Brigjen Ibn al-Ridha: Kami Tidak akan Membiarkan Iran Diserang
https://parstoday.ir/id/news/iran-i195338-brigjen_ibn_al_ridha_kami_tidak_akan_membiarkan_iran_diserang
Pelaksana Menteri Pertahanan dan Dukungan Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Sayid Majid Ibn al-Ridha mengatakan, “Kami memasuki medan perang Ramadan dengan kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan Perang 12 Hari. Selain itu, kejutan-kejutan kami dalam bidang teknik dan taktik pada Perang Ramadan juga jauh lebih maju dibandingkan perang sebelumnya.
(last modified 2026-08-21T14:54:31+00:00 )
Aug 21, 2026 21:12 Asia/Jakarta
  • Pelaksana Menteri Pertahanan dan Dukungan Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Sayid Majid Ibn al-Ridha.
    Pelaksana Menteri Pertahanan dan Dukungan Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Sayid Majid Ibn al-Ridha.

Pelaksana Menteri Pertahanan dan Dukungan Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Sayid Majid Ibn al-Ridha mengatakan, “Kami memasuki medan perang Ramadan dengan kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan Perang 12 Hari. Selain itu, kejutan-kejutan kami dalam bidang teknik dan taktik pada Perang Ramadan juga jauh lebih maju dibandingkan perang sebelumnya.

Pars Today - Hal itu disampaikan Ibn al-Ridha pada hari Jumat (21/8/2026) menjelang peringatan Hari Industri Pertahanan Iran yang jatuh pada 31 Murdad 1405 HS/22 Agustus 2026, seperti dilansir IRNA.

“Universitas-universitas, laboratorium ilmu pengetahuan dan penelitian, perusahaan-perusahaan berbasis pengetahuan, para ilmuwan, insinyur, pekerja, para ahli, serta ribuan pemuda Iran yang saat ini bekerja siang dan malam untuk menjaga keamanan dan kewibawaan Iran, hanyalah sebagian dari industri pertahanan negara,” ujarnya.

Dia menegaskan: “Kekuatan pertahanan Iran saat ini bukan untuk melakukan perang, melainkan untuk mencegah perang dan agresi. Kami tidak pernah menjadi pihak yang memulai agresi terhadap negara mana pun dan tidak akan pernah melakukannya. Kami bukan pihak yang melakukan agresi militer, tetapi kami juga tidak akan membiarkan adanya agresi militer terhadap wilayah, kemerdekaan, dan keamanan Iran.”

Brigjen Ibn al-Ridha mengatakan bahwa pengalaman perang baru-baru ini merupakan sebuah pelajaran besar. “Perang ini, dengan segala kepahitan, biaya, dan duka mendalam yang ditinggalkannya bagi bangsa Iran, merupakan sebuah medan ujian yang besar. Kami kehilangan orang-orang tercinta, termasuk pemimpin umat (Rahbar), para komandan, para ilmuwan, dan perempuan dan anak-anak yang gugur secara mazlum dalam perang ini. Duka atas para syuhada tidak akan pernah kami lupakan. Namun, di balik kepahitan besar tersebut, bangsa Iran menyaksikan sebuah kenyataan besar, yaitu kekuatan kepercayaan diri nasional,” tegasnya.

Dia menuturkan, “Perang ini menunjukkan bahwa apabila bangsa Iran berdiri di atas kaki sendiri, mempercayai generasi mudanya, menghadirkan ilmu pengetahuan dan teknologi ke medan perjuangan, serta bersatu dan solid satu sama lain, maka bangsa ini mampu menghadapi dan bertahan dari segala ancaman.”

Brigjen Ibn al-Ridha menyebut persatuan dan solidaritas nasional sebagai pelajaran lain dari perang baru-baru ini. Dia mengatakan: “Di mana pun rakyat dan kekuatan pertahanan negara berdiri bersama, Iran dengan penuh kekuatan mengerahkan seluruh kapasitasnya untuk menghadapi musuh.”

Ketika membandingkan Perang 12 Hari dan Perang 40 Hari, dia mengatakan: “Kami memasuki medan Perang Ramadan dengan kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan Perang 12 Hari. Demikian pula, kejutan-kejutan kami dalam bidang teknik dan taktik pada Perang Ramadan telah berkembang jauh lebih maju dibandingkan perang sebelumnya.”

“Di sisi lain, tingkat penetrasi Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran hingga ke kedalaman pangkalan-pangkalan musuh, jumlah helikopter dan pesawat operasional maupun pengintai musuh yang berhasil dijatuhkan, penguasaan terhadap aktivitas regional musuh, serta pelaksanaan operasi-operasi yang menyakitkan terhadap musuh, semuanya jauh lebih besar dibandingkan perang kedua yang dipaksakan terhadap Iran,” pungkasnya. (RA)