menciptakannya dalam kondisi suci dan mensucikan."
Imam Jawad as saat menggantikan ayahnya Imam Ridha as sebagai pemimpin umat Islam masih berupa anak berusia delapan tahun. Masalah ini juga membuat banyak orang meragukannya. Padahal Imam dalam kondisi bagaimanapun juga adalah Imam, baik itu anak yang berusia sehari. Masalahnya sama seperti yang terjadi pada Nabi Isa as. Bani Israil bertanya kepada Sayidah Maryam as, "Bagaimana kami berbicara dengan bayi yang baru berusia sehari?" Tiba-tiba Nabi Isa as berkata, "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup." (Maryam, 19: 31)

Usia muda Imam Jawad as telah membawanya untuk terus-menerus terkena berbagai ujian dan diundang ke diskusi ilmiah dan debat filosofis berat. Musuh-musuhnya berusaha membentuk tempat-tempat debat untuk menghadapkan Imam Jawad dengan para ilmuan besar, sehingga mungkin saja beliau tidak mampu menjawab sebagian pertanyaan yang diajukan kepadanya. Tetapi diskusi-diskusi ini justru mengungkap khazanah yang sangat besar dari ilmu Imam Jawad as, yang merupakan tanda nyata dari keimamahan mereka. Dengan cepat cahaya ilmu Imam Jawad as menyebar dari Madinah hingga Khorasan dan Mesir serta seluruh masyarakat Islam mengetahuinya. Ini juga menyebabkan para penguasa Abbasiah memindahkan beliau dari Madinah ke Baghdad, pusat kekhalifahan mereka.
Suatu hari, Makmun, Khalifah Abbasiah melewati lorong tempat anak-anak bermain sebelum melakukan kunjungan resminya ke Imam Jawad as. Anak-anak yang menyaksikan Makmun dan para penjaganya merasa takut dan langsung lari. Imam Jawad as yang berada di antara anak-anak itu berdiri di tempatnya tanpa kehilangan martabat dan ketenangannya. Makmun mendatangi beliau dan bertanya kepadanya, "Mengapa kamu tidak melarikan diri seperti anak-anak lain? Mengapa kamu tidak minggir dari jalan kami?"
Imam Jawad as menjawab, "Wahai Khalifah! Jalan tidak sempit, sehingga aku harus membuka jalan untukmu. Saya juga tidak melakukan kesalahan, sehingga harus lari darimu. Saya juga tidak berpikir Anda orang yang menghukumi orang lain yang tidak bersalah!"
Makmun semakin heran dan berkata, "Siapa namamu?" Imam menjawab, "Muhammad." Makmun bertanya, " Siapa ayahmu?" Imam berkata, "Ali bin Musa."
Mendengar itu, Makmun menggerak-gerakkan kepalanya dan menjauhi tempat itu. Ketika ia sampai di padang pasir, ia ada burung di langit yang menarik perhatiannya. Ia mengirim burung elang untuk memburu burung tersebut dan setelah beberapa waktu burung elangnya kembali. Di paruhnya ada ikan kecil yang masih hidup! Makmun kembali merasa heran. Bagaimana burung elang membawa mangsanya berupa ikan kecil dari udara. Ia mengambil ikan kecil itu dan kembali ke tempat dimana anak-anak tadi bermain. Anak-anak yang melihatnya kembali melarikan dirinya, kecuali Imam Jawad as.
Makmun berkata, "Wahai Muhammad! Coba katakan apa yang ada di tanganku?" Imam Jawab menjawab, "Allah Swt menciptakan sejumlah laut, dimana awan naik ke udara melewatinya dan ikan-ikan yang sangat kecil bersama awan naik ke atas dan burung-burung elang pemburu para raja memburunya, lalu raja menyembunyikannya di tangannya, sehingga dengan itu ia ingin menguji keturunan Nabi."
Makmun semakin terkejut akan keluasan ilmu dan logika dari keturunan Nabi Saw dan sekalipun dari dalam hatinya ia tidak rela, tapi lisannya terbuka menyampaikan pujian kepada Imam Jawad as dan berkata, "Engkau benar dan ayah serta Tuhanmu selalu berkata benar."

Imam Jawad as secara politis berada dalam situasi yang sulit. Tetapi, seperti para imam lainnya, beliau tidak bungkam menghadapi penindasan penguasa Bani Abbasiah dan berbicara kebenaran bahkan dalam kondisi yang paling sulit bagi rakyat. Beliau luar biasa biasa dalam mengungkapkan realitas sosial dan politik. Karena alasan ini, Makmun menempatkan putrinya "Umm al-Fadhl" sebagaiistri Imam Javad as untuk mengendalikan beliau. Dengan melakukan itu, ia dapat mengontrol aktivitas Imam Jawad as di rumah, sekaligus ingin menghubungkan Imam dengan gemerlap tahta sucinya, agar orang-orang meragukan kesucian Imam Jawad as.
Ketika dilaksanakan acara untuk merayakan pernikahan Imam, Makmun membawa seseorang untuk bermain musik dan bernyanyi. Tetapi ketika ia memulai pekerjaannya, Imam Jawad as berseru kepadanya, "Takutlah kepada Allah!" Orang itu begitu ketakutan mendengar suara Imam yang penuh wibawa, sehingga alat musiknya jatuh dari tangannya, sehingga selama hidupnya ia tidak pernah bisa menggunakan tangannya untuk bermain musik.
---
Tentu saja, Ma'mun berusaha agar putrinya memiliki seorang putra, dan ia akan menjadi kakek dari seorang anak yang akan menjadi generasi Nabi dan Ali ibn Abi Thalib (AS). Tapi itu sangat memuji sehingga Ma'moun tidak menginginkannya, dan putri Ma'mun tidak pernah melahirkan, dan putra-putra Imam Jawad (AS) semuanya lahir dari seorang wanita yang tampan dan terhormat bernama Samana Warbariya.

Sekali lagi selamat atas kelahiran Imam Jawad as, kami akan mengakhiri artikel ini dengan potongan dari ziarah Imam Jawad as ini,
"Ilahi! Salam sejahtera bagi Muhammad Saw dan keluarganya. Salah sejahtera bagi Muhammad bin Ali yang ruhnya suci, bertakwa dan setia. Ya Allah! Ia adalah hujjah tertinggi-Mu atas makhluk, manivestasi tertinggi-Mu dan kata terbaik yang mengajak makhluk dan pembimbing umat kepada-Mu. Sampaikan salam sejahtera kami kepada ruh suci beliau dan anugerahkan kami pertolongan, kehormatan, keutamaan, kebaikan, pengampunan dan surga Ridhwa dikarenakan kecintaan kami kepadanya."