Saudi, Penyandang Dana Aksi Teror di Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i39540-saudi_penyandang_dana_aksi_teror_di_iran
Arab Saudi adalah penyandang dana kelompok-kelompok teroris. Sejumlah bukti menunjukkan, Saudi membayar banyak orang dari negara-negara tetangganya untuk melancarkan aksi teror di Iran.
(last modified 2026-04-15T09:44:22+00:00 )
Jun 15, 2017 13:35 Asia/Jakarta

Arab Saudi adalah penyandang dana kelompok-kelompok teroris. Sejumlah bukti menunjukkan, Saudi membayar banyak orang dari negara-negara tetangganya untuk melancarkan aksi teror di Iran.

Sayid Mahmoud Alavi, Menteri Intelijen Iran, Rabu (14/6) malam mengabarkan penumpasan kelompok-kelompok teroris di Provinsi Sistan-Baluchestan dan Kurdistan, Iran.

Selama bertahun-tahun, Iran selalu menjadi target serangan teror, oleh karena itu negara ini memahami dengan baik urgensi perang nyata melawan terorisme. Penamaan tanggal 8 Shahrivar (30 Agustus) dalam kalender Iran sebagai hari perang melawan terorisme, juga berangkat dari hal ini.

Kelompok-kelompok teroris dalam beberapa tahun terakhir, dengan dukungan dana dan senjata dari Amerika Serikat dan Arab Saudi, melakukan banyak aksi kejahatan di beberapa negara kawasan seperti Irak, Suriah dan Afghanistan.

Aksi teror pekan lalu oleh anasir-anasir teroris Daesh di gedung Majelis Syura Islam Iran (parlemen) dan kompleks Makam Imam Khomeini di Tehran yang menewaskan 17 orang serta melukai puluhan lainnya, adalah bentuk baru dari aksi teroris tersebut.

Terjadinya aksi teror Tehran, mengingat rekam jejak dan banyaknya bukti keterlibatan Saudi dalam mendukung terorisme, kemungkinan besar didalangi oleh Riyadh.

Mohammed bin Salman, Menteri Pertahanan Saudi beberapa waktu lalu dalam wawancara dengan majalah Foreign Affairs mengatakan bahwa ketidakamanan kawasan disebabkan oleh ideologi-ideologi lintas batas, instabilitas dan terorisme liar di kawasan. Menhan Saudi bahkan mengancam, instabilitas dan ketidakamanan harus masuk ke dalam perbatasan Iran. 

Statemen ini menunjukkan pandangan sempit dan fanatisme buta rezim Al Saud terhadap Iran. Pejabat Riyadh setelah wafatnya Raja Abdullah, memulai ketegangan dalam hubungan dengan Iran. Ketegangan ini dimunculkan pertama dengan memperluas jangkauan ancaman keamanan di wilayah-wilayah sekitar Iran, dan sekarang para pendukung terorisme berusaha memperlebarnya ke dalam wilayah Iran.

Para pangeran muda Saudi yang haus kekuasaan berpikir, dengan melakukan manuver semacam ini mereka bisa menghidupkan kembali pilar-pilar goyah dominasi pemerintahan otokratis dan kebijakan-kebijakan Saudi di kawasan.

Kenyataannya sampai sekarang, Riyadh sudah menggelontorkan bantuan dana yang luar biasa besar kepada kelompok-kelompok teroris. Saudi memberi dukungan dana kepada para teroris yang ada di Lebanon, Suriah dan Irak, untuk menciptakan ketidakamanan dan kehancuran di seluruh kawasan.

Langkah-langkah Riyadh ini mengancam perdamaian dan keamanan kawasan serta dunia, dan proyek merusak keamanan kawasan dan Iran ini dilakukan atas lampu hijau Amerika yang disampaikan dalam lawatan terbaru Presiden Donald Trump ke Saudi.

Di saat negara-negara dunia menyampaikan belasungkawa kepada Iran karena peristiwa teror yang terjadi di Tehran, Gedung Putih mengumumkan bahwa Trump menyalahkan Tehran atas insiden teror tersebut dan mengatakan, negara-negara pendukung terorisme telah menjadi korban dari keburukannya sendiri.

Jeffrey Lewis pakar nuklir dari Middlebury Institute dalam analisanya terkait hal ini menuturkan, dengan terus menuduh Iran mendukung terorisme dan menarik perhatian dunia atas masalah ini, Trump berusaha menyeret Iran ke meja perundingan, akan tetapi upaya Trump mengisolasi Iran bukan saja telah membangkitkan kemarahan Tehran, bahkan bisa merusak hubungan Washington dengan sekutu-sekutu Eropanya.

Skenario semacam ini pernah diterapkan dengan dukungan langsung Amerika dan Saudi terhadap kelompok teroris munafikin Iran, MKO.

Turki Al Faisal, salah satu pangeran Saudi yang juga mantan Kepala Dinas Keamanan Saudi, Juli 2016 lalu menghadiri pertemuan kelompok teroris munafikin MKO dan para pendukungnya di Paris. Pertemuan itu digelar untuk menyampaikan proyek baru MKO dalam mengganggu keamanan Iran.

Jeff Steinberg, editor majalah Executive Intelligence Review (EIR) dalam wawancara dengan PressTV sehubungan dengan hal ini menerangkan, Newt Gingrich, mantan Ketua DPR Amerika yang menjadi salah satu pembicara dalam pertemuan itu, menerima bayaran luar biasa besar untuk hadir di sana.

Sementara itu, Raymond Tanter, mantan anggota Dewan Keamanan Nasional Amerika, NSC, yang juga salah satu pendukung MKO yang menulis buku tentang sepak terjang kelompok teroris ini untuk mengeluarkannya dari daftar organisasi teroris mengatakan, mereka (MKO) adalah opsi yang lebih baik dari sanksi dan perang, untuk membantu memajukan program-program Amerika.

Rekam jejak Saudi dalam mendukung terorisme dan sikapnya yang sejalan dengan Amerika dalam mengacaukan keamanan Iran, bukan sekedar tuduhan tapi realitas yang membuktikan sikap Washington dan Riyadh yang siap melakukan apapun untuk meraih tujuannya, bahkan jika harus mendukung langsung terorisme.

Sementara terorisme tidak diragukan adalah ancaman bagi semua, bahkan bagi para pendukungannya sendiri. Sekarang dampak kebijakan standar ganda terkait terorisme semakin tampak. (HS)