Penuturan Doktor Fahimeh Mostafavi Tentang Ayahnya, Imam Khomeini ra (4)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i24070-penuturan_doktor_fahimeh_mostafavi_tentang_ayahnya_imam_khomeini_ra_(4)
Mohon Jelaskan sedikit kenangan anda tentang perjuangan Imam Khomeini ra!
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Okt 25, 2016 13:08 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Mohon Jelaskan sedikit kenangan anda tentang perjuangan Imam Khomeini ra!

Sejak awal beliau bertahan di hadapan kezaliman dan imperialis dunia. Karena duka dan kesedihan orang-orang miskin dan teraniaya adalah duka dan kesedihan Imam Khomeini. Keselamatan dan kebebasan mereka adalah keselamatan dan kebebasan beliau. Beliau hanya menjalankan kewajibannya. Setelah beliau membongkar dan menyerang Amerika secara langsung melalui pidatonya,  pemerintah despotik menangkap beliau yang kedua kalinya. Berita menyebar bahwa penangkapan Imam Khomeini kali ini akan berakhir dengan kematian pasti beliau. Ibu kami yang masih muda menyaksikan serangan orang-orang bersenjata bak rayap dan belalang yang memanjat dan turun dari pagar tembok kuno rumah untuk menangkap Imam Khomeini. Imam Khomeini keluar ke teras dan dengan suara yang lantang berkata:

“Mengapa mereka datang melalui pagar tembok? Aku siap.”

Mereka membawa Imam. Ibu kami yang sedang khawatir, benar-benar gemetaran meski sudah berselimut sebanyak empat potong. Ketika kami menanyakan kondisinya, beliau berkata, “Putriku! Aku baik-baik saja. Tapi aku tidak tahu mengapa aku gemetaran seperti ini!” Ucapan ini benar-benar membakar hati saya dan sangat sulit bagi saya ketika mengingatnya. Apa yang terjadi pada hari itu, bagi keluarga kami bak para tawanan Karbala. Untuk menyelamatkan diri dari kezaliman dan kekejaman rezim [Shah Pahlevi] kami dibawa melalui gang yang sempit di balik kebun Ghaleh di Bundaran. Dari samping kanan dan kiri jalan, para wanita dan anak-anak yang tidak tahu menahu tentang kejadian yang terjadi, dan mungkin tidak mengenal kami, berdiri menyaksikan. Apa yang terjadi pada kami pada hari-hari itu tidak kami ceritakan kepada Imam Khomeini. Karena kami tidak menginginkan beliau semakin sakit hati.

Dalam menjalankan hukum ilahi, beliau sangat taat. Ketika anak tersayangnya Mostafa yang menjadi penolongnya di masa pengasingan mencapai syahadah, Imam Khomeini berkata:

“Syahadah adalah bagian dari kasih sayang ilahi yang tersembunyi. Dia sendiri yang memberi, Dia sendirilah yang akan mengambilnya.”

Imam benar-benar dicintai masyarakat dan kecintaannya telah merasuk ke dalam hati masyarakat. Contoh kecintaan masyarakat kepada beliau kami saksikan pada hari penyambutan Imam Khomeini. Setelah pidato di Behesht-e Zahra, beliau sendiri mengatakan:

“Hari ini, karena kecintaan masyarakat, hampir saja saya mati. Sekali waktu saya tahu sudah tidak ada amamah [surban] lagi. Tidak ada ‘Aba [pakaian luaran yang panjang] dan hampir mati dan benar-benar pingsan. Tampaknya orang-orang di sekitarku juga tahu dan berteriak “Jangan menekan” tapi tidak berguna. Orang-orang yang ada mengangkat saya dengan tangan dan meletakkan di atas ambulance kemudian ke dalam ambulance. Ketika hampir pingsan saya melihat seseorang mengeluarkan kapas dan meletakkan di depan hidungku. Aku tidak tahu, apa orang ini temanku ataukah bukan temanku. Aku lihat, lebih baik aku dibunuh saat sadar daripada dibunuh saat pingsan. Tanganku sama sekali tidak bisa aku gerakkan. Yakni aku tolak dan dia tidak lagi melakukan hal itu, yakni ia tidak lagi mengeluarkan kapasnya.”

Ciri khas Imam Khomeini adalah pada langkah pertama, beliau punya iman dan keyakinan yang penuh atas apa yang diinginkannya. Saya menyaksikan beliau berkata kepada salah satu kerabat yang menyatakan penentangan:

“Engkau pergi saja dan bentuklah dirimu dan senjatai dirimu dengan ilmu dan amal supaya ada yang menggubris ucapanmu. Supaya masyarakat mempercayai ucapan-ucapanmu. Dan jika pada saat itu engkau ada protes pada pemerintahan, maka engkau punya kewajiban untuk menunjukkan protes-protesmu.”

Mohon sampaikan tentang kejiwaan Imam Khomeini dan kepribadian beliau!

Beliau senantiasa menyembunyikan semua kesedihan dan kesulitannya serta jerih payahnya yang melelahkan. Beliau benar-benar tenang, penuh kasih sayang dan berwibawa. Beliau dengan semua ketegasan dan kewibawaannya memandang kami dengan penuh kasih sayang. Beliau sangat pelan berbicara pada kami. Ketenangan beliau menjadi pujian semua orang. Berapa tahun yang lalu, salah satu kerabat kami datang ke rumah. Karena tidak menyetujui suatu masalah, dia berbicara agak tinggi. Meski Imam Khomeini sedang menjalani masa-masa sakitnya dan masa penyembuhannya, dengan tenang dan halus kepadanya berkata:

“Mengapa engkau tampak tidak suka? Sekarang kemari ayo kita bicarakan bersama. Bagaimanapun juga kita bisa saling mengalah!”

Dunia bagi beliau kecil. Gemerlapan duniawi tidak bisa menipunya. Beliau menguasai hawa nafsunya. Menganggap kecil semua musibah. Perhatiannya ditujukan kepada Allah Swt. Apa saja yang dikehendaki oleh Allah, beliau juga menghendakinya.

Saya tidak melupakan bahwa saudari saya yang berusia delapan belas tahun waktu itu mengandung. Dia sedang menghadapi kematian. Semua dokter mengatakan bahwa ibunya yang harus diselamatkan atau anaknya. Keduanya tidak mungkin hidup. Mereka meminta izin kepada Imam Khomeini untuk menyelamatkan ibunya dan bayinya harus dikorbankan. Namun dengan tegas Imam Khomeini mengatakan:

“Aku tidak berhak atas hal ini sehingga aku menjadi penyebab kematian makhluk lainnya karena kecintaanku pada anakku. Keduanya adalah hamba Allah dan makhluk hidup.”

Kesabaran dan keimanan serta keikhlasan Imam Khomeini inilah sehingga Allah memberikan pahala kepadanya dan ibu dan anaknya; keduanya selamat.

Beginilah kejujuran Imam Khomeini, dalam ucapan dan perbuatan. Saya tidak pernah teringat sama sekali bahwa ucapan dan niat beliau, amal dan perbuatan beliau dengan ucapan dan niatnya berbeda. Suatu hari beliau menulis pesan kepada para basiji dan dikirim untuk disiarkan di radio dan televisi. Tiba-tiba beliau meminta agar pesan itu dikembalikan lagi sebelum disiarkan. Saya melihat beliau mengubah satu kata dan berkata:

“Saya telah menulis dalam pesan itu ‘Saya mendoakan kalian dengan seluruh keinginan saya’ kemudian saya ganti dengan ‘keinginanku yang paling banyak’. Kalimat ini lebih detil.”

Beliau tidak pernah menyampaikan ucapan bertentangan dengan kenyataan baik dalam ucapan maupun tulisan. Setiap kali ada kemungkinan apa yang ditulisnya tidak terlaksanakan, beliau langsung mengubah kalimat dan kata itu supaya di sisi Allah tidak dimintai pertanggungjawaban. Tidak seorangpun tahu secara detil, kesengsaraan apa saja yang dirasakan dan kesulitan apa saja yang ditanggung beliau di jalan untuk mewujudkan tujuan ilahi.

Setelah menerima Resolusi 594, saya bertanya kepada beliau, “Mengapa Anda menerima resolusi? Untuk pertama kalinya beliau membiarkan pertanyaan saya tanpa jawaban dan beliau diam. Dengan tenang, beliau hanya menutupi matanya dengan tangan. Dengan merasakan dengan jelas akan beratnya kesedihan dan kesakitan di wajah beliau. Saya tidak pernah melihat beliau seperti ini. Sesungguhnya pengaruh racun yang mematikanlah [isyarat pada beratnya kesedihan] yang membuat Imam Khomeini harus masuk ke rumah sakit. Beliau tahu bahwa ini adalah hari-hari terakhir kehidupannya. Itulah mengapa beliau berkali-kali harus opname di rumah sakit. Namun yang terakhir kalinya beliau memeluk dan mencium saya dan berbicara tentang kepergian.

Imam Khomeini adalah seorang tokoh yang mendunia. Bukan karena namanya menjadi headline atau kebanyakan berita tentang beliau. Tapi karena pengaruh ucapannya dimana dengan sebuah pidatonya, di tengah-tengah masyarakat ada sebuah kelompok yang dikuatkan dan ada sebuah kelompok yang dilemahkan. Ada sekelompok orang yang terdukung, ada sekelompok yang tertolak. Tentunya benar-benar jelas, bahwa kelompok yang terdukung adalah masyarakat. Khususnya orang-orang mustadh’afin, khususnya umat Islam. Tepat di depan mereka adalah parang penguasa zalim, merekalah yang dilemahkan. Terkadang satu ucapan beliau benar-benar memiliki pengaruh di dunia sehingga bisa mengubah jalannya gerakan-gerakan yang ada. Dan wajar bahwa pengaruh ini lain daripada yang lain. Sehingga masyarakat bangkit karena merasa ada dukungan dan para penguasa zalim bangkit melawan dan menjawabnya dan bahkan marah-marah. Bila Imam Khomeini menjadi sebagai tokoh yang hakiki dan mendunia, karena perbuatan dan perkataannya muncul dari jiwanya yang suci dan bersih. Itulah mengapa ucapannya merasuk ke dalam jiwa dan hati manusia. (Emi Nur Hayati) 

Dikutip dari penuturan Fahimeh [Zahra] Mostafavi, anak Imam Khomeini ra.

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh