Warsawa, Proyek Anti-Iran yang Minim Dukungan
-
Mike Pompeo
Amerika Serikat dalam kerangka strategi Timur Tengahnya bermaksud menyelenggarakan sebuah konferensi tentang perdamaian dan keamanan di Timur Tengah pada 13-14 Februari 2019 di Warsawa, Polandia. Washington mengklaim lebih dari 70 negara dunia akan menghadiri pertemuan ini, namun sejumlah negara mengumumkan ketidakhadiran mereka dalam konferensi ini.
Menteri Luar Negeri Amerika, Mike Pompeo mengatakan, tujuan penyelenggaraan konferensi Warsawa adalah meningkatkan stabilitas dan kebebasan di Timur Tengah dengan penekanan pada upaya menghadapi pengaruh regional Iran. Pompeo menambahkan, pertemuan ini akan memusatkan perhatian pada isu Iran.
Amerika mengira dengan menggelar konferensi ini ia dapat membentuk koalisi internasional anti-Iran dengan mengumpulkan perwakilan dari berbagai negara dunia. Para 22 Januari 2019, Mike Pompeo dalam pidato video conference di Forum Ekonomi Dunia Davos kembali menyebut Iran sebagai ancaman dan faktor instabilitas di kawasan, dan ia berharap Washington bisa membentuk koalisi internasional anti-Iran.
Ketidakhadiran sejumlah negara dan protes mereka, memaksa Departemen Luar Negeri Amerika melakukan perubahan mendasar dalam tema konferensi Warsawa. Dalam pernyataan terbaru Deplu Amerika disebutkan, konferensi ini akan membahas sejumlah tema yaitu, kirisis-krisis regional dan dampaknya bagi warga sipil kawasan, pengembangan rudal dan pencegahan perluasannya, keamanan cyber dan ancaman baru di bidang energi, dan melawan ekstremisme.
Wakil Duta Besar Amerika untuk PBB, Jonathan Cohen pada 22 Januari 2019 mengatakan, konferensi Warsawa tidak untuk merusak atau mempersiapkan serangan ke Iran, tujuannya adalah menciptakan struktur keamanan yang kuat di Timur Tengah. Pada saat yang sama, Presiden Polandia, Andrzej Duda di sela Forum Ekonomi Dunia Davos menuturkan, sampai sekarang pemerintah Polandia belum memutuskan tentang partisipasi Iran dalam konferensi Warsawa. Sebelumnya pemerintah Polandia mengumumkan tidak akan mengundang Iran dalam konferensi ini.
Sejumlah pengamat meyakini, pemerintah Amerika mengubah tema konferensi Warsawa karena kurang mendapat sambutan dan dengan menambah ragam tema pertemuan, Washington berusaha menekan risiko ketidakhadiran perwakilan negara-negara dunia dalam konferensi ini. Sebelumnya media-media Barat melaporkan, sejumlah negara Eropa tidak akan ikut serta dalam konferensi Warsawa atau hanya akan mengirim pejabat level rendah ke pertemuan itu.
Kemenlu Iran menyampaikan protes kepada pemerintah Polandia terkait rencana penyelenggaraan konferensi Warsawa dengan tema utama Iran dan memanggil Kuasa Usaha Polandia di Tehran. Surat kabar The Wall Street Journal, Rabu (23/1) mengabarkan protes terkait penyelenggaraan konferensi anti-Iran di Polandia dan menulis, sejumlah diplomat Eropa bahkan menyangka ada kemungkinan konferensi itu akan dibatalkan. Situs berita Al Monitor mengutip diplomat Eropa mengabarkan, sekutu-sekutu Amerika sedang berusaha untuk mengirim perwakilan dengan level lebih rendah dari menlu dalam konferensi Warsawa dan berupaya menemukan cara melemahkan agenda pertemuan ini tanpa menunjukkan ketidakpeduliannya kepada Amerika.
Poin penting yang perlu diperhatikan adalah menlu negara-negara yang rencananya hadir dalam konferensi Warsawa pada kenyataannya merupakan sekumpulan pejabat yang saling berselisih dan menyimpan banyak perbedaan yang sepertinya tidak mendukung ide Amerika untuk menciptakan koalisi internasional anti-Iran. Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif kepada pemerintah Polandia dan negara-negara peserta konferensi Warsawa mengatakan, pihak-pihak yang ikut serta dalam pertunjukkan anti-Iran terakhir yang digagas Amerika, jika tidak mati, maka ia tidak punya kehormatan atau tersingkirkan, namun Iran hari ini lebih kuat dari sebelumnya.
Sepertinya Amerika ingin meraih sejumlah target dengan menyelenggarakan konferensi Warsawa. Salah satunya yang tampak kental di masa pemerintahan Presiden Donald Trump adalah menciptakan perpecahan di tubuh Uni Eropa dan membaginya menjadi dua, Eropa lama yang terdiri dari negara-negara pendiri Uni Eropa, dan Eropa baru yang bergabung menjadi anggota Uni Eropa sejak tahun 2000 dan setelahnya. Oleh karena itu Washington memilih Polandia sebagai tuan rumah konferensi anti-Iran ini.
Polandia merupakan salah satu negara yang kerap memprotes kebijakan-kebijakan Uni Eropa dan selalu menegaskan kedaulatan nasional negaranya, pada saat yang sama Polandia dalam kebijakan luar negerinya mengekor Amerika. Masalah inilah yang kemudian membangkitkan sensitivitas para petinggi Uni Eropa. Selain karena isu anti-Iran yang menjadi tema konferensi ini, bertentangan dengan kebijakan Uni Eropa dalam mempertahankan kesepakatan nuklir Iran, JCPOA.
Oleh karena itu Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini menegaskan tidak akan menghadiri konferensi Warsawa. Meski alasan Mogherini karena ada agenda kunjungan ke Afrika, namun sepenuhnya jelas bahwa ia sama sekali tidak menaruh perhatian pada konferensi Warsawa dan menganggap kehadirannya di Warsawa sebagai bentuk kepatuhan pada Washington dalam strategi anti-Iran.
Tersiar kabar juga Perancis hanya akan mengirim pejabat level rendah dari menlu ke konferensi Warsawa. Jerman masih belum memutuskan hadir atau tidak dalam konferensi anti-Iran. Tercatat hanya Menlu Inggris, Jeremy Hunt yang sudah mengumumkan kehadirannya dalam konferensi Warsawa. Hal ini menunjukkan bahwa Jerman dan Perancis bersama Uni Eropa, dalam rangka mempertahankan JCPOA, tidak mengikuti langkah anti-Iran yang diusung Amerika.
Bukan hanya Uni Eropa bahkan Rusia sebagai salah satu pemain utama dalam transformasi Timur Tengah, juga menolak undangan Polandia untuk menghadiri konferensi Warsawa yang digagas Amerika. Menurut Menlu Polandia, Jacek Czaputowicz, Rusia memainkan peran penting dalam perkembangan Timur Tengah dan tanpa partisipasi Moskow dalam konferensi Warsawa, kecil kemungkinan kesepakatan dapat dicapai.
Dalam pandangan Rusia, tujuan Amerika dan rezim Zionis Israel saat ini adalah agar konferensi Warsawa membuahkan hasil yang tidak menguntungkan Iran sehingga Amerika, selain sanksi ekonomi juga dapat menggunakan kekuatan lunaknya yaitu perang propaganda dan politik untuk membatasi pengaruh regional Iran. Menlu Rusia, Sergei Lavrov mengatakan, Moskow sudah menerima undangan resmi untuk menghadiri konferensi Warsawa yang dirancang Amerika, namun ada keraguan bahwa pertemuan semacam ini dapat membantu penyelesaian masalah regional.
Salah satu target penting Amerika menyelenggarakan konferensi Warsawa adalah merusak kesepakatan nuklir Iran, JCPOA, padahal kesepakatan ini mendapat pengesahan dari Dewan Keamanan PBB, dan Iran bersama Rusia, Cina dan Troika Eropa ingin mempertahankannya. Hal senada juga diungkapkan oleh Rusia. Dalam pandangan Moskow, pertemuan anti-Iran di Polandia adalah strategi merusak JCPOA.
Sejumlah bukti menunjukkan kekuatan-kekuatan dunia khususnya Kelompok 4+1 dan PBB mereaksi negatif konferensi Warsawa dan tidak ingin mengikuti strategi anti-JCPOA yang diambil Washington. Deputi Jubir Sekjen PBB, Farhan Haq dalam wawancara dengan IRNA mengatakan bahwa Sekjen PBB, Antonio Guterres menganggap Iran sebagai negara penting dan konstruktif di kawasan. Ia menuturkan, sikap asasi kami terkait Iran khususnya JCPOA adalah kesepakatan yang merupakan capaian penting diplomasi ini harus dipertahankan.
Tujuan lain diselenggarakannya konferensi Warsawa adalah upaya Washington untuk memajukan proyek-proyek regionalnya. Amerika dalam pertemuan ini tidak berusaha memunculkan masalah Palestina sebagai isu terpenting kawasan Timur Tengah tapi berusaha memanfaatkan kesempatan untuk membentuk opini dunia dalam kerangka kebijakan luar negerinya sendiri.
Pada kenyataannya, pemerintahan Donald Trump bermaksud menunjukkan diri sebagai pilar pembentuk koalisi regional dan dengan partisipasi sekutu Arabnya dan Israel, Amerika berusaha supaya isu Palestina terlupakan dan menampilkan Iran bersama seluruh kebijakan regionalnya sebagai masalah utama Timur Tengah.
Amerika mengira dengan menggelar pertemuan semacam ini bisa membuka kesempatan yang baik untuk menguasai Timur Tengah dengan kedok perdamaian dan stabilitas sehingga menarik perhatian negara-negara Arab. Amerika sebagai sekutu strategis Israel tidak pernah menjadi mediator yang netral dalam masalah Palestina, Amerika selalu mengambil kebijakan yang menguntungkan Israel dan merugikan rakyat tertindas Palestina semisal ide Kesepakatan Abad.
Wakil tetap Rusia di PBB, Vasily Nebenzya, Selasa (22/1) kepada IRNA menganggap pertemuan Warsawa sebagai sebuah pertemuan anti-Iran. Menurutnya, pertemuan ini akan merusak keamanan kawasan. Jelas bahwa sekarang ini tujuan utama Amerika adalah memaksa Iran keluar dari Suriah sebagaimana sebelumnya ditegaskan oleh Penasihat keamanan nasional Amerika, John Bolton.
Sepertinya upaya Amerika dan Israel untuk menggerus pengaruh Iran di kawasan dan menampilkan negara ini sebagai masalah utama kawasan, salah satunya lewat konferensi Warsawa, tidak akan membuahkan hasil karena penentangan sejumlah negara.
Bukan hanya Rusia dan Cina, bahkan sekutu-sekutu Amerika sendiri di Eropa mengakui peran positif Iran di kawasan. Selain itu dunia sekarang memahami strategi Amerika untuk menggulingkan pemerintahan Republik Islam Iran yang lahir dari permusuhan negara itu terhadap Tehran dan karena konspirasi jahatnya yang selalu digagalkan Iran di kawasan. (HS)