Salehi-Amiri: Afrika Selatan adalah Pintu Masuk Iran ke Pasar Pariwisata Afrika
Menteri Warisan Budaya, Pariwisata, dan Kerajinan Tangan Iran mengatakan: Afrika Selatan dapat menjadi pintu masuk Iran ke pasar pariwisata Afrika, dan kerja sama kedua negara harus segera dialihkan dari dialog menuju tindakan nyata.
Menurut laporan Pars Today yang mengutip IRIB, Sayyed Reza Salehi-Amiri, Menteri Warisan Budaya, Pariwisata, dan Kerajinan Tangan Iran, pada Jumat malam bertemu dengan Patricia de Lille, Menteri Pariwisata Afrika Selatan, di sela-sela KTT BRICS di India. Dalam pertemuan tersebut, ia menekankan perlunya mengarahkan kerja sama kedua negara menuju langkah-langkah konkret dan ekonomi.
Mengenai potensi pariwisata Iran, Salehi-Amiri mengatakan bahwa Iran memiliki lebih dari satu juta peninggalan bersejarah, 43.000 situs yang terdaftar sebagai warisan nasional, dan 30 situs yang telah terdaftar sebagai warisan dunia. Selain itu, 27 warisan budaya takbenda Iran juga telah masuk dalam daftar warisan dunia.
Salehi-Amiri menyebut menghubungkan sektor swasta Iran dan Afrika Selatan sebagai bidang kerja sama pertama. Menurutnya, agen-agen perjalanan, perusahaan penerbangan, dan hotel dari kedua negara perlu saling terhubung, sementara pemerintah harus menyediakan landasan bagi interaksi langsung antara sektor swasta.
Menteri Warisan Budaya Iran tersebut menyebut penyusunan dokumen kerja sama dan kerangka implementasi yang jelas sebagai bidang kerja sama berikutnya. Ia mengatakan bahwa berbagai kesepahaman harus diterjemahkan menjadi program-program operasional dengan jadwal pelaksanaan yang jelas.
Sementara itu, Patricia de Lille, Menteri Pariwisata Afrika Selatan, juga menekankan pentingnya mengembangkan kerja sama pariwisata. Ia mengatakan: “Kita harus melampaui tahap dialog dan beralih menuju tindakan nyata.”
Ia menyebut pariwisata sebagai instrumen efektif untuk mendorong pembangunan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja, serta mengundang Menteri Warisan Budaya Iran untuk menghadiri Forum Investasi Afrika Selatan pada 30 September.
Pada akhir pertemuan, kedua pihak menekankan pentingnya memperkuat hubungan antarsektor swasta, mengembangkan pemasaran bersama, menyelenggarakan program kunjungan pengenalan (familiarization tours), serta mengubah dialog politik menjadi proyek-proyek pariwisata yang konkret.