Kepercayaan Diri: Warisan Terbaik Orang Tua untuk Masa Depan Anak
-
Rasa percaya diri anak
Pars Today - Kepercayaan diri adalah salah satu pilar penting dalam perkembangan psikologis dan sosial anak, sebuah perasaan yang membantu mereka percaya pada kemampuan diri dan menghadapi tantangan kehidupan. Pembentukan karakteristik ini lebih dari segalanya bergantung pada suasana emosional keluarga, cara orang tua menyikapi keberhasilan dan kegagalan anak, serta kesempatan yang diberikan kepada anak untuk bereksperimen dan belajar bertanggung jawab.
Melansir IRNA, 13 Juni 2026, banyak orang tua bercita-cita membesarkan anak-anak yang percaya diri, mandiri, dan berdaya, anak-anak yang tidak takut mencoba pengalaman baru dan memiliki kemampuan mengambil keputusan saat menghadapi masalah. Namun terkadang, beberapa perilaku sehari-hari di keluarga, tanpa disadari, justru dapat melemahkan rasa mampu anak.
Terkait hal ini, kami berdialog dengan Maryam Yamin, psikolog anak, untuk menggali lebih dalam tentang akar kekurangan kepercayaan diri pada anak dan solusinya.
Kekurangan Kepercayaan Diri dan Pola Asuh yang Tidak Konsisten
Maryam Yamin menyebut salah satu faktor terpenting kekurangan kepercayaan diri anak adalah pola asuh yang tidak konsisten, dan mengatakan, "Ketika anak tidak tahu reaksi apa yang akan ia terima dari orang tua atas perilakunya, rasa aman psikologisnya menurun, dan hal ini berdampak pada citra dirinya."
Ia melanjutkan, "Dibandingkan dengan orang lain juga merupakan faktor yang dapat melemahkan kepercayaan diri anak. Misalnya, ketika orang tua terus-menerus berkata kepada anak, 'Lihat, kakakmu berapa cepat menyelesaikan tugasnya' atau 'Temanmu jadi juara di kelas', anak secara bertahap menerima pesan bahwa ia tidak cukup baik."
Kegagalan: Peluang untuk Belajar
Psikolog anak ini, dengan menekankan bahwa kegagalan adalah bagian alami dari pertumbuhan, mengatakan, "Jika anak setelah gagal menghadapi cercaan atau penghinaan, ia mungkin menganggapnya sebagai tanda ketidakmampuan dirinya. Padahal, pendampingan orang tua dapat mengubah pengalaman ini menjadi peluang belajar."
Menurut Yamin, jenis reaksi orang tua dalam situasi seperti ini sangat menentukan. Sebagai contoh, jika seorang anak tidak menang dalam kompetisi olahraga, alih-alih mengatakan kalimat seperti "Kenapa kamu tidak berusaha?", lebih baik orang tua bertanya, "Apa yang kamu pelajari dari pengalaman ini?" dan "Bagaimana kamu bisa melakukannya lebih baik lain kali?"
Ekspektasi Realistis terhadap Anak
Psikolog ini juga menyinggung peran ekspektasi orang tua, dan mengatakan: "Ekspektasi yang terlalu tinggi atau bahkan terlalu rendah dari kemampuan anak, keduanya dapat menciptakan perasaan tidak kompeten. Sebaliknya, memberikan tanggung jawab kecil tetapi nyata kepada anak membantu membentuk konsep diri yang positif."
Ia menjelaskan, "Misalnya, ketika seorang anak berusia tujuh tahun diminta membereskan mainannya atau membantu menata meja makan, ia menerima pesan bahwa ia mampu melakukan sesuatu. Pengalaman-pengalaman sederhana inilah yang membangun fondasi kepercayaan diri."
Peran Dialog dan Perhatian Orang Tua
Yamin menganggap mendengarkan secara aktif sebagai salah satu faktor penting dalam memperkuat kepercayaan diri, dan mengatakan, "Ketika anak merasa perkataannya didengar dan penting bagi orang tua, rasa berharga dirinya menguat. Bahkan percakapan sederhana sehari-hari pun dapat efektif dalam hal ini. Misalnya, ketika orang tua bertanya kepada anak, 'Apa yang kamu pelajari di sekolah hari ini?' atau 'Bagian mana dari harimu yang paling kamu sukai?', mereka sebenarnya menunjukkan bahwa pengalaman dan perasaannya penting."
Belajar Memecahkan Masalah
Psikolog ini menekankan, "Salah satu kesalahan umum orang tua adalah ingin menyelesaikan semua masalah anak dengan cepat. Padahal, lebih baik anak dilibatkan dalam menemukan solusi. Misalnya, jika anak mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolah, alih-alih orang tua langsung memberi tahu jawabannya, mereka dapat mendorong anak berpikir dengan mengajukan pertanyaan seperti, 'Menurutmu, dari mana kamu harus memulai?' atau 'Cara lain apa yang bisa dicoba?'"
Bermain: Latihan Kepercayaan Diri
Yamin menganggap bermain sebagai salah satu lahan terpenting untuk mengembangkan kepercayaan diri pada anak, dan mengatakan, "Dalam bermain, anak mendapat kesempatan untuk menguji kemampuannya, mengenal konsep menang dan kalah, serta melatih keterampilan sosial seperti kerja sama dan negosiasi. Misalnya, ketika anak-anak memainkan peran berbeda dalam permainan kelompok atau berusaha membangun struktur dengan LEGO, mereka sebenarnya sedang melatih perasaan 'saya bisa', perasaan yang secara bertahap berubah menjadi kepercayaan diri yang kokoh."
Peran Lingkungan Keluarga dalam Kepercayaan Diri
Psikolog ini di akhir menekankan, "Lingkungan keluarga adalah lahan terpenting bagi pembentukan kepercayaan diri anak. Rumah yang di dalamnya terdapat penerimaan, kestabilan, dorongan yang masuk akal, dan kesempatan untuk bereksperimen, menyediakan lahan bagi tumbuhnya anak yang lebih percaya diri dan kreatif. Gaya pengasuhan otoritatif, yang merupakan kombinasi ketegasan dan kelembutan, memiliki dampak positif terbesar pada perkembangan psikologis anak; gaya di mana anak mengenal batas-batas yang jelas dan sekaligus merasa didukung serta diperhatikan."
Ada kebenaran sederhana yang sering dilupakan: kepercayaan diri bukan bakat bawaan, melainkan bangunan yang disusun bata demi bata di rumah sendiri. Bukan dari pujian berlebihan atau perlindungan berlebihan, tetapi dari hal-hal kecil, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memberi tanggung jawab yang sesuai usia, membiarkan anak gagal dan belajar darinya.(Sail)