Iran Aktualita, 12 Maret 2022
https://parstoday.ir/id/news/iran-i116922-iran_aktualita_12_maret_2022
Dinamika Iran sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai pertemuan anggota Dewan Ahli Kepemimpinan Iran dengan Rahbar.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Mar 12, 2022 08:00 Asia/Jakarta
  • Iran Aktualita, 12 Maret 2022

Dinamika Iran sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai pertemuan anggota Dewan Ahli Kepemimpinan Iran dengan Rahbar.

Selain itu, statemen Raisi bahwa rakyat Ukraina menjadi korban kebijakan Jahat AS, Iran masuk segelintir negara yang menguasai teknologi peluncuran satelit, Iran siap membantu menghentikan perang Ukraina, Iran mengecam serangan rudal rezim Zionis ke Suriah dan negara ini membuka kembali penerbangan langsung Mashhad-Damaskus.

 

 

Bertemu Anggota Majles Khobregan, Rahbar Jelaskan Pilar Kekuatan Nasional

Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menyebut menarik diri dalam melawan Amerika Serikat atau kekuatan lain untuk menghindari sanksi sebagai kesalahan besar dan pukulan bagi kekuatan politik.

Hal itu dikatakan Ayatullah Khamenei dalam pertemuan dengan anggota Dewan Ahli Kepemimpinan Republik Islam Iran (Majles-e Khobregan-e Rahbari) pada hari Kamis (10/3/2022).

Rahbar menilai menarik diri dan mundur dalam melawan AS atau kekuatan lain mana pun agar aman dari sanksi sebagai kesalahan besar dan pukulan terhadap kekuatan politik.

"Tidak ada yang lebih naif daripada orang yang mengusulkan (dengan mengatakan) bahwa kita harus mengurangi kekuatan pertahanan agar tidak membuat musuh sensitif," kata Ayatullah Khamenei dalam pidatonya seperti dilansir di situs kantor Rahbar.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut kekuatan nasional sebagai suatu kesatuan yang saling berhubungan, dan dia menjelaskan pilar-pilarnya.

"Ilmu pengetahuan dan teknologi, pemikiran, berpikir dan kebebasan berpikir adalah bagian dari pilar kekuatan nasional. Jika tidak ada kebebasan berpikir dan kemajuan intelektual, maka sains dan teknologi bukanlah jalan yang harus ditempuh (bukan solusi)," jelasnya.

Menurutnya, keamanan dan kekuatan pertahanan, ekonomi dan kesejahteraan umum serta kenyamanan mata pencaharian rakyat, kekuatan politik dan tawar-menawar untuk menjamin kepentingan nasional di tingkat regional dan internasional, budaya dan gaya hidup, serta logika yang menarik dan berpengaruh terhadap bangsa-bangsa lain, adalah lengan-lengan kekuatan nasional lainnya.

Rahbar mengatakan, daya tarik bangsa menciptakan kedalaman strategis bagi setiap negara, dan ini sangat penting.

"Jika mereka yang ingin memotong sejumlah lengan kekuatan nasional dibiarkan untuk melakukannya, maka Iran akan menghadapi bahaya besar hari ini. Berkat tekad dan karunia Tuhan, kemungkinan untuk mewujudkan usulan itu tidak datang," tambahnya.

Ayatullah Khamenei menyebutkan beberapa contoh dalam masalah tersebut, dan menilai usulan-usulan seperti penolakan atas kehadiran regional (Iran) agar tidak dijadikan alasan oleh musuh atau pengabaian atas kemajuan ilmiah di bidang nuklir, sebagai pukulan terhadap kekuatan nasional.

"Kehadiran regional (Iran) memberikan kepada kita lebih banyak kedalaman strategis dan kekuatan nasional, lalu mengapa kita harus mengabaikannya? Kemajuan ilmiah di bidang nuklir juga terkait dengan pemenuhan kebutuhan negara dalam waktu dekat, dan jika kita mengabaikannya, beberapa tahun mendatang kepada siapa kita akan memintanya?" ujarnya.

Menurutnya, kuatnya sistem (pemerintah Republik Islam) akan mengarah pada kekuatan nasional.

"Kekuatan nasional sangat penting bagi setiap negara. Setiap bangsa harus kuat jika bangsa itu menginginkan kemerdekaan (kemandirian), kebanggaan, penggunaan sumber daya penting dan vital sesuai keinginannya, dan perlawanan terhadap keinginan pihak lain," tuturnya.

Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei menjelaskan unsur-unsur dari satu set kekuatan nasional yang saling berhubungan, dan menyebut masalah mata pencaharian masyarakat dan kelancaran (kemudahan) masalah yang berkaitan dengan rakyat sebagai hal yang penting.

Rahbar juga menyinggung perang lunak dan keras musuh untuk mempengaruhi masyarakat. Menurutnya, cara menghadapi perang yang rumit ini adalah "jihad penjelasan" dengan metode perangkat lunak baru yang didasarkan pada ajaran dan konsep Islam yang dalam dan agung.

Ayatullah Khamenei menuturkan, kubu arogan (mustakbirin) dunia, --dalam perang lunak terberat dalam sejarah dengan bangsa Iran-- berusaha merayu dan mempengaruhi mereka yang memiliki gelar (jabatan) dan (kadang-kadang) terpelajar agar mereka menipu masyarakat dan memalingkan masyarakat dari kebenaran dan fakta.

Rahbar menyebut  penciptaan antek-antek dan kaki tangan, intimidasi dan penyuapan sebagai bagian dari metode musuh. Ini, kata Ayatullah Khamenei,  adalah perang lunak berat, dan tentunya 9pada saat yang sama) menunjukkan kekuatan infrastruktur dan fasilitas Front Kebenaran (Haq), yang telah membuat tantangan melawan Front Kebenaran ini menjadi sulit, sehingga hal ini memaksa musuh untuk pergi ke perang lunak guna merusak dan menyesatkan pikiran masyarakat.

Di bagian akhir pidatonya, Ayatullah Khamenei mengatakan, Majles-e Khobregan-e Rahbari berperan penting dalam memperkuat sistem (pemerintahan) Islam.

"Syarat untuk efektivitas semua lembaga hukum, termasuk Dewan Ahli Kepemimpinan, adalah untuk bertindak sesuai dengan tugas dan batasan yang ditetapkan oleh konstitusi untuk mereka," pungkasnya. 

 

Rahbar

 

Pekan Nasional SDA Tiba, Rahbar Tanam Dua Bibit Pohon

Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei menanam dua bibit pohon buah di sekitar kantornya di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran pada hari Minggu, 6 Maret 2022.

Kegiatan tersebut dalam kerangka memperingati Hari Penanaman Pohon Nasional Republik Islam Iran dan dimulainya Pekan Nasional Sumber Daya Alam (SDA) di negara ini.

"Pengembangan energi non-fosil seperti energi nuklir yang pemanfaatannya terus meningkat di dunia, dan negara-negara kawasan kita juga sedang bergerak ke arah itu, begitu juga energi angin dan sinar matahari, harus diperhatikan secara serius," kata Rahbar usai menanam bibit pohon, Minggu (6/3/2022).

Rahbar menilai menanam pohon sebagai sebuah gerakan yang sepenuhnya sesuai tuntutan agama, dan revolusioner, akan tetapi memelihara dan menjaga pohon juga sangat penting, dan ini harus diperhatikan.

Menurut Ayatullah Khamenei, tumbuh-tumbuhan membawa ketenangan batin, dan menjaga mata manusia serta menjadi sumber rezeki yang diberikan Allah Swt kepada setiap manusia.

"Oleh karena itu perusakan hutan, dan lingkungan hidup serta tumbuhan, berarti merusak kepentingan nasional, dan merusak sebagian kawasan hutan untuk pembangunan kecuali pada kondisi darurat, pasti merugikan bangsa," imbuhnya.

Ayatullah Khamenei menolak visi yang memarjinalkan lingkungan hidup, dan menganggapnya hanya sebagai hiasan. Dalam pandangan Rahbar, masalah lingkungan hidup merupakan salah satu masalah negara yang paling asasi.

Ia menuturkan, salah satu pekerjaan serius dalam menjaga lingkungan hidup adalah menjaga dua aset besar, dan cadangan vital bangsa yaitu air dan tanah, serta menghindari penghamburan kedua sumber tersebut, dan dalam hal ini pemerintah harus memperhatikan arahan dari para pakar.

Menjaga kelestarian kehidupan alam liar merupakan masalah lain yang jika tidak diperhatikan akan menyebabkan kerugian bagi kepentingan nasional.

"Dalam Islam, berburu hanya diperbolehkan jika seseorang membutuhkan makan, jika tidak maka itu tidak diperbolehkan, dan melanggar hukum, bahkan saat itu perjalanan untuk berburu akan menjadi perjalanan yang haram. Oleh karenanya perburuan-perburuan ilegal harus dicegah secara serius, dan upaya pelestarian alam liar harus lebih diperhatikan," pungkasnya.

Tanggal 6-13 Maret (15-22 Isfand) di Iran dinamai sebagai Pekan Nasional SDA, dan hari pertamanya, tanggal 6 Maret adalah Hari Penanaman Pohon Nasional.

 

Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi

 

Raisi: Rakyat Ukraina Jadi Korban Kebijakan Jahat AS

Presiden Republik Islam Iran, Sayid Ebrahim Raisi menyebut rakyat Ukraina sebagai korban kebijakan jahat Amerika Serikat, dan menyerukan diakhirinya perang segera mungkin.

Pusat penerangan kantor kepresidenan Iran melaporkan, Presiden Republik Islam Iran, Sayid Ebrahim Raisi dalam pertemuan kabinet hari Minggu (6/3/2022) menyinggung masalah internasional, termasuk krisis Ukraina dengan mengatakan, "Rakyat Ukraina, sebagaimana rakyat Afghanistan, Yaman dan Irak, telah menjadi korban kebijakan jahat AS."

"Republik Islam Iran, sebagaimana dinyatakan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam, sangat jelas menentang perang, dan menyerukan diakhirirnya perang sesegera mungkin, karena ini adalah kepentingan semua pihak, sehingga bahaya yang menimpa rakyat biasa berkurang," ujar Raisi.

Di bagian lain statemennya, Presiden Republik Islam Iran juga menyampaikan perkembangan terbaru mengenai negosiasi pencabutan sanksi di Wina, dengan menjelaskan, "Kementerian Luar Negeri dan tim perunding melanjutkan negosiasi dengan segenap kekuatannya, tetapi pemerintah tidak akan bergantung pada perundingan JCPOA,".

Menurut Raisi, JCPOA tidak mewakili semua kebijakan luar negeri Iran, sebab hanya satu bagian saja.

"Kunci keberhasilan pemerintah  selama enam bulan terakhir dalam mengatasi semua masalah, termasuk isu-isu yang berkaitan dengan kebijakan luar negeri, sistem perbankan dan minyak, bertumpu pada kerja penuh semangat dan tidak menangguhkan salah satunya dengan bergantung pada kesepakatan dalam negosiasi [Wina]," pungkasnya.

 

 

Iran Masuk Segelintir Negara yang Kuasai Teknologi Peluncuran Satelit

Komandan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran menyebut teknologi satelit Noor 2 sepenuhnya produk lokal Iran, dan menegaskan, "Kami adalah salah satu dari sedikit negara yang membangun dan meluncurkan satelit."

Satelit militer kedua Iran, Noor-2, diluncurkan pada hari Selasa oleh pasukan dirgantara IRGC dan berhasil ditempatkan di orbit 500 kilometer di atas permukaan tanah. Satelit ini menjadi militer Iran kedua yang ditempatkan di orbit dekat Bumi.

Brigadir Jenderal Ali Jafarabadi, Komandan Dirgantara Sepah Pasdaran dalam sebuah wawancara dengan televisi nasional Iran pada Selasa (8/3/2022) malam menyinggung keberhasilan peluncuran satelit Noor 2, dengan mengatakan, "Misi satelit Noor 2, seperti satelit Noor 1, untuk mengidentifikasi dan mengukur,".

Jafarabadi menunjukkan bahwa satelit ini selain untuk keperluan militer juga dapat membantu di bidang sipil seperti: penanganan bencana alam, pengairan, dan mengukur tanaman untuk lahan pertanian.

"Orbit satelit Noor 2 dirancang sedemikian rupa sehingga tidak melewati kutub, tetapi memiliki lintasan paling banyak dari Iran dan Asia Barat," ujar Brigjen Jafarabadi.

Mengenai teknologi peluncur sangat terbatas yang hanya dikuasai segelintir negara saja, Brigjen Jafarabadi mengatakan ada 10 hingga 12 negara di dunia yang dapat membangun satelit dan meluncurkan satelit, yang menunjukkan bahwa teknologi peluncur sangat tinggi.

"Teknologi ini tersedia di Iran berkat kegiatan yang dilakukan di bidang rudal, dan ini bukan teknologi yang diberikan negara lain kepada kita," tegasnya.

Brigjen Jafarabadi menunjukkan bahwa peluncuran satelit yang terjadi kini adalah dokumen dunia yang kredibel, tidak dapat disangkal dan dihormati, yang menunjukkan bahwa para spesialis dan ilmuwan Iran bekerja di tingkat sains dan teknologi tinggi.

 

Menlu Iran

 

Iran Siap Bantu Hentikan Perang Ukraina

Menteri luar negeri Iran dalam percakapan telepon dengan mitranya dari Turki mengumumkan dukungan untuk solusi politik di Ukraina dan menyatakan kesiapan Tehran untuk membantu mengakhiri perang.

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Hossein Amir Abdollahian dalam percakapan telpon dengan sejawatnya dari Turki Mevlüt Cavosoglu  hari Senin (7/3/2022) membahas perkembangan terakhir dalam hubungan bilateral, beberapa masalah regional dan internasional, termasuk krisis Ukraina.

Dalam percakapan telepon ini, Amir Abdollahian menyampaikan kesiapan delegasi dari Kementerian Luar Negeri Iran untuk berpartisipasi dalam pertemuan Dewan Diplomatik Antalya untuk membahas solusi politik krisis Ukraina.

"Hubungan bilateral berada di jalur kemajuan dan perkembangan. Pekan depan delegasi dari kedua negara akan melakukan perjalanan ke Tehran dan Ankara untuk mengejar pengembangan hubungan yang komprehensif," ujar Menlu Iran

Sementara itu, Menlu Turki menekankan langkah-langkah efektif dan nyata dalam memajukan hubungan bilateral dengan dukungan kedua presiden, dan menyebut hubungan kedua negara sangat baik dan bersahabat.

Menyikapi keprihatinan atas eskalasi krisis Ukraina dan kemungkinan bencana kemanusiaan dan gelombang pengungsi yang terus meningkat, menlu Turki mengatakan bahwa tujuan pertemuan trilateral Menteri Luar Negeri Rusia, Turki dan Ukraina di Antalya untuk mewujudkan gencatan senjata yang bersinambungan.

Menanggapi gerakan provokatif Barat di dekat perbatasan Rusia, Presiden Vladimir Putin pada 24 Februari memerintahkan operasi militer khusus di wilayah Donbass sebagai tanggapan atas permintaan bantuan militer dari para pemimpin Republik Donetsk dan Luhansk di Ukraina timur.

Rusia mengklaim operasi militernya di Ukraina bukanlah awal dari perang, tapi upaya untuk mencegah perang besar di seluruh dunia.

 

 

Ali Shamkhani

 

Shamkhani: AS Tidak Inginkan Kesepakatan Kuat Tercapai

Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki keinginan untuk mencapai kesepakatan yang kuat dan dapat dipertahankan bagi para pihak.

Ali Shamkhani, Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran di akun Twitternya Kamis pagi mengatakan, "Dengan membuat alasan palsu, Amerika Serikat terus menunjukkan sikapnya yang tidak memiliki keinginan untuk mencapai kesepakatan yang kuat dan dapat dipertahankan bagi para pihak,".

"Pembicaraan Wina menjadi lebih rumit setiap jam tanpa keputusan politik oleh Amerika Serikat," ujar Shamkhani.

Perundingan antara delegasi Iran dan kelompok 4+1 serta koordinator Uni Eropa di Hotel Coburg masih berlanjut dan belum mencapai kesepakatan final.

Pembicaraan telah berkembang karena inisiatif tim perunding Iran, tetapi keengganan Barat, terutama pemerintahan Joe Biden, untuk mengkompensasi tindakan ilegal Trump dan kelanjutan kampanye tekanan maksimum, meragukan keseriusan AS untuk kembali ke JCPOA, dan proses dialog menjadi lebih lama.

Republik Islam Iran, sebagai negara yang bertanggung jawab, telah berulang kali menyatakan bahwa Amerika Serikat sebagai pihak yang melanggar perjanjian JCPOA bisa kembali ke perjanjian ini dengan mencabut sanksi dan Tehran memverifikasi pemenuhan kewajibannya.

 

Saeed Khatibzadeh

 

Iran Kecam Serangan Rudal Rezim Zionis ke Suriah

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk keras agresi rezim Zionis dalam serangan rudal di pinggiran Damaskus, Suriah.

Saeed Khatibzadeh, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran hari Rabu (9/3/2022) mengatakan bahwa kejahatan rezim Zionis dalam serangan rudal di pinggiran Damaskus, yang mengakibatkan kesyahidan dua perwira Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tidak akan dibiarkan begitu saja.

"Rezim apartheid Israel harus menerima balasan atas kejahatan terhadap kemanusiaan ini," kata Khatibzadeh.

Serangan rudal rezim Zionis ke daerah pinggiran Damaskus menyebabkan dua perwira IRGC, Kolonel Ehsan Karbalaeipour dan Kolonel Morteza Saeednejad syahid.

IRGC mengucapkan selamat dan belasungkawa atas kesyahidan dua pejuang ini kepada keluarga dan anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran, dan menekankan, "Tidak diragukan lagi, rezim Zionis akan menanggung balasan atas kejahatan ini,".

Jet-jet tempur rezim Zionis secara berkala melancarkan serangan rudal ke berbagai target di Suriah dengan menggunakan wilayah udara Lebanon atau melalui Dataran Tinggi Golan yang didudukinya.

Pasukan penjaga perdamaian PBB yang berbasis di Lebanon telah berulang kali melaporkan bahwa rezim Zionis melanggar resolusi PBB dan wilayah udara Lebanon.

Kementerian Luar Negeri Suriah baru-baru ini mengeluarkan pernyataan mengutuk serangan rezim Zionis di Suriah, dan menyatakan bahwa Damaskus akan menggunakan semua cara yang sah untuk menanggapi agresi rezim Zionis tersebut.

 

Bandara internasional Mashhad

 

Situasi Kondusif, Iran Buka Lagi Penerbangan Langsung Mashhad-Damaskus

Direktur Jenderal Bandara Khorasan Razavi Iran mengumumkan peresmian operasional penerbangan langsung dari Mashhad ke Damaskus di Suriah yang dimulai hari ini.

Penerbangan Mashhad-Damaskus diluncurkan sebelum dimulainya krisis Suriah dan serangan kelompok teroris Daesh di negara itu, tetapi seiring dimulainya perang dalam beberapa dekade terakhir, penerbangan ini dihentikan.

Mahmoud Amani-Bani, Direktur Jenderal Bandara Internasional Khorasan-e-Razavi Iran kepada IRNA pada hari Minggu (6/3/2022) mengatakan bahwa penerbangan langsung pertama dari Mashhad ke Damaskus akan berlangsung hari ini pada peringatan kelahiran Imam Hussein, Imam Syiah ketiga.

"Penerbangan Mashhad ke Damaskus dan Damaskus ke Mashhad saat ini dijadwalkan satu hari dalam sepekan," ujar Amani-Bani.

"Untuk penerbangan luar negeri, penumpang harus memiliki kartu vaksin atau PCR negatif," tegasnya.

Bandara Internasional Shahid Hasheminejad Mashhad, dengan luas 540 hektar, merupakan bandara tersibuk kedua di Iran setelah Bandara Mehrabad di Tehran.(PH)