Wawancara Pars Today dengan Dr. Manijeh Firoozi
Sekilas tentang Ketahanan dan Empati Bangsa Iran
-
Dr. Manijeh Firoozi
Pars Today - Iran, tanah air yang terus berjalan; negeri di mana kehidupan selalu mengalir. Dr. Manijeh Firoozi, psikolog kesehatan dan dosen Universitas Tehran, percaya bahwa bangsa Iran, dengan mengandalkan budaya, sastra, empati, dan harapan, telah berhasil membangun salah satu masyarakat paling tangguh (resilien) di kawasan; masyarakat yang meskipun ada beberapa masalah, tetap memikirkan masa depan, menciptakan kehidupan, dan tidak berhenti bergerak.
Dr. Firoozi dalam wawancara dengan Pars Today berbicara tentang makna penderitaan, kematian, ketahanan (resiliensi), dan karakteristik yang, menurut keyakinannya, selalu membuat bangsa Iran tetap tegak. Berikut adalah bagian dari wawancara ini:
Tolong perkenalkan diri Anda?
Saya Manijeh Firoozi; memiliki gelar doktor dalam psikologi kesehatan dan fellowship psiko-onkologi dari Universitas Tehran. Sekarang saya adalah dosen senior (associate professor) di Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Universitas Tehran. Saya juga memiliki kursus virtual UNESCO di bidang spesialisasi saya.
Apa itu psikologi kesehatan dan mengapa Anda memilih bidang ini?
Psikologi kesehatan sebenarnya adalah bidang yang mempelajari secara psikologis emosi, pikiran, dan perilaku manusia. Berdasarkan spesialisasi saya, saya mendampingi pasien yang hidup dengan penyakit kronis, terutama kanker, dan berusaha membantu mereka dan keluarga mereka melewati masa sakit dengan lebih mudah dan tenang. Saya memilih bidang ini karena di dunia saat ini, dengan perubahan gaya hidup, perubahan iklim, polusi udara, dan banyak faktor lainnya, penyakit kronis meningkat, dan para penderita lebih dari sebelumnya membutuhkan dukungan, edukasi, dan pendampingan. Saya kehilangan saudara laki-laki saya karena kanker, dan setelah itu, saya menjadi lebih bertekad untuk membantu pasien dengan keahlian saya.
Jika Anda ingin memaknai hidup dalam satu pandangan, definisi apa yang Anda capai?
Saya pikir hidup adalah kelanjutan dari arus besar kemanusiaan; arus yang dimulai jutaan tahun lalu dan berlanjut dari generasi ke generasi hingga sampai kepada kita hari ini. Kita adalah kelanjutan dari mimpi, penderitaan, cinta, dan pengalaman dari generasi-generasi sebelum kita, dan setelah kita, sesuatu dari kita akan tetap ada di dunia. Sebenarnya, kita tidak hanya milik saat ini; kita terikat pada masa lalu dan juga terhubung dengan masa depan. Manusia berlanjut melalui kenangan, pengalaman, cinta, dan jejak yang ditinggalkannya. Mungkin keterhubungan dan keberlanjutan inilah makna hidup; bahwa tidak satu pun dari kita yang lahir tanpa makna.
Menurut Anda, apa tanggung jawab manusia terhadap kehidupan?
Kita dilahirkan untuk menggunakan kemampuan dan kapasitas keberadaan kita, untuk tumbuh, dan untuk mengalami kehidupan lebih dalam. Menurut saya, manusia bertanggung jawab terhadap kehidupan; bertanggung jawab untuk lebih mengenal dirinya sendiri, hidup lebih baik, dan menambahkan sesuatu kepada dunia.
Akhir-akhir ini sering disebut tentang "ketahanan" (resiliensi). Bagaimana Anda menjelaskan konsep ini?
Resiliensi berarti manusia mampu, meskipun ada penderitaan, kesulitan, dan kompleksitas kehidupan, untuk tetap bertahan dan melanjutkan hidup. Sejarah manusia adalah sejarah melanjutkan; nenek moyang kita, meskipun ada semua kesulitan, tetap hidup dan menyampaikan kehidupan kepada generasi berikutnya. Kita juga memiliki kapasitas ini dalam diri kita untuk melewati krisis dan bangkit kembali. Hidup tidak selalu harus mudah dan sesuai dengan keinginan kita, tetapi kita harus menjalaninya, melanjutkannya, dan memaknainya; bahkan jika akhirnya adalah kematian.
Apa makna kematian dalam pandangan dunia Anda?
Menurut keyakinan saya, makna kematian harus dicari dalam hati makna kehidupan. Seseorang yang telah mampu mengalami kehidupan secara mendalam, sadar, dan dengan segenap keberadaannya, dapat juga memberikan makna pada kematian. Pandangan ini memiliki akar yang dalam dalam sastra dan mistisisme kita. Dalam budaya Iran, kematian bukan sekadar akhir kehidupan; semacam pencapaian, transformasi, dan penyatuan dengan kebenaran yang lebih besar. Attar dalam Mantiq Al-Tayr (Musyawarah Burung) menceritakan jalan ini dengan indah; di mana burung-burung setelah perjalanan yang sulit dan panjang, pada akhirnya mencapai Simurgh. Manusia juga, di akhir perjalanan hidupnya, mendekati kebenaran yang lebih dalam dan abadi.
Karakteristik apa yang menurut Anda menyebabkan masyarakat Iran menjadi kuat dalam krisis?
Saya pikir masyarakat Iran memiliki modal yang membuatnya tidak runtuh di hari-hari sulit. Yang terpenting adalah ikatan antar manusia. Orang Iran dalam krisis lebih saling mendekat, dan rasa empati serta kebersamaan dalam masyarakat menjadi lebih kuat. Semakin sulit kondisinya, orang Iran semakin saling menjaga, lebih banyak berdiri bersama, dan lebih mudah mengorbankan diri mereka sendiri agar orang lain kurang menderita. Menurut saya, semangat kemanusiaan dan kolektif inilah salah satu alasan terpenting ketahanan masyarakat Iran.
Apa yang Anda lihat sebagai akar dari empati dan kebersamaan dalam masyarakat Iran?
Saya pikir akar dari empati ini sebagian besar kembali ke sejarah dan pengalaman kolektif kita. Tanah ini selama berabad-abad telah berulang kali mengalami perang, krisis, dan hari-hari sulit, dan ini telah membentuk semangat bertahan dan tetap bersama dalam budaya kita. Kita telah belajar bahwa meskipun ada semua perbedaan, di saat bahaya dan krisis, kita berdiri bersama; karena dalam ketidaksadaran kolektif kita, kita tahu bahwa keberlanjutan kita bergantung pada kebersamaan ini. Mungkin itu sebabnya semakin sulit kondisinya, perilaku manusiawi, empati, dan saling menjaga dalam masyarakat Iran menjadi lebih kuat.
Modal budaya dan sejarah apa yang telah membantu bangsa Iran melewati krisis?
Dalam budaya Iran-Islam kita, pandangan tentang kehidupan dan penderitaan bukanlah pandangan yang semata-mata material dan sementara; tetapi berakar pada makna, kebijaksanaan, dan keyakinan akan tujuan hidup. Pandangan dunia yang mendalam inilah salah satu modal terpenting kita dalam menghadapi krisis. Kita memiliki sastra yang sangat kaya; sastra yang mampu memaknai penderitaan dan kesulitan individu dan kolektif serta memberinya kedalaman. Memaknai penderitaan ini secara langsung membantu meningkatkan ketahanan dalam masyarakat. Dalam pandangan budaya dan agama bangsa Iran, hidup tidaklah tanpa makna, dan kematian tidak dianggap sebagai akhir yang kosong dan hampa. Bahkan kematian, jika disertai dengan martabat dan makna, dapat berada dalam kelanjutan kehidupan yang bermakna dan memberi nilai padanya. Jenis pandangan ini pada saat-saat sulit dalam sejarah telah membantu pembentukan rasa identitas, martabat, dan bahkan kebanggaan kolektif. Di sisi lain, sastra Persia bukan sekadar kumpulan puisi dan narasi; tetapi semacam tempat berlindung mental dan psikologis bagi manusia Iran. Dalam sastra ini, kita terus-menerus dihadapkan pada konsep-konsep seperti harapan, penderitaan, cinta, dan keberlanjutan. Kebermaknaan yang berkelanjutan ini menyebabkan manusia Iran tidak merasa hampa dalam krisis dan dapat mempertahankan kekuatan untuk terus melanjutkan.
Menurut Anda, bagaimana harapan dimaknai dalam masyarakat Iran?
Harapan ada di Iran. Narasi bangsa Iran bukanlah narasi ketidakberdayaan; itu adalah narasi kehidupan dan keberlanjutan. Kita melihat ini dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Bahkan di hari-hari sulit, kehidupan mengalir dalam masyarakat; dalam Perang Ramadan ini, kita telah berulang kali melihat bahwa setelah setiap serangan dan kejadian pahit, kehidupan kembali mengalir di kota; toko-toko buka, orang kembali ke jalan-jalan, dan masyarakat kembali sibuk dan ramai; keberlanjutan ini adalah tanda harapan.
Di suatu tempat Anda merujuk pada peran narasi manusia dalam mengatasi masalah. Menurut Anda, apa narasi bangsa Iran tentang kehidupan, dan apa perbedaan antara narasi ini dan pandangan putus asa dan tidak berdaya?
Menurut saya, narasi bangsa Iran tentang kehidupan lebih dari segalanya adalah narasi keberlanjutan dan menjaga arus kehidupan tetap hidup. Narasi ini, berbeda dengan pandangan yang didasarkan pada ketidakberdayaan dan penghentian, menekankan kemampuan untuk bergerak dan terus berlanjut, dan hal ini membantu memperkuat perasaan kekuatan dalam masyarakat. Tanda-tanda pandangan ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat; di mana bahkan dalam kondisi sulit dan saat-saat krisis, kehidupan tidak berhenti. Kelangsungan ini menunjukkan bahwa di kedalaman narasi ini, ada semacam keyakinan pada kehidupan dan kemampuan untuk terus berlanjut; keyakinan yang tidak membiarkan masyarakat berhenti dan menyerah dalam menghadapi kesulitan.
Jika Anda ingin menyebutkan tiga karakteristik menonjol bangsa Iran, hal apa yang akan Anda tunjuk?
Pertama, bahwa bangsa Iran pada dasarnya adalah orang-orang yang bahagia. Terutama dengan menurunnya tingkat kecemasan dan tekanan psikologis, orang Iran biasanya menjadi lebih bahagia dan lebih bersemangat. Sebagian dari karakteristik ini kembali ke iklim kita; kita adalah negara dengan sinar matahari yang melimpah, dan sinar matahari secara fisiologis mempengaruhi perasaan bahagia. Karakteristik kedua adalah kecerdasan bangsa Iran. Saya telah bekerja dengan mahasiswa selama bertahun-tahun, dan saya benar-benar percaya bahwa orang Iran sangat cerdas. Banyak pemuda Iran meskipun ada masalah, masih terus berusaha, belajar, dan menciptakan ide-ide baru. Karakteristik ketiga adalah kegigihan. Bangsa Iran adalah pekerja keras dan untuk mencapai tujuan mereka, mereka bekerja dengan tekun dan tidak mudah menyerah.
Apa karakteristik moral terpenting bangsa Iran menurut pandangan Anda?
Kebaikan, filantropi (cinta kemanusiaan), dan kesabaran. Menurut saya, masyarakat Iran masih memiliki kapasitas tinggi untuk empati dan saling menjaga, dan ini adalah karakteristik yang sangat berharga.
Apa arti tanah air bagi Anda?
Tanah air bagi saya berarti "rumah", dan rumah berarti segalanya; tempat di mana saya tinggal, bahagia, bersedih, memiliki ketenangan, mencintai, dan berusaha. Rumah memberi manusia identitas dan makna.
Apa harapan Anda untuk Iran?
Semakin berkembang; tentu saja kita memiliki musuh, tetapi Iran telah menemukan jalannya dan akan menemukannya. Saya pikir Iran, dengan mengandalkan kapasitas manusia, budaya, dan sosialnya, dapat membangun masa depan yang lebih cerah dan lebih tenang. (MF)