Ghalibaf: Iran dan Irak Berperan Kunci dalam Tatanan Regional Baru
https://parstoday.ir/id/news/iran-i195368-ghalibaf_iran_dan_irak_berperan_kunci_dalam_tatanan_regional_baru
Ketua Parlemen Republik Islam Iran, dalam menjelaskan hasil kunjungan selama tiga hari ke Irak, mengatakan bahwa suasana perundingan dengan para pejabat tinggi Irak berlangsung akrab, hangat, dan penuh persaudaraan.
(last modified 2026-08-22T08:09:41+00:00 )
Aug 22, 2026 15:04 Asia/Jakarta
  • Ghalibaf: Iran dan Irak Berperan Kunci dalam Tatanan Regional Baru

Ketua Parlemen Republik Islam Iran, dalam menjelaskan hasil kunjungan selama tiga hari ke Irak, mengatakan bahwa suasana perundingan dengan para pejabat tinggi Irak berlangsung akrab, hangat, dan penuh persaudaraan.

Menurutnya, pembicaraan tersebut menjadi kesempatan untuk membahas berbagai persoalan keamanan, politik, ekonomi, dan budaya, sekaligus kerja sama kedua negara dalam mewujudkan keamanan berkelanjutan di kawasan.

Menurut laporan Pars Today yang mengutip IRIB, Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam konferensi pers pada Jumat malam setelah mengakhiri kunjungannya ke Irak, mengatakan:

“Saat ini, pasukan asing dan koalisi asing yang berada di negara ini dan masih bertahan selama beberapa tahun setelah pendudukan Irak, sedang berada di ambang penarikan akhir dan permanen. Dengan demikian, wilayah dan udara Irak akan terbebas dari pendudukan mereka. Independensi serta kedaulatan penuh Irak, rakyatnya, dan pemerintahnya akan terwujud tanpa kehadiran pasukan asing. Ini merupakan langkah yang sangat penting dan fundamental.”

Ia kemudian menjelaskan bahwa sebagian pembicaraan berfokus pada persoalan keamanan. Iran dan Irak telah menandatangani perjanjian dan nota kesepahaman yang komprehensif mengenai masalah keamanan dan keamanan perbatasan. Dalam kunjungan tersebut, kedua pihak membahas dan menindaklanjuti aspek implementasinya. Mereka juga membahas persoalan keamanan Irak serta berbagai kelompok di Irak.

“Namun, saya ingin menegaskan dengan jelas bahwa kami tidak pernah mencampuri urusan dalam negeri Irak,” ujarnya.

Ketua lembaga legislatif Iran itu menambahkan bahwa setiap kesepakatan yang dicapai kelompok-kelompok dan para pejabat Irak dalam kerangka konstitusi negara mereka, dengan tetap menjaga kemerdekaan, kedaulatan, dan pemerintahan mereka sendiri, tentu akan didukung oleh Republik Islam Iran sebagai negara tetangga, saudara, dan sahabat Irak, yang juga memiliki kepentingan dalam keamanan Irak serta dapat membantu mewujudkan keamanan yang berkelanjutan.

Ghalibaf kemudian menyoroti pentingnya hubungan bilateral dan pengaruhnya terhadap hubungan regional. Ia mengatakan:

“Kami meyakini bahwa negara sahabat dan saudara kami, Irak, memiliki posisi yang berbeda dalam berbagai aspek. Irak adalah negara pertama yang dengannya kita dapat bekerja sama secara bersama-sama untuk memainkan peran yang sangat penting dalam mewujudkan keamanan berkelanjutan di kawasan dalam tatanan regional baru. Kita berdua dapat mengambil langkah yang lebih besar daripada sebelumnya dalam hal ini.”

Ia mengatakan bahwa, sebagaimana telah disampaikannya sebelumnya baik selama maupun pada masa perang 40 hari, saat ini lebih dari sebelumnya umat Islam, pemerintahan Islam, dan negara-negara kawasan, khususnya negara-negara Teluk Persia, telah menyadari dan meyakini kenyataan bahwa kehadiran penjajah dan Amerika Serikat di kawasan serta tindakan provokatif rezim Zionis tidak akan menciptakan keamanan. Sebaliknya, semua itu hanya menghasilkan ketidakamanan dan kerugian.

Ghalibaf menegaskan bahwa kenyataan tersebut kini sudah terlihat jelas bagi negara-negara kawasan.

“Saya telah mengatakan dalam dua atau tiga wawancara dan menuliskannya dalam dua atau tiga artikel selama perang bahwa kami lebih siap daripada sebelumnya untuk membangun keamanan berkelanjutan yang bersumber dari dalam kawasan, melalui kerja sama dan solidaritas seluruh negara kawasan,” ujarnya.

Ketua Parlemen Iran itu juga mengatakan bahwa pembicaraan mengenai persoalan ekonomi dengan pihak Irak berlangsung secara luas, baik dengan sektor swasta maupun pemerintah Irak.

Menurutnya, sanksi telah memberikan tekanan terhadap Irak maupun Iran, tetapi situasi tersebut sekaligus dapat menjadi peluang besar untuk mempererat kerja sama antara kedua negara.