Antara Retorika dan Realita: Bagaimana Kesepakatan Iran-AS Mempermalukan Trump di Mata Pemilihnya
https://parstoday.ir/id/news/world-i191622-antara_retorika_dan_realita_bagaimana_kesepakatan_iran_as_mempermalukan_trump_di_mata_pemilihnya
Pars Today - Surat kabar Financial Times menulis bahwa kesepakatan antara Iran dan AS telah meningkatkan perselisihan dan ketegangan internal di dalam negeri AS bagi Donald Trump, dan membuat rakyat Amerika menghadapi kenaikan harga tanpa adanya perasaan jelas tentang kemenangan dalam perang ini.
(last modified 2026-06-16T17:22:28+00:00 )
Jun 16, 2026 23:33 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Donald Trump
    Presiden AS Donald Trump

Pars Today - Surat kabar Financial Times menulis bahwa kesepakatan antara Iran dan AS telah meningkatkan perselisihan dan ketegangan internal di dalam negeri AS bagi Donald Trump, dan membuat rakyat Amerika menghadapi kenaikan harga tanpa adanya perasaan jelas tentang kemenangan dalam perang ini.

Melansir IRNA, 16 Juni 2026, ParsToday melaporkan bahwa Financial Times menekankan, "Kesepakatan AS dengan Iran, setidaknya dalam kondisi saat ini, dirancang untuk menutupi konflik di Asia Barat. Masa jabatan kedua Trump, bahkan jika tidak sepenuhnya menyimpang dari jalurnya, telah mengalami keterbalikan."

Dalam laporan ini disebutkan bahwa "bahkan jika kepatuhan terhadap kesepakatan ini terwujud, upaya untuk menangkis dampak politik bagi Trump dan partai Republiknya sudah terlambat, karena rakyat Amerika telah menghadapi tingkat inflasi yang tinggi akibat perang ini."

Financial Times menulis, "Hingga minggu lalu, Trump terus berpindah-pindah antara bergerak menuju tahap akhir negosiasi dengan Iran dan meningkatnya ketegangan militer, termasuk klaim pendudukan Pulau Kharg. Namun pada akhirnya, satu-satunya pilihan yang dimiliki presiden AS adalah menyelesaikan perselisihan dengan pemerintahan Iran. Pendekatan ini sangat berbeda dari klaimnya tentang penyerahan tanpa syarat Tehran pada saat dimulainya agresi militer ke negara itu pada 28 Februari (9 Esfand)."

Financial Times, merujuk pada ketidakpuasan publik AS terhadap perang Iran karena meningkatnya inflasi dan harga bensin, menulis, "Perang ini juga telah menciptakan perpecahan di antara anggota Partai Republik, termasuk mereka yang menentang intervensi militer dan para penghasut perang yang mendorong Gedung Putih untuk mengambil tindakan militer terhadap Iran."

Menurut Financial Times, masalah terbesar Trump dalam perang ini adalah dampak ekonominya, yang telah meningkatkan inflasi dan menaikkan indeks harga dari 2,4 persen pada bulan Februari (Esfand) menjadi 4,2 persen pada bulan Mei (Ordibehesht).

Analisis Financial Times ini mengungkap paradoks politik yang dihadapi Trump: ia mengobarkan perang untuk menunjukkan kekuatan, tetapi terpaksa mengakhirinya karena tekanan ekonomi.

Angka inflasi yang melonjak dari 2,4% menjadi 4,2% hanya dalam tiga bulan adalah bukti paling gamblang bahwa perang ini bukanlah "kemenangan" bagi rakyat Amerika. Harga bensin yang melonjak, biaya hidup yang meroket, dan ketidakpastian ekonomi telah mengubah narasi "perang kilat" menjadi "bencana ekonomi".

Yang lebih menarik adalah pengakuan bahwa Trump sendiri tidak punya pilihan lain selain berdamai. Retorikanya tentang "penyerahan tanpa syarat" Iran pada awal perang runtuh begitu saja ketika ia menyadari bahwa perang yang berkepanjangan akan menghancurkan peluangnya untuk terpilih kembali.(Sail)