Stres dan Sifat Kepribadian: Faktor Tersembunyi di Balik Perilaku Mengemudi Berisiko
https://parstoday.ir/id/news/iran-i195816-stres_dan_sifat_kepribadian_faktor_tersembunyi_di_balik_perilaku_mengemudi_berisiko
Pars Today - Para peneliti dalam sebuah studi baru menyelidiki apakah sifat kepribadian dan beberapa indikator fisik dapat memengaruhi cara orang mengemudi, terutama pengemudi muda.
(last modified 2026-08-29T06:01:16+00:00 )
Aug 29, 2026 12:54 Asia/Jakarta
  • Mengemudi dengan stres
    Mengemudi dengan stres

Pars Today - Para peneliti dalam sebuah studi baru menyelidiki apakah sifat kepribadian dan beberapa indikator fisik dapat memengaruhi cara orang mengemudi, terutama pengemudi muda.

Melaporkan dari ISNA, Sabtu, 29 Agustus 2026, mengemudi bukan hanya tentang menggerakkan kendaraan dari satu titik ke titik lain, tetapi merupakan perilaku manusia dan sosial yang kompleks di mana pengambilan keputusan, perhatian, kontrol emosi, dan respons terhadap lingkungan semuanya berperan secara bersamaan. Karena itu, meneliti perilaku pengemudi hanya dari sudut pandang teknis tidaklah cukup, dan karakteristik individu mereka juga harus dipertimbangkan.

Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti telah berulang kali menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti kecemasan, agresi, ekstroversi, atau bahkan tingkat stabilitas psikologis dapat memengaruhi cara orang mengemudi. Hal ini menjadi sangat penting di negara-negara di mana angka kecelakaan lalu lintas masih tinggi. Dalam kondisi seperti itu, pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan perilaku berisiko dapat membantu merancang pelatihan yang lebih efektif dan kebijakan keselamatan yang lebih baik untuk mengemudi.

Pentingnya topik ini semakin meningkat karena kecelakaan lalu lintas tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah. Dalam hal ini, pengemudi muda biasanya berada pada risiko yang lebih tinggi karena pengalaman yang lebih sedikit dan kecenderungan yang lebih besar terhadap perilaku seperti kecepatan tinggi. Di sisi lain, beberapa kondisi psikologis seperti depresi dan kecemasan dapat memperlambat waktu reaksi atau meningkatkan kemungkinan keputusan yang salah.

Sebaliknya, sifat-sifat seperti kesadaran (conscientiousness) dan kemampuan penalaran yang lebih baik telah dikaitkan dengan mengemudi yang lebih aman. Karena itu, penggunaan alat seperti simulator mengemudi untuk meneliti perilaku individu dalam lingkungan yang terkendali memungkinkan para peneliti untuk mempelajari efek faktor-faktor ini secara lebih akurat tanpa menciptakan risiko nyata, dan mencapai pemahaman yang lebih praktis tentang akar perilaku berisiko.

Dalam kerangka ini, Amin Faridi Aghdam dari Departemen Perencanaan Transportasi, Fakultas Teknik, Universitas Internasional Imam Khomeini (ra) di Qazvin, bersama dengan dua rekan universitas dan bekerja sama dengan University of Texas di Austin, AS, melakukan penelitian tentang hubungan antara karakteristik fisik dan kepribadian pengemudi dengan perilaku mengemudi di lingkungan simulator. Penelitian ini pada dasarnya berupaya menjelaskan, dengan cara yang lebih sederhana, hubungan antara karakteristik individu pengemudi dan kinerja mereka di belakang kemudi, dan bagaimana pemahaman ini dapat digunakan untuk mengurangi pelanggaran dan meningkatkan keselamatan.

Dalam penelitian ini, 120 mahasiswa berusia 18 hingga 25 tahun berpartisipasi secara sukarela. Data yang diperlukan dikumpulkan dari beberapa sumber yang berbeda untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang status peserta. Para peneliti menggunakan kuesioner kepribadian untuk mengukur beberapa sifat kepribadian; kuesioner demografis dan riwayat kecelakaan juga diberikan kepada para peserta.

Selain itu, beberapa pengukuran fisiologis seperti detak jantung dicatat untuk menentukan bagaimana kondisi stres memengaruhi tubuh dan kinerja pengemudi. Akhirnya, keterampilan mengemudi praktis peserta dievaluasi dalam simulator mengemudi. Simulator mengemudi adalah lingkungan yang merekonstruksi kondisi mengemudi nyata, tetapi tanpa risiko kecelakaan nyata. Dengan cara ini, para peneliti dapat memeriksa ketepatan penggunaan peralatan kendaraan, kontrol kopling, perpindahan gigi, dan beberapa perilaku mengemudi dalam kondisi yang aman.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa stres dan sifat kepribadian memainkan peran penting dalam perilaku mengemudi. Individu dengan stres yang lebih tinggi berkinerja lebih buruk dalam penggunaan beberapa peralatan mengemudi secara tepat, seperti lampu sein, dan juga menunjukkan kinerja yang lebih rendah dalam perpindahan gigi. Selain itu, peningkatan detak jantung dalam kondisi stres menunjukkan hubungan yang signifikan dengan penurunan kinerja teknis dalam mengemudi, terutama dalam kontrol kopling dan perpindahan gigi. Temuan ini menunjukkan bahwa tekanan psikologis bukan hanya perasaan internal, tetapi juga dapat secara langsung memengaruhi kualitas kontrol kendaraan dan meningkatkan kemungkinan kesalahan.

Di bagian lain temuan, terungkap bahwa individu yang ekstrovert menunjukkan perilaku yang lebih berisiko, dan neurotisisme juga terkait dengan peningkatan kesalahan teknis dalam mengemudi. Tentu saja, para peneliti tidak menemukan hubungan yang signifikan antara karakteristik fisiologis dan riwayat kecelakaan. Ini menunjukkan bahwa kecelakaan bukan hanya hasil dari satu faktor individu, dan kondisi lingkungan, pengalaman mengemudi, dan mungkin faktor-faktor lain juga berperan. Dengan kata sederhana, seorang individu mungkin berkinerja buruk dalam situasi stres, tetapi ini saja tidak cukup untuk memprediksi riwayat kecelakaan secara pasti.

Pentingnya temuan ini terletak pada kenyataan bahwa mereka menunjukkan bahwa pelatihan mengemudi tidak boleh terbatas pada keterampilan mekanis dan peraturan lalu lintas. Jika stres dapat mengurangi ketepatan pengemudi dan beberapa sifat kepribadian terkait dengan perilaku berisiko, maka program pelatihan juga harus memperhatikan keterampilan lain seperti manajemen stres, kesadaran diri, dan pengambilan keputusan.

Kesadaran diri di sini berarti individu mengetahui dalam kondisi apa mereka cenderung membuat lebih banyak kesalahan dan bagaimana mereka dapat mengontrol reaksi mereka dengan lebih baik. Pendekatan semacam itu dapat sangat bermanfaat bagi pengemudi muda, sebuah kelompok yang biasanya memiliki pengalaman lebih sedikit dan mungkin membuat keputusan yang lebih berisiko dalam situasi emosional.

Studi ini juga menunjukkan bahwa penggunaan teknologi yang lebih canggih di masa depan dapat membantu mengidentifikasi momen-momen berisiko. Misalnya, jika alat yang lebih akurat dapat mencatat perubahan fisik seperti detak jantung secara bersamaan dengan status mengemudi, mungkin peringatan dapat dirancang untuk momen penurunan konsentrasi atau peningkatan ketegangan.

Namun, para peneliti mencatat bahwa penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, termasuk ukuran sampel yang relatif kecil, penggunaan alat sederhana untuk mengukur beberapa karakteristik fisik, dan tidak ditelitinya beberapa faktor psikologis dan lingkungan. Karena itu, hasil penelitian ini harus dianggap sebagai langkah penting namun awal dalam perjalanan menuju pemahaman yang lebih akurat tentang perilaku mengemudi.

Temuan penelitian ilmiah yang menarik ini diterbitkan dalam "Jurnal Teknik Lalu Lintas" (Faslnameh-ye Mohandesi-ye Teraffic), sebuah jurnal yang diterbitkan oleh Organisasi Transportasi dan Lalu Lintas Kota Tehran, yang membahas topik-topik yang berkaitan dengan lalu lintas, keselamatan, dan transportasi.

"Penelitian ini menyelidiki hubungan antara stres, sifat kepribadian, dan perilaku mengemudi pada 120 pengemudi muda (18–25 tahun) menggunakan simulator mengemudi.

Temuan Utama:

Stres: Stres yang lebih tinggi berkorelasi dengan penurunan kinerja teknis dalam mengemudi (penggunaan lampu sein, kontrol kopling, perpindahan gigi). Peningkatan detak jantung dalam kondisi stres juga terkait dengan penurunan kontrol kendaraan.

Sifat Kepribadian: Individu ekstrovert menunjukkan perilaku mengemudi yang lebih berisiko. Neurotisisme (kecenderungan kecemasan dan emosi negatif) terkait dengan peningkatan kesalahan teknis.

Riwayat Kecelakaan: Tidak ada hubungan langsung yang ditemukan antara karakteristik fisiologis dan riwayat kecelakaan, yang menunjukkan bahwa kecelakaan dipengaruhi oleh banyak faktor (lingkungan, pengalaman, dll.).

Implikasi:

Pelatihan mengemudi harus mencakup manajemen stres, kesadaran diri, dan pengambilan keputusan, bukan hanya keterampilan teknis.

Teknologi masa depan dapat memantau tanda-tanda fisiologis (seperti detak jantung) untuk memberikan peringatan saat konsentrasi menurun atau stres meningkat."(Sail)