Pakistan dan Sekjen PBB Bahas Perdamaian dan Keamanan Regional
https://parstoday.ir/id/news/daily_news-i198204-pakistan_dan_sekjen_pbb_bahas_perdamaian_dan_keamanan_regional
Pars Today – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Pakistan di Islamabad membahas tentang perdamaian dan keamanan regional.
(last modified 2026-10-08T09:34:53+00:00 )
Okt 08, 2026 16:30 Asia/Jakarta
  • Sekjen PBB, Antonio Guterres
    Sekjen PBB, Antonio Guterres

Pars Today – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Pakistan di Islamabad membahas tentang perdamaian dan keamanan regional.

Menurut laporan IRNA dari Anadolu, berdasarkan pernyataan Kantor Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres dalam pertemuan dengan Shehbaz Sharif mengapresiasi "peran penting Pakistan sebagai anggota terpilih Dewan Keamanan, termasuk upaya-upaya negara ini untuk memajukan penyelesaian damai sengketa-sengketa dan khususnya mediasi dalam konflik antara Amerika dan Iran."

 

Sementara itu, Sharif dalam sebuah pesan di media sosial X menekankan bahwa Pakistan "tetap berkomitmen untuk memiliki PBB yang lebih efektif dan inklusif dan mengatakan dialog serta diplomasi adalah satu-satunya solusi untuk perselisihan dan mencegah eskalasi ketegangan."

 

Ia menambahkan bahwa kedua pihak membahas tentang upaya-upaya mediasi Pakistan, reformasi PBB, operasi pemeliharaan perdamaian, perdamaian regional, hak-hak rakyat Kashmir dan Palestina, serta kebutuhan melanjutkan bantuan finansial kepada negara-negara berkembang.

 

Sharif menegaskan: Saya juga menekankan pentingnya Afghanistan yang damai dan tindakan praktis terhadap kelompok-kelompok teroris yang beroperasi di tanah Afghanistan.

 

Guterres juga dalam pidatonya di "Akademi Layanan Diplomatik" di Islamabad, merujuk pada tantangan-tantangan bersama umat manusia termasuk perubahan iklim, konflik, ketidaksetaraan, dan kecerdasan buatan.

 

Ia memperingatkan bahwa transisi menuju dunia multipolar tidak serta-merta menjamin stabilitas, karena konflik meningkat, penderitaan manusia meningkat, dan hukum internasional melemah.

 

Guterres tentang Gaza juga menuntut pelaksanaan penuh rencana perdamaian dan mengatakan tidak boleh dibiarkan solusi dua negara dihancurkan.

 

Ia juga memperingatkan tentang peningkatan beban utang, tidak memadainya anggaran pembangunan, dan terhentinya kemajuan dalam tujuan pembangunan berkelanjutan dan pada saat yang sama menekankan dukungan untuk reformasi struktur keuangan internasional.

 

Sekretaris Jenderal PBB tentang perubahan iklim mengatakan bahwa konsekuensinya semakin memburuk dan negara-negara berkembang menanggung biaya yang tidak proporsional.

 

Ia menggambarkan perubahan iklim sebagai "penguat ancaman" yang menyebabkan pengungsian, peningkatan tekanan pada sumber daya, melemahnya keamanan pangan, dan memicu ketidakstabilan.

 

Guterres juga mengumumkan bahwa pengawasan kecerdasan buatan harus mencerminkan kepentingan seluruh umat manusia, sedemikian rupa sehingga manfaatnya dibagikan secara luas dan risikonya dikelola secara kolektif.

 

Ishaq Dar, Menteri Luar Negeri Pakistan juga dalam pertemuan ini menekankan empat prioritas: kepatuhan pada Piagam PBB dan hukum internasional, menempatkan diplomasi di pusat hubungan internasional, menangani konsekuensi keamanan teknologi baru, dan memperkuat legitimasi serta kemampuan operasional PBB.

 

Ia menegaskan: Harus dihormati kesetaraan kedaulatan, integritas teritorial, non-intervensi, larangan ancaman atau penggunaan kekuatan, dan hak menentukan nasib sendiri serta dilaksanakan komitmen-komitmen yang timbul dari perjanjian-perjanjian dan resolusi-resolusi Dewan Keamanan.

 

Dar mengatakan: Penyelesaian yang adil dan damai atas masalah Palestina dan sengketa Jammu dan Kashmir, masih dianggap sebagai ujian fundamental bagi komitmen ini. (MF)