Iran Peringatkan Upaya Mengubah Teroris di Suriah menjadi Politisi
Asisten Khusus Ketua Parlemen Republik Islam Iran memuji inisiatif Kazakhstan untuk menjadi tuan rumah perundingan Suriah-Suriah yang akan digelar pada tanggal 23 Januari 2017 dan memperingatkan upaya pihak tertentu untuk menjadikan teroris sebagai politisi dalam perundingan Damai Suriah mendatang.
Hossein Amir-Abdollahian dalam pertemuan dengan Adnan Mahmoud, Duta Besar Suriah untuk Iran di Tehran, Sabtu (21/12017) mengatakan, dalam upaya menemukan solusi politik untuk krisis di Suriah, para teroris kemarin tidak boleh menjadi politisi saat ini.
Ia menyinggung upaya positif Kazakhstan untuk membantu mengatasi krisis Suriah yang telah memasuki tahun ke-6.
Amir Abdollahian mengatakan, pembicaraan damai Astana akan menjadi peluang yang tepat untuk meraih keuntungan dari perlawanan rakyat Suriah dalam menghadapi kelompok-kelompok teroris Takfiri.
Asisten Khusus Ali Larijani itu juga menekankan bahwa pertukaran kunjungan antara pejabat politik dan parlemen Iran dan Suriah akan memainkan peran utama dalam meningkatkan koordinasi antarkedua negara dalam mendukung perjuangan rakyat Suriah melawan para teroris.
"Republik Islam Iran mendukung integritas wilayah dan kemerdekaan Suriah dan menilai dialog nasional dan suara rakyat sebagai solusi politik terbaik untuk krisis Suriah," pungkasnya.
Sementara itu, Dubes Suriah untuk Tehran mengatakan bahwa Damaskus bersikeras mengejar pendekatan politik berdasarkan pembicaraan Suriah-Suriah tanpa campur tangan asing.
Mahmoud memuji dukungan Iran kepada rakyat dan pemerintah Suriah dan menegaskan bahwa negaranya akan melanjutkan kampanye melawan terorisme.
Ia juga menekankan pentingnya konsultasi dan kerjasama lebih antara Suriah dan Iran.
Perudingan antara perwakilan pemerintah Suriah dan oposisi yang akan diselenggarakan di Astana, ibukota Kazakstan pada 23 Januari akan dihadiri oleh sebuah delegasi dari PBB.
Negosiasi dua hari itu digelar dalam kerangka menemukan solusi politik atas krisis Suriah menyusul pertemuan Menlu Rusia, Iran dan Turki di Moskow pada tanggal 20 Desember 2016. (RA)