Ketika Hormuz Mengubah Perhitungan Perdagangan Maritim
https://parstoday.ir/id/news/world-i194170-ketika_hormuz_mengubah_perhitungan_perdagangan_maritim
Pars Today - Laporan tahunan "Keselamatan dan Pelayaran 2026" dari perusahaan asuransi Allianz menunjukkan bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz telah membawa industri transportasi laut dan rantai pasok global ke dalam tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selain meningkatkan biaya operasional dan asuransi, hal ini juga mempengaruhi keselamatan pelaut dan keberlanjutan rute perdagangan strategis.
(last modified 2026-08-01T09:27:31+00:00 )
Aug 01, 2026 16:17 Asia/Jakarta
  • Kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz
    Kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz

Pars Today - Laporan tahunan "Keselamatan dan Pelayaran 2026" dari perusahaan asuransi Allianz menunjukkan bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz telah membawa industri transportasi laut dan rantai pasok global ke dalam tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selain meningkatkan biaya operasional dan asuransi, hal ini juga mempengaruhi keselamatan pelaut dan keberlanjutan rute perdagangan strategis.

Sebagaimana dilaporkan IRNA, Sabtu, 1 Agustus 2026, penutupan Selat Hormuz yang belum pernah terjadi sebelumnya dan penurunan 70 persen lalu lintas di Terusan Suez telah membawa perdagangan senilai 125 miliar dolar AS di perairan Teluk Persia ke dalam tantangan keamanan dan kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Laporan terbaru dari Allianz, yang dirilis pada Juni 2026, menekankan bahwa meningkatnya risiko keamanan di titik-titik penyempitan strategis dunia tidak hanya memaksa penataan ulang rantai pasok, tetapi juga meningkatkan biaya klaim lambung kapal hingga 33 persen dibandingkan era prapandemi.

Perusahaan asuransi Jerman ini menyebut Selat Hormuz sebagai salah satu jalur energi terpenting di dunia, yang akibat ketegangan Asia Barat baru-baru ini mengalami gangguan serius dalam lalu lintas kapal, menempatkan ribuan kapal dan pelaut dalam risiko keamanan. Situasi ini telah menyebabkan penurunan lalu lintas laut, gangguan pasokan barang, dan peningkatan tekanan pada rantai pasok global.

Berdasarkan laporan ini, hingga pertengahan Juni 2026, sekitar 1.150 kapal dagang dengan total kapasitas 29 juta ton kotor beroperasi di perairan Teluk Persia, dengan nilai kapal dan muatan diperkirakan mencapai sekitar 125 miliar dolar AS. Hal ini semakin menunjukkan pentingnya ekonomi dan geopolitik Selat Hormuz. Allianz menekankan bahwa bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya (sekitar 140 kapal per hari), pemulihan lalu lintas laut ke tingkat prakrisis akan memerlukan jaminan keamanan yang stabil dan kerja sama internasional yang luas.

Gangguan Berkelanjutan pada Rute Strategis

Allianz juga merujuk pada dampak serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab. Dalam laporannya, perusahaan tersebut menulis bahwa perkembangan ini, sejak akhir tahun 2023, telah menyebabkan penurunan 70 persen lalu lintas di Terusan Suez. Akibatnya, banyak perusahaan pelayaran mengalihkan rute kapal mereka ke Tanjung Harapan, yang meningkatkan waktu pengiriman barang, biaya bahan bakar, dan operasi laut.

Menurut para penulis laporan, yang juga diterbitkan ulang oleh Lembaga Penelitian Asuransi, meningkatnya risiko keamanan di jalur perairan strategis dunia telah mengubah rute perdagangan tradisional dan mengurangi kapasitas efektif armada transportasi laut. Hal ini menyebabkan fluktuasi tarif angkutan yang berkelanjutan dan peningkatan biaya perdagangan global.

Krisis Kemanusiaan di Laut dan Peningkatan Kerusakan Maritim

Allianz memperingatkan bahwa dampak krisis tidak terbatas pada perdagangan dan ekonomi, sekitar 20.000 pelaut menghadapi kondisi operasional yang sulit, kekurangan barang konsumsi, dan tekanan psikologis yang berat akibat ketegangan regional. Kondisi ini, bersama dengan fenomena "penelantaran pelaut" yang berlangsung selama enam tahun berturut-turut, meningkatkan kekhawatiran tentang kekurangan tenaga kerja terampil di industri pelayaran.

Menurut laporan ini, konflik di Asia Barat, selain kerusakan langsung pada kapal dan muatan, juga berdampak pada biaya asuransi laut. Para penanggung asuransi laut menghadapi peningkatan klaim kerusakan akibat serangan rudal dan drone terhadap kapal kontainer, kapal tanker, dan kapal curah. Pada saat yang sama, tingkat premi asuransi lambung kapal dan kargo juga meningkat.

Laporan ini juga memperkirakan bahwa biaya klaim lambung kapal dan mesin akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang, terutama karena kenaikan harga energi, gangguan rantai pasok, dan kesulitan mendapatkan suku cadang, yang semakin meningkatkan biaya perbaikan.

Perusahaan asuransi ini menekankan bahwa industri pelayaran global telah memasuki fase di mana "ketahanan" menjadi lebih penting daripada "penghematan biaya". Meningkatnya ketegangan geopolitik di Asia Barat, kerentanan jalur perairan strategis, dan meningkatnya ketidakpastian keamanan telah mendorong perdagangan laut dunia menuju "keseimbangan baru" yang ditandai dengan risiko yang lebih tinggi, biaya yang lebih besar, dan kebutuhan untuk menata ulang rantai pasok.(Sail)