Penuturan Doktor Fahimeh Mostafavi Tentang Ayahnya, Imam Khomeini ra (8)
-
Imam Khomeini ra
Mohon Jelaskan sedikit kenangan anda tentang perjuangan Imam Khomeini ra!
Anaknya syahid mihrab keempat; Ayatullah Ashrafi Isfahani menceritakan, “Ketika saya berusia 15 tahun, sutau hari saya pergi ke kamar mandi umum di Qom. Saya melihat salah seorang bapak-bapak yang kepalanya penuh dengan busa shampo dan wajahnya juga tertutupi oleh busa, sedang mencari-cari gayung dengan tangannya. Saya segera mengambil gayung yang ada di dekat saya dan memenuhinya dengan air dan saya siramkan ke kepalanya sebanyak dua kali. Orang lelaki yang bercahaya itu memandang kepada saya mengucapkan terima kasih dan berkata:
“Apakah engkau juga sudah mencuci kepalamu?”
Saya mengatakan, “Belum. Saya baru datang ke kamar mandi. Akhirnya saya menuju ke sebuah sudut dan menyampo kepala dan muka saya. Sebelum saya menyiram kepala saya, tiba-tiba kepala saya sudah disiram sebanyak dua kali. Saya membuka mata dan saya melihat lelaki itu telah membalas pengabdian saya dengan penuh kasih sayang. Saya menceritakan hal ini kepada ayah saya. Tapi karena saya tidak mengenalnya saya tidak menyebutkan namanya. Setelah beberapa lama, saya bersama ayah pergi ke salah satu rumah ulama dalam rangka acara hari raya keagamaan. Tiba-tiba saya melihat beliau. Saya menunjukkannya kepada ayah dan ayah saya berkata, “Ajab. Beliau adalah Haj Agha Ruhullah Khomeini!”
Imam Khomeini sangat pemaaf terkait masalah-masalah yang berhubungan dengan dirinya. Saya menyaksikan ada orang-orang datang menuduh dan menfitnah beliau. Namun di hadapan tuduhan-tuduhan ini, meski keterlaluan, beliau tidak menunjukkan sikap kasar sama sekali. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya belum menikah, kami sedang makan bersama. Salah satu kerabat ada yang marah karena satu masalah. Dia begitu bangkit sampai kita berpikir bahwa dia akan memukul Imam Khomeini. Namun Imam Khomeini tidak menunjukkan reaksi sama sekali. Meski lelaki ini tidak melakukan hal itu dan hanya maju mendekati saja. Kemudian dia sendiri sadar dan kembali [ke tempatnya lagi]. Imam Khomeini tetap tenang duduk di tempatnya, tidak menunjukkan reaksi atau kondisi marah sama sekali pada dirinya.
Sejak kapan Anda merasa bahwa Imam Khomeini sakit?
Imam Khomeini tidak pernah meminta makanan. Beliau selalu duduk menunggu sampai kapan saja makanan itu disuguhkan kepadanya. Kemudian memakannya. Hari itu beliau meminta kepada saya dan berkata:
“Sampaikan, bawa [ke sini] makanannya.”
Kelihatannya beliau sendiri mengetahui hal ini yakni meminta makanan, berbeda dengan biasanya. Beliau langsung berkata:
“Aku sangat lemah. Bahkan tidak bisa mengangkat sendok.”
Sepengetahuan saya, secara akhlak Imam Khomeini tidak pernah menyampaikan kelemahannya. Itulah mengapa saya tahu bahwa pasti ada sesuatu. Saya langsung pergi menyampaikan masalah ini kepada dokter Thabathabai kemudian saya sampaikan lewat intercom kepada dokter Arifi bahwa Imam merasa sangat lemah bahkan tidak bisa mengangkat sendok. Dokter Arifi juga mengatakan, “Ok, pasti kami akan menindaklanjuti.” Saya tidak tahu lagi apa yang dilakukan mereka. Tapi besoknya ternyata Imam Khomeini harus dites dan dirawat.
Kelihatannya ketika saya berbicara dengan dokter Thabathabai dan saya beritahu masalahnya, dia menemui Imam Khomeini dan berkata, “Kami ingin mengetes Anda.” Tapi beliau tidak mau dan besoknya berbicara lagi dan Imam Khomeini akhirnya mau.
Saya di siang hari berikutnya, setelah pelajaran pergi ke rumah beliau menanyakan kondisinya. Pagi hari itu, saya belajar untuk persiapan ujian doktoral dan siangnya ada kesempatan untuk menemui beliau dan beliau berkata:
“Dari pagi aku dibawa ke laboratorium. Dokter bertanya, “Apa keluhan Anda? Aku katakan, perasaku warnanya telah gelap. Mereka berkata, “Yakni apa warnanya?” aku katakan, seperti kaos kaki. Warnanya ini!
Beliau sendiri mengisyarahkan ke kaos kakinya sendiri yaitu hitam. Kemudian beliau juga berkata:
“Rencananya aku akan dibawa untuk tes.”
Terkait tes yang diambil, tidak mengatakan apa-apa?
Tidak ada yang penting. Tapi terkait tes yang diambil beliau menunjukkan ketidaksukaannya dan beberapa kali menyampaikan kepada saya:
“Mungkin ada tiga puluh tes yang dilakukan pada saya dan sangat menggangguku.”
Tentunya ini disampaikan sebagai tambahan dan menunjukkan bahwa beliau sangat terganggu.
Beberapa tahun sebelumnya ketika beliau sakit [ceritanya juga panjang] beliau tidak mengeluhkan apa yang dilakukan oleh para dokter.
Kapan diputuskan bahwa Imam Khomeini harus dioperasi?
Sekarang saya benar-benar tidak ingat. Keesokan harinya setelah tes, beliau rencananya harus dioperasi atau dua hari setelahnya. Tapi bagaimanapun juga, saya diberitahu bahwa besok pagi beliau akan dibawa ke rumah sakit untuk dioperasi. Malam sebelumnya, saya menemui Imam Khomeini. Beliau berpikir bahwa saya tidak tahu tentang masalah ini dan saya juga berpikir beliau lebih suka saya tidak tahu masalah ini. Saya juga tidak menunjukkan kalau saya tahu dan saya juga tidak menunjukkan kesedihan sama sekali. Saya melihat beliau berkata kepada ibu saya:
“Jangan katakan kepada Fahimeh bahwa aku besok akan dioperasi.”
Beliau berharap jangan sampai saya sedih. Saya juga tidak mengatakan apa-apa, karena saya merasa beliau lebih nyaman demikian. Malamnya saya juga pulang ke rumah.
Esok harinya, hari ujian doktoral saya dan tepat ketika rencananya beliau harus dioperasi. Pagi-pagi sekali saya datang menemui beliau sebelum pergi operasi. Saya harus melihat beliau kemudian pergi ke acara ujian. Ketika saya masuk ke rumahnya Imam Khomeini, semuanya dengan gembira berkata, “Agha tidak akan dioperasi. Para dokter mengatakan, tidak harus hari ini pasti dioperasi.” Kelihatannya mau melakukan tes yang lainnya. Beliau sendiri juga gembira ketika menyaksikan kami benar-benar gembira. Ketika saya menemui beliau, saya dipeluk dan dicium dan berkata, “Pergilah!” beliau tahu kalau saya ada ujian. Mungkin karena inilah beliau berpesan jangan sampai seseorang mengatakan kepada saya bahwa beliau akan dioperasi. Yakni beliau berpikir bila saya tahu, maka saya akan khawatir dan akan mengganggu ujian saya. Karena beliau menyaksikan saya belajar dan ada ujian. Kepada saya beliau berkata:
“Tidak. Pergilah! Pergilah dengan perasaan tenang, pergi dan berikan ujianmu. Aku tidak ada operasi.”
Saya sangat gembira dan pergi untuk ujian. Setelah ujian, yakni waktu siang saya kembali dan saya melihat dikatakan bahwa besok pagi pukul sembilan beliau dioperasi. Akhir malam saya sampai di rumah dan tidur dan sekitar pukul tujuh lebih tiga puluh pagi saya pergi ke rumah beliau. Saya melihat beliau tidak ada. Beliau sudah dibawa ke ruang operasi. Saat itu juga dikatakan bahwa beliau baru saja dibawa ke ruang operasi. Saya sangat sedih karena sebelum pergi ke ruang operasi saya tidak sempat menemui beliau. Tapi bagaimanapun juga saya yang salah. Saya seharusnya pergi lebih cepat atau tidur di rumah beliau malam itu. (Emi Nur Hayati)
Dikutip dari penuturan Fahimeh [Zahra] Mostafavi, anak Imam Khomeini ra.
Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh