Strategi Baru Israel: Dari Perang Militer ke Perang Sipil
-
Bendera Lebanon
Pars Today - Analis dan penulis Lebanon, Ibrahim al-Amin, dalam tulisannya di harian Al-Akhbar mengungkap bahwa rezim Zionis, dengan menggandeng sejumlah pejabat dan tokoh politik Lebanon, tengah berupaya menciptakan fitnah internal di Lebanon.
Menurut al-Amin, Tel Aviv dan Washington kini beralih strategi. Tahun-tahun sebelumnya, Israel fokus pada operasi intelijen dan perekrutan agen untuk melawan infrastruktur perlawanan. Namun kini, pusat-pusat penilaian strategis Israel menyimpulkan bahwa fase baru menuntut pendekatan keamanan-politik: menargetkan "masyarakat Hizbullah", basis sosial dan pendukung Hizbullah.
Pembantaian dan Pengalihan Isu
Hanya beberapa jam setelah gencatan senjata dengan Iran, Israel melakukan pembantaian brutal di Lebanon. Namun, alih-alih bersatu melawan kebrutalan Israel, Presiden Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam justru mengambil sikap sebaliknya. Salam memulai babak baru perang melawan perlawanan.
Dalam sidang kabinet, Aoun dan Salam mengeluarkan instruksi untuk menjadikan Beirut "kota tanpa senjata", yang oleh al-Amin diartikan sebagai "kota tanpa perlawanan".
Operasi Finansial dan Mobilisasi Politik
Sejalan dengan langkah itu, Israel menghidupkan kembali kontak dengan tokoh dan kekuatan politik di Lebanon. Israel mulai melancarkan rencana pendanaan, finansial dan non-finansial, kepada kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan partai-partai sayap kanan. Tokoh-tokoh politik didorong untuk menggerakkan aksi massa yang mencerminkan, menurut klaim Tel Aviv, "keinginan rakyat Lebanon untuk terbebas dari Hizbullah".
Jalur ini dipandu oleh "kelompok Lebanon yang sejalan dengan pemikiran Senator Lindsey Graham" di Washington. Targetnya: menguji kekuatan dan pengaruh tokoh-tokoh Sunni di Beirut, menilai kemampuan mereka mengorganisasi demonstrasi dan aksi duduk, serta meneriakkan slogan-slogan mendukung Perdana Menteri dan menuntut tindakan segera untuk mencegah kehadiran Hizbullah, dengan seluruh struktur politik dan sipilnya, di Beirut.
Salam Membenarkan Pembantaian
Pendekatan ini, kata al-Amin, telah dibuka jalannya oleh Nawaf Salam sendiri dalam sidang kabinet Kamis. Ia membenarkan pembantaian Israel sehari sebelumnya dengan alasan: "Setiap serangan pasti punya sebab, dan itu terkait dengan Hizbullah".
Bersamaan dengan itu, Aoun dan Salam merespons permintaan Duta Besar AS untuk Lebanon, Michael Isa, untuk segera menghubungi mediator Pakistan. Tujuan panggilan itu bukan untuk memastikan gencatan senjata mencakup front Lebanon. Tujuannya: menyatakan bahwa "pemerintah Lebanon yang sah" menolak memasukkan status Lebanon ke dalam negosiasi yang dilakukan Iran.
Para pejabat Lebanon, yang mengklaim memiliki legitimasi, memberi tahu Islamabad bahwa Lebanon bersiap memasuki negosiasi langsung dengan Israel. Langkah ini berlangsung seiring dengan kontak paralel AS dengan Pakistan. Intinya: Beirut tidak ingin menjadi bagian dari agenda negosiasi dengan Tehran.
Pesan Hizbullah: Tidak Ada Kerja Sama dengan Penjahat
Namun, semua skenario di atas, tegas al-Amin, tidak akan mengubah realitas yang ada.
Pesan terbaru Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, sangat jelas: Perlawanan tidak akan bekerja sama dengan lembaga mana pun yang memperlakukannya sebagai "kelompok kriminal".
Qassem menegaskan bahwa di tengah kelanjutan pendudukan dan agresi, gencatan senjata tidak berarti. Mereka yang tidak memahami pesan jelas ini harus membaca ulang situasi dengan lebih cermat.
Apa yang diinginkan Israel hari ini, didukung AS dan tidak ditentang Arab Saudi, sebenarnya terkait dengan masalah internal Lebanon. Musuh-musuh Hizbullah, yang gagal menghancurkannya secara militer, kini berupaya, atau berasumsi, bahwa mereka dapat melukainya melalui fitnah internal.
Karenanya, perang tidak selalu dengan tank dan rudal. Kadang, ia datang dengan uang, media, dan tokoh politik yang bersedia menjadi "tameng" bagi agresi asing. Namun, selama masyarakat Hizbullah masih utuh, dan pemimpinnya masih tegas, skenario Lebanon ala Gaza tidak akan pernah terwujud.(sl)