Pardeh-Keshi: "Bioskop Rakyat" Karbala yang Kini Membeku di Dalam Museum
https://parstoday.ir/id/news/iran-i191874-pardeh_keshi_bioskop_rakyat_karbala_yang_kini_membeku_di_dalam_museum
Di antara ritual-ritual Muharram, beberapa tradisi dikenal melalui suaranya seperti noheh-khani (pembacaan elegi) dan Ta'ziyeh (teater passion), beberapa lainnya melalui gerakan, seperti Nakhl-gardani dan iring-iringan duka. Namun, ada satu tradisi yang menyampaikan narasi peristiwa Asyura kepada penonton melalui gambar; sebuah seni yang selama bertahun-tahun hadir di alun-alun, takyeh, husainiyah, dan kedai kopi (qahveh-khaneh) di Iran, namun hari ini semakin jarang terlihat; seni "Pardeh-keshi
(last modified 2026-06-21T09:03:30+00:00 )
Jun 21, 2026 16:01 Asia/Jakarta
  • Kisah Asyura dalam gambar dari kain
    Kisah Asyura dalam gambar dari kain

Di antara ritual-ritual Muharram, beberapa tradisi dikenal melalui suaranya seperti noheh-khani (pembacaan elegi) dan Ta'ziyeh (teater passion), beberapa lainnya melalui gerakan, seperti Nakhl-gardani dan iring-iringan duka. Namun, ada satu tradisi yang menyampaikan narasi peristiwa Asyura kepada penonton melalui gambar; sebuah seni yang selama bertahun-tahun hadir di alun-alun, takyeh, husainiyah, dan kedai kopi (qahveh-khaneh) di Iran, namun hari ini semakin jarang terlihat; seni "Pardeh-keshi

Pardeh-keshi adalah tradisi di mana tirai-tirai (kanvas) besar yang dilukis dengan tema-tema Asyura dipertontonkan kepada masyarakat, dan para Pardeh-khan (pendongeng/pembaca tirai) menceritakan kisah Karbala dengan bersandar pada gambar-gambar tersebut. Para peneliti seni tradisional meyakini bahwa Pardeh-keshi harus dianggap sebagai salah satu cabang penting dari lukisan rakyat Iran.

Kanvas Raksasa: Media Massa Sebelum Ada Media

Tirai-tirai Asyura dapat dianggap sebagai salah satu manifestasi terpenting dari seni rakyat Iran. Karya-karya ini biasanya dilukis di atas kain atau kanvas besar dan menampilkan kumpulan narasi Karbala dalam satu bingkai. Para Pardeh-khan berdiri di depan karya-karya ini dan dengan menunjuk ke arah gambar, mereka menceritakan kisah perjalanan Imam Husein as, pertempuran Asyura, kesyahidan para sahabat, dan peristiwa-peristiwa setelahnya kepada masyarakat.

Faktanya, sebelum meluasnya media modern, tirai-tirai Asyura adalah salah satu alat terpenting untuk mentransfer narasi-narasi keagamaan.

Banyak dari tirai Asyura ini diciptakan dalam tradisi lukisan Qahveh-khaneh (kedai kopi); sebuah aliran seni yang berkembang pesat sejak akhir era Qajar dan karena hubungannya yang langsung dengan rakyat, menemukan tempat khusus dalam budaya populer. Dalam gaya ini, para seniman alih-alih menggarap tema-tema istana, mereka beralih ke cerita-cerita keagamaan, epik, dan nasional, serta menciptakan karya mereka untuk pertunjukan publik. Asyura adalah salah satu tema terpenting dari lukisan-lukisan ini.

Nama-nama seperti Hossein Qollar-Aqasi dan Mohammad Modabber berada di antara seniman-seniman paling menonjol di bidang ini. Karya mereka tidak hanya abadi dalam memori budaya bangsa Iran, tetapi hari ini juga disimpan di museum-museum dan koleksi seni.

Mengapa Tirai Asyura Menjauh dari Masyarakat?

Di zaman ketika buku, surat kabar, dan alat-alat visual belum terjangkau oleh umum, tirai-tirai Asyura memiliki peran yang melampaui sekadar karya seni. Mereka adalah alat pendidikan, narasi, dan transfer konsep-konsep agama. Pardeh-khan dengan bantuan gambar, menceritakan kisah kepada penonton yang banyak di antaranya tidak memiliki kemungkinan untuk membaca teks-teks sejarah atau agama. Oleh karena itu, tirai-tirai ini adalah bagian dari sistem komunikasi dan budaya masyarakat.

Namun, mengapa mereka memudar?

Dengan meluasnya media baru, televisi, sinema, pencetakan digital, dan produksi massal gambar-gambar keagamaan, fungsi tradisional tirai Asyura secara bertahap memudar. Para pemberi pesanan tradisional karya-karya ini, yang utamanya adalah takyeh, husainiyah, dan kedai kopi, semakin jarang melirik tirai-tirai buatan tangan, dan perlahan jumlah seniman yang aktif di bidang ini berkurang.

Terjebak di Balik Kaca Museum

Bersamaan dengan berkurangnya penggunaan publik atas tirai-tirai Asyura, banyak karya lama dipindahkan ke museum. Pemindahan ini meskipun membantu pelestarian fisik karya, tetapi menyebabkan mereka terlepas dari ruang alami dan fungsi asli mereka.

Hari ini, tirai-tirai Asyura disimpan di berbagai museum dan khazanah negara. Beberapa karya unggulan juga telah dihibahkan ke koleksi museum dalam beberapa tahun terakhir. Di antaranya adalah "Tirai Peristiwa Asyura" karya Hossein Qollar-Aqasi yang disimpan di Museum Nasional Malek.

Para ahli warisan budaya meyakini bahwa pelestarian tirai Asyura tidak boleh hanya terbatas pada penjagaan fisiknya. Yang paling penting adalah menjaga pengetahuan dan keterampilan yang terkait dengan penciptaan karya ini, serta menghidupkan kembali tradisi pertunjukan yang bergantung padanya; karena tirai yang diciptakan untuk narasi, baru menemukan maknanya ketika narasi itu juga hidup di sampingnya.

Hari ini, tirai-tirai Asyura berada di titik sensitif dalam sejarahnya. Mungkin pertanyaan terpenting adalah: apakah mereka hanya akan berubah menjadi benda-benda untuk dipajang di museum, atau dapatkah mereka dikembalikan ke dalam tekstur kehidupan budaya masyarakat?[]