Nasihat Persia Kuno
Hargailah Apa yang Kita Miliki
Pars Today – Hikmah kuno bangsa Iran adalah pelita bagi kehidupan masa kini. Salah satu dari khazanah berharga itu adalah perkataan Sa‘di dalam Golestan yang berbunyi: ‘Air berada di dalam kendi, sementara kita berkeliling dengan bibir yang kehausan.’"
Bait “Air berada di dalam kendi, sementara kita berkeliling dengan bibir kehausan” terdapat dalam “Bustan” karya Sa‘di, bab kedelapan, dan merupakan bagian dari kisah penuh nasihat tentang seorang lelaki miskin yang mengeluhkan kefakirannya, padahal ia memiliki harta besar di rumah tanpa menyadarinya. Dengan contoh ini, Sa‘di mengajak pembaca untuk menuju kesadaran diri dan menemukan sumber daya batin.
Menurut laporan Pars Today, pepatah Persia “Air berada di dalam kendi, sementara kita berkeliling dengan bibir kehausan” adalah gambaran jelas tentang kelalaian manusia. Kita mencari kebahagiaan dan ketenangan dengan menatap ke kejauhan, padahal sumber kebutuhan itu ada di dekat kita. Sebuah kendi penuh air tersedia, namun rasa haus membuat kita tersesat dalam pencarian.
Dalam dunia modern, hikmah ini semakin relevan. Banyak dari kita mengejar kebahagiaan, kesuksesan, atau ketenangan melalui jalan yang rumit dan sulit dijangkau; padahal jawabannya ada dalam hal-hal sederhana: keluarga, persahabatan yang tulus, pekerjaan yang benar, dan ketenangan dalam momen-momen kecil kehidupan.
Peribahasa ini tidak hanya terbatas pada kehidupan pribadi. Dalam ranah sosial dan ekonomi pun, bangsa-bangsa terkadang memiliki sumber daya dan kapasitas besar di dalam negeri, namun pandangan mereka tertuju ke luar. Modal manusia, budaya yang kaya, dan sumber daya alam adalah ibarat “air di dalam kendi” yang, jika benar-benar diperhatikan, dapat menghilangkan dahaga pembangunan dan kemajuan.
Pada akhirnya, kalimat Sa‘di ini mengajak kita untuk mengenal diri sendiri. Apakah yang kita cari sebenarnya sudah ada dalam genggaman? Apakah alih-alih pencarian tanpa henti, tidak lebih baik menoleh pada apa yang kita miliki dan menghargainya?
Nasihat Persia ini bukan sekadar peringatan, melainkan pelita untuk kembali ke asal, untuk melihat anugerah yang dekat, dan untuk membangun masa depan yang berlandaskan kesadaran serta penghargaan. (MF)