Khatib Shalat Jumat Tehran Kecam Serangan Bom di Irak
https://parstoday.ir/id/news/iran-i26644-khatib_shalat_jumat_tehran_kecam_serangan_bom_di_irak
Khatib Shalat Jumat Tehran mengecam serangan bom di kota al-Hilla Irak pada Kamis yang merenggut nyawa lebih dari 80 peziarah Arbain Huseini (as) termasuk 40 peziarah dari Republik Islam Iran
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 25, 2016 14:46 Asia/Jakarta
  • Khatib Shalat Jumat Tehran Kecam Serangan Bom di Irak

Khatib Shalat Jumat Tehran mengecam serangan bom di kota al-Hilla Irak pada Kamis yang merenggut nyawa lebih dari 80 peziarah Arbain Huseini (as) termasuk 40 peziarah dari Republik Islam Iran

Hujjatul Islam wal Muslimin Kazem Seddiqi dalam khutbah Jumat di Tehran, ibukota Iran, Jumat (25/11/2016) mengucapkan belasungkawa kepada keluarga syuhada serangan teroris di al-Hilla Irak.

 

Ia menuturkan, bagi para peziarah, kesyahidan di jalan Imam  Husein as adalah sebuah kebanggaan.

 

Hujjatul Islam wal Muslimin Seddiqi menilai Arbain Huseini (mengenang 40 hari kesyahidan Imam Husein as, cucu Rasulullah Saw) sebagai modal bernilai, gerakan spontan dan faktor persatuan bagi bangsa-bangsa Muslim.

 

"Kehadiran luar biasa masyarakat dalam acara besar ini merupakan salah satu faktor terpenting kegagalan konspirasi dan kekalahan ancaman terhadap dunia Islam," ujarnya.

 

Imam Shalat Jumat Tehran lebih lanjut mengapresiasi keramahan dan sambutan hangat pemerintah dan rakyat Irak kepada para peziarah Arbain di negara Arab ini.

 

"Pasukan polisi dan dinas-dinas keamanan Republik Islam Iran juga memiliki kinerja yang baik dalam memberikan pelayanan dan menjamin keamanan bagi para peziarah, bahkan terhadap para peziarah asing," imbuhnya.

 

Di bagian lain khutbahnya, Hujjatul Islam wal Muslimin Seddiqi menyinggung intervensi militer Amerika Serikat di negara-negara kawasan. Ia menasihati pemerintah mendatang negara ini untuk  menyelesaikan persoalan kehidupan masyarakatnya ketimbang melanjutkan kebijakan perang dan mengalokasikan dana jutaan dolar untuk mengobarkan perang di kawasan.

 

Khatib Shalat Jumat Tehran menilai  perpanjangan 10 tahun  sanksi Iran yang dikenal dengan Iran Sanctions Act oleh AS sebagai perlanggaran terhadap komitemen JCPOA (Rencana Aksi Bersama Komprehensif).

 

"Berdasarkan penjelasan Pemimpin Besar Revolusi Islam (Rahbar), jika sanksi ini direalisasikan, maka Republik Islam Iran pasti akan meresponnya," jelasnya.

 

Pada awal bulan November, DPR AS menyetujui perpanjangan 10 tahun  sanksi Iran, tetapi untuk menjadi UU, RUU itu harus disahkan oleh Senat dan juga ditandatangani oleh Presiden AS.

 

Hujjatul Islam wal Muslimin Seddiqi juga mereaksi tindakan ilegal rezim Al Khalifa yang melarang penyelenggaraan acara Arbain Huseini (as) dan menindas warga Bahrain.  Ia memprotes ketidakpedulian dan kebungkaman organisasi-organisasi internasional dan HAM terkait penindasan dan kekerasan di Bahrain.

 

Selain itu, Khatib Shalat Jumat Tehran juga mengecam penghancuran Huseiniyah di Nigeria dan kelanjutan penahanan Sheikh Ibrahim al-Zakzaky, Pemimpin Gerakan Islam Nigeria (IMN) hanya karena keyakinan dan kecintaannya kepada Ahlul Bait as. (RA)