Kowsari: Retorika Donald Trump terhadap Iran, Perang Psikologis
https://parstoday.ir/id/news/iran-i184756-kowsari_retorika_donald_trump_terhadap_iran_perang_psikologis
Anggota Komisi Keamanan Nasional Majelis Syura Islam Republik Islam Iran menilai retorika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap Iran sebagai bentuk perang psikologis.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Jan 29, 2026 07:59 Asia/Jakarta
  • Kowsari: Retorika Donald Trump terhadap Iran, Perang Psikologis

Anggota Komisi Keamanan Nasional Majelis Syura Islam Republik Islam Iran menilai retorika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap Iran sebagai bentuk perang psikologis.

Menurut laporan Pars Today mengutip Kantor Berita Parlemen, Ismail Kowsari, anggota Komisi Keamanan Nasional Majelis Syura Islam Iran, dengan merujuk pada meningkatnya ancaman dan retorika terbaru Donald Trump terhadap Iran, mengatakan: Akhir-akhir ini Trump dengan pernyataan-pernyataan keliru dan berlebihan, melontarkan klaim-klaim terhadap Republik Islam Iran dan terus-menerus berbicara tentang tindakan terhadap Iran, padahal ucapan-ucapan tersebut tidak lain hanyalah perang psikologis.Kowsari menambahkan: Bangsa Iran selama 47 tahun terakhir, dengan bersandar pada kepemimpinan bijaksana Imam Khamenei, Pemimpin Revolusi, serta persatuan nasional, telah menggagalkan seluruh konspirasi Amerika Serikat dan rezim Zionis, dan hari ini pun akan berdiri dengan penuh wibawa menghadapi segala bentuk ancaman.

Anggota Komisi Keamanan Nasional Majelis Syura Islam Iran itu, dengan menyinggung fase-fase sensitif dalam sejarah Revolusi, menegaskan: Amerika Serikat dan “sarang kerusakan”-nya, yaitu rezim Zionis, selama delapan tahun Perang Pertahanan Suci, perang 12 hari yang dipaksakan, serta dalam menghadapi aksi-aksi terorisme terbaru, telah merancang berbagai konspirasi untuk menjatuhkan sistem Republik Islam, namun rakyat Iran dengan kesadaran, wawasan, dan kepatuhan kepada Pemimpin Revolusi Islam, telah menggagalkan seluruh konspirasi tersebut sejak awal.Kowsari menekankan: Bangsa Iran bukan bangsa pencinta perang dan tidak pernah menjadi pihak yang memulai perang, tetapi membela diri adalah hak mutlak dan kewajiban semua bangsa, dan Republik Islam Iran, jika terjadi agresi apa pun, akan mempertahankan diri hingga detik terakhir dengan penuh kekuatan.

Mengapa Amerika Serikat menabuh genderang ancaman?

Dalam konteks yang sama, Hamed Yazdian, wakil rakyat Isfahan di Majelis Syura Islam Iran, dengan menyinggung meningkatnya ancaman Amerika Serikat terhadap Republik Islam, mengatakan: Tindakan-tindakan ini lebih merupakan cerminan kegagalan Barat dalam menciptakan kekacauan dan ketidakstabilan internal serta ketidakmampuan membangun landasan bagi tekanan militer terhadap Iran, daripada menunjukkan kekuatan.

 

 

Yazdian menambahkan: Barat, khususnya Amerika Serikat, dalam beberapa bulan terakhir berupaya menciptakan kekacauan, gejolak sosial, dan ketidakstabilan internal di Iran untuk menunggangi situasi tersebut secara politik serta mempersiapkan landasan bagi tekanan yang lebih keras atau bahkan tindakan militer, tetapi proyek ini tidak membuahkan hasil dan kerusuhan tidak mampu menciptakan kondisi yang diperlukan untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut.

Ia melanjutkan: Kegagalan ini telah menyebabkan kemarahan dan kebingungan di pihak lawan, sehingga kita menyaksikan peningkatan tingkat ancaman, pelaksanaan berbagai operasi psikologis, pergerakan pasukan militer di kawasan, serta pengetatan pembahasan sanksi—langkah-langkah yang tujuan utamanya adalah meningkatkan tekanan terhadap Republik Islam Iran.

Yazdian, seraya mengkritik kebijakan pemerintah Amerika Serikat, berkata: Sosok seperti Donald Trump, dengan perilaku yang irasional dan berbasis ancaman, tidak hanya membahayakan keamanan kawasan, tetapi juga stabilitas global. Dalam kondisi seperti ini, sikap tegas dan berwibawa Iran akan membuat mereka meninjau ulang perhitungan-perhitungan mereka.

Parlemen Eropa bermain di lapangan rezim Zionis

Selain itu, Fathollah Tavasoli, salah satu anggota Majelis Syura Islam Iran lainnya, dengan menyinggung pernyataan anti-Iran Parlemen Eropa, menyatakan: Eropa bermain di lapangan rezim Zionis dan dengan dalih-dalih hak asasi manusia, menjalankan kebijakan lobi Yahudi.

 

Tavasoli mengatakan: Kinerja negara-negara Barat dalam perang 12 hari menunjukkan bahwa klaim-klaim hak asasi manusia mereka tidak lebih dari kebohongan belaka dan kenyataan selalu mereka balikkan. Ia menambahkan: Parlemen Eropa tidak independen dan karena kebijakan ambisius Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat, realitas ditampilkan secara terdistorsi.

Imbauan kepada negara-negara Barat dan Eropa: hentikan tindakan anti-Iran

Sementara itu, Ahmad Ajam, Ketua Komite Keamanan Parlemen ke-12 Majelis Syura Islam Iran, merekomendasikan kepada negara-negara Barat dan Eropa agar menghentikan tindakan anti-Iran mereka, karena opini publik dunia telah menyadari standar ganda dan kontradiksi mereka serta tidak lagi tertipu olehnya.

 

Ahmad Ajam mengatakan: Langkah-langkah politik dan peningkatan tekanan media negara-negara Barat tidak akan mampu menghalangi Korps Garda Revolusi Islam dalam membela cita-cita Revolusi Islam.(PH)