Narasi Baru dari Moskow: Iran Tawarkan Arsitektur Keamanan Kawasan Tanpa AS
https://parstoday.ir/id/news/iran-i190570-narasi_baru_dari_moskow_iran_tawarkan_arsitektur_keamanan_kawasan_tanpa_as
Pars Today - Wakil Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran menyatakan bahwa "Pakta Fir'aun" (merujuk pada Perjanjian Abraham yang diinisiasi AS) adalah akar permasalahan di kawasan. Ia juga mengatakan bahwa inisiatif Iran untuk menciptakan persamaan keamanan baru di kawasan telah disambut baik oleh negara-negara yang hadir.
(last modified 2026-05-29T06:38:06+00:00 )
May 29, 2026 13:36 Asia/Jakarta
  • Ali Bagheri, Wakil Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran
    Ali Bagheri, Wakil Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran

Pars Today - Wakil Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran menyatakan bahwa "Pakta Fir'aun" (merujuk pada Perjanjian Abraham yang diinisiasi AS) adalah akar permasalahan di kawasan. Ia juga mengatakan bahwa inisiatif Iran untuk menciptakan persamaan keamanan baru di kawasan telah disambut baik oleh negara-negara yang hadir.

Melansir Pars Today, 28 Mei 2026, Ali Bagheri, berbicara kepada wartawan di Moskow pada akhir kunjungan tiga harinya, mengatakan bahwa posisi Iran, bahwa setelah agresi AS dan rezim Zionis, harus ada persamaan baru untuk perdamaian dan stabilitas, disambut baik.

Persamaan baru ini, katanya, harus melibatkan negara-negara kawasan, menolak campur tangan AS, dan menolak pengaruh rezim Zionis.

Ia menambahkan bahwa pertemuan para pejabat keamanan tingkat tinggi merupakan platform untuk melawan uniteralisme AS.

Bagheri menyatakan bahwa rezim Zionis secara terbuka berupaya memperluas perbatasan ilegalnya dan menduduki lebih banyak negara. Proyek agresif yang tidak stabil yang disebut "Timur Tengah Raya" oleh AS kini dikejar oleh Zionis sebagai "Israel Raya". Kedua proyek tersebut memiliki sifat yang sama dan berakar pada uniteralisme AS.

Ia juga merujuk pada Perjanjian Abraham, yang dipromosikan sebagai pembawa perdamaian, tetapi menyebutnya sebagai "Pakta Fir'aun". Ia menuduh bahwa dalang di balik pakta ini adalah rezim pembunuh anak ala Firaun, dan mempromosikan ide ini hanya akan menyebarkan ketidakstabilan dan ketidakamanan di kawasan.

Di Moskow, Iran tidak hanya melobi, tetapi juga memimpin. Mereka menawarkan "jalan ketiga": sebuah tatanan keamanan kawasan yang independen dari AS, sekaligus mencerca perjanjian yang disponsori AS sebagai "Pakta Fir'aun". Ini adalah upaya Iran untuk membangun koalisi melawan proyek "Israel Raya" dan memperkuat poros perlawanan diplomatik.

"Abraham atau Fir'aun? Iran memilih untuk tidak bermain dalam narasi yang disponsori AS. Sambil menyebutnya sebagai kedok untuk hegemoni, mereka berkeliling dunia menawarkan arsitektur keamanan alternatif. Pertanyaannya, bisakah negara-negara kawasan berani mengambil langkah keluar dari bayang-bayang pangkalan AS, atau akan terus menjadi pion dalam papan catur 'Israel Raya'?"(Sail)