Imam Khomeini Dalam Penuturan Hujjatul Islam wal Muslimin Ali Akbar Ashtiyani (4)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i39530-imam_khomeini_dalam_penuturan_hujjatul_islam_wal_muslimin_ali_akbar_ashtiyani_(4)
Menurut keyakinan saya, kesederhanaan Imam Khomeini, luar biasa dan contoh kehidupan beliau harus dicari di antara para Imam Maksum as.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Jun 15, 2017 11:03 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Menurut keyakinan saya, kesederhanaan Imam Khomeini, luar biasa dan contoh kehidupan beliau harus dicari di antara para Imam Maksum as.

Selama sepuluh tahu saya menyaksikan kehidupan beliau dari dekat, saya memahami bahwa salah satu poin yang benar-benar dianggap penting oleh beliau adalah hidup sederhana dan tidak bersikap boros. Berkali-kali saya menyaksikan Imam Khomeini bangkit dari tempatnya dan menuju ke tempat lain. Ternyata beliau mematikan lampu yang menyala tanpa ada gunanya. Demikian juga terkait dengan telpon di kantor, beliau berkata:

“Bapak-bapak! Usahakan tidak melakukan pekerjaan yang sifatnya berulang-ulang dan boros dan hindarilah sikap berlebih-lebihan.”

Ketika beliau meminum air di gelas dan airnya masih setengah, maka beliau meletakkan sepotong kertas untuk menutupinya dan menyisihkan sisanya untuk diminum ketika haus pada kesempatan berikutnya. Atau ketika badannya luka maka beliau merobek tisu menjadi beberapa bagian dan menggunakan satu bagian darinya.

Imam Khomeini dengan segala kesibukannya mengontrol sendiri semua biaya yang dikeluarkan di rumahnya. Pengurus keuangan yang ingin berbelanja harus menunjukkan list barang-barang yang mau dibeli kepada Imam Khomeini.

Poin lainnya yang saya ingat adalah keteraturan pekerjaan Imam Khomeini. Imam Khomeini dalam sehari semalam memiliki acara khusus. Sehingga mutalaah [membaca], ibadah dan munajat, menyelesaikan urusan umat Islam dan pemerintahan Isalam, tidur dan urusan pribadi beliau memiliki acara dan waktu tertentu. Oleh karena itulah beliau berhasil menggunakan semua umurnya dengan sebaik-baiknya dan berjiwa yang tinggi dan tidak perlu diceritakan.

Imam Khomeini mengerjakan salatnya di awal waktu dengan khusyuk. Sebelum tiba waktunya salat Imam Khomeini membaca al-Quran. Setelah mengerjakan salat Maghrib dan Isya, beliau menuju ke halaman rumah dan berdiri menghadap kiblat. Kemudian sambil jarinya menunjuk ke arah kiblat, beliau mengucapkan zikir. Orang yang dipercaya menukil bahwa Imam Khomeini mengucapkan zikir berikut ini:

تحصنت بدار سقفها لا اله الا الله و نورها محمد رسول الله و بابها علی ولی الله و ارکانها لا حول ولا قوة الا بالله

Selain itu, dinukil dari Imam Khomeini bahwa zikir berikut ini dibaca tujuh kali di saat-saat terakhir hari Jumat:

اللهم صل علی محمد و آل محمد وادفع عنا البلاء المبرم من السماء انک علی کل شیئ قدیر    

Imam Khomeini tidak pernah meninggalkan salat tahajud. Oleh karena itu di saat-saat sebelum Subuh beliau selalu bangun dan melakukan salat sunnah. Bila masih tersisa waktunya, beliau membaca berbagai buletin berita.

Imam Khomeini rajin mendengarkan berita dari radio-radio asing dan beliau senantiasa mendengarkan radio-radio ini. Umat Islam juga menyaksikan dari tv Republik Islam Iran, meski Imam Khomeini dalam kondisi opname di rumah sakit, beliau tidak pernah meninggalkan salat tahajud dan menggunakan radio untuk mengetahui kabar. Bahkan tiga hari setelah dioperasi dan masa penyembuhan, beliau memerintahkan untuk dibawakan tv dan menggunakannya.

Ketika Qotbzadeh sebagai ketua IRIB, Imam Khomeini menulis surat karena tidak suka dengan acara yang ditayangkan yang bertentangan dengan Islam dan sebagian dari isi surat itu demikian:

“...katakan kepada Bapak Qotbzadeh, memangnya Anda tidak diwajibkan untuk menjaga masalah Islam? Memangnya Anda tidak komitmen pada al-Quran? Revolusi kita adalah Revolusi Islam. Mengapa acara-acara yang bertentangan dengan Islam harus ditayangkan dari IRIB?”

Sepertinya, ketika surat itu sampai kepada Qotbzadeh, dia tidak suka. Tapi setelah itu ketahuan bahwa Qotbzadeh tidak memiliki kecenderungan kepada Islam dan hanya menampakkan saja bahwa dia komitmen pada Islam.

Saya masih ingat ketika Hujjatul Islam wal Muslimin Mohtashami menjabat di IRIB, suatu hari dia datang kepada Imam untuk memberikan laporan. Setelah Imam Khomeini mendengarkan ucapan dia, beliau berkata:

“Anda harus lebih banyak mengontrol acara-acara yang disiarkan dari radio.”

Kemudian berkata:

“Setelah azan Subuh dan setelah disiarkannya doa-doa, ada lagu-lagu yang mungkin tidak tepat untuk disiarkan.”

Bapak Mohtashami setelah keluar dari ruangan Imam Khomeini, dia benar-benar takjub; bagaimana mungkin seorang pemimpin revolusi yang benar-benar sibuk, dengan teliti mengikuti acara radio dan televisi?

Alhasil, alhamdulillah...dengan bimbingan Imam Khomeini yang mulia, radio dan televisi Republik Islam Iran mengalami perubahan yang dalam. Jerih payah para staf dalam menyodorkan acara-acara yang membangun dan islami, kini perlu dihargai.

---

Imam Khomeini tidak rela sama sekali memiliki kehidupan yang berbeda dengan kehidupan kalangan miskin. Hari-hari sulit perang yang dipaksakan dan musuh menyerang kota-kota yang tidak punya perlawanan dengan serangan udara dan rudal. Orang-orang kaya menyelamatkan dirinya di tempat-tempat yang aman dari serangan musuh. Tapi orang-orang miskin tetap tinggal di daerahnya dan bertahan. Pada saat itu rencananya akan dibuatkan tempat perlidungan untuk Imam Khomeini. Sehingga ketika ada serangan udara, jiwa beliau yang merupakan jiwa umat dalam keamanan. Ketika Imam Khomeini mengetahui masalahnya, beliau berkata:

“Saya tidak akan pergi ke sana.”

Sudah dibangun tempat perlindungan. Tapi Imam Khomeini tidak pernah melihat tempat perlindungan ini sampai detik terakhir kehidupannya yang penuh berkah. Padahal semua pejabat negara meminta Imam Khomeini untuk menggunakan tempat perlindungan itu. tapi beliau tetap bersikukuh dengan pendapatnya.

Sekali beliau mengatakan kepada sebagian pejabat yang meminta beliau untuk menggunakan tempat perlindungan itu:

“Apa bedanya, antara aku dan seorang pasdar yang melakukan penjagaan di sini dan menjaga aku dan keluargaku? Aku tidak akan meninggalkan tempatku dan biarkan rudal mengena kepalaku dan aku menjadi syahid.”

Untuk menjadikan Imam Khomeini pada posisi di hadapan pekerjaan yang telah dilakukan, dibangunlah sebuah tempat perlindungan antara kamar beliau dan huseiniyeh. Tapi Imam Khomeini tidak pernah sama sekali ke sana. Ketika beliau sampai di situ, beliau mengubah arah jalannya dan melewati sampingnya. (Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Hujjatul Islam wal Muslimin Ali Akbar Ashtiyani, Pengurus Kantor Imam Khomeini

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab II; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh