UNICEF: Separuh Anak Dunia Terpapar 3 Bencana Iklim Bersamaan
https://parstoday.ir/id/news/world-i191634-unicef_separuh_anak_dunia_terpapar_3_bencana_iklim_bersamaan
Pars Today - UNICEF dalam laporan terbarunya memperingatkan bahwa separuh anak-anak dunia terpapar setidaknya tiga risiko iklim yang saling tumpang tindih, yang mengancam kesehatan, pendidikan, dan kelangsungan hidup mereka.
(last modified 2026-06-16T17:24:52+00:00 )
Jun 17, 2026 00:22 Asia/Jakarta
  • Anak dan bencana iklim
    Anak dan bencana iklim

Pars Today - UNICEF dalam laporan terbarunya memperingatkan bahwa separuh anak-anak dunia terpapar setidaknya tiga risiko iklim yang saling tumpang tindih, yang mengancam kesehatan, pendidikan, dan kelangsungan hidup mereka.

Melansir ISNA, 16 Juni 2026, seiring memburuknya krisis iklim di seluruh dunia, anak-anak menghadapi ancaman yang semakin meningkat termasuk gelombang panas, badai, banjir, dan kekeringan. Lebih dari 1 miliar anak setidaknya menghadapi tiga dari bahaya cuaca ini secara bersamaan.

Sebuah film yang mengguncang yang dirilis oleh badan PBB ini menunjukkan anak-anak di Papua Nugini yang setelah jembatan penyeberangan vital mereka tenggelam akibat hujan deras dan tidak ada penggantinya, harus berenang di sungai yang penuh buaya untuk sampai ke sekolah.

Kisah Lorna: Berenang di Antara Buaya demi Pendidikan

"Lorna", 15 tahun, adalah salah satu yang untuk sampai ke sekolah harus menyeberangi sungai "Kemp Welches" di "Launakalana", Papua Nugini. Menurut staf UNICEF yang mengunjungi daerah tersebut, lokasi ini memiliki beberapa perahu kecil, tapi prioritas diberikan untuk anak-anak kecil.

Lorna berkata, "Mimpi saya adalah menjadi guru atau pilot. Kami ingin jembatan baru agar bisa pergi ke sekolah dengan aman setiap hari."

Menurut UNICEF, komunitas ini tidak mampu mengumpulkan dana untuk mengganti jembatan yang hilang pada tahun 2012, dan menghadapi tantangan yang semakin meningkat yang diperparah oleh krisis iklim.

"Charlie Walley David", kepala sekolah Lorna, mengatakan bahwa hilangnya jembatan tersebut merupakan pukulan besar bagi komunitas.

Ia berkata, "Selama musim hujan muson, arus deras, pohon-pohon kering, dan puing-puing menyumbat sungai dan menyebabkan cedera serta kematian. Banyak anak jatuh sakit karena air sungai yang dingin dan kotor. Ini menciptakan kesenjangan pembelajaran. Terutama bagi anak perempuan."

Data Global: Tidak Ada Anak yang Aman

Laporan "Child Climate Risk" menunjukkan bahwa kenaikan suhu dan cuaca ekstrem memberikan tekanan lebih besar pada infrastruktur, dan memperingatkan bahwa jalan-jalan dan jembatan-jembatan kunci akan rusak dengan konsekuensi serius bagi komunitas lokal.

Laporan ini menunjukkan bahwa hampir setiap anak di seluruh dunia, termasuk anak-anak di negara-negara berpenghasilan tinggi, kini setidaknya terpapar satu risiko iklim, sementara 123.000 orang selama hidup mereka mengalami lebih dari enam risiko iklim.

Menurut harian The Guardian, "Catherine Russell", Direktur Eksekutif UNICEF, mengatakan, "Kehidupan anak-anak terus dipengaruhi oleh gelombang panas, kebakaran hutan, kekeringan, dan banjir. Separuh anak-anak dunia kini hidup dengan setidaknya tiga ancaman iklim yang saling tumpang tindih yang membentuk kehidupan sehari-hari mereka."

Wilayah Paling Terdampak

UNICEF juga telah mengukur paparan anak-anak terhadap delapan risiko iklim termasuk banjir pesisir, kekeringan, panas ekstrem, kebakaran, gelombang panas, banjir sungai, badai pasir dan debu, serta badai tropis.

Laporan ini menunjukkan bahwa kawasan Afrika Barat adalah salah satu wilayah paling rentan di dunia, dengan lebih dari 4 juta anak menghadapi ancaman tiga kali lipat: gelombang panas, panas ekstrem, dan badai pasir dan debu. Sementara itu, ditemukan bahwa anak-anak di negara-negara Asia seperti Bangladesh, Myanmar, dan Pakistan lebih dari tempat lain di dunia terpapar risiko iklim.

Negara-negara berpenghasilan tinggi juga tidak kebal dari guncangan iklim yang saling tumpang tindih. Sebagai contoh, di Italia, lebih dari 6 juta anak terpapar gelombang panas dan kekeringan jangka panjang.

Solusi: Adaptasi dan Mitigasi

UNICEF telah merancang sebuah rencana untuk melindungi anak-anak dengan lebih baik, dan meminta pemerintah serta dunia usaha untuk sambil fokus pada layanan-layanan yang diandalkan anak-anak, mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan adaptasi iklim.

Russell mengatakan, "Analisis ini dapat membantu pemerintah dan para pembuat keputusan untuk merencanakan dengan lebih baik dan melakukan investasi yang lebih efektif dalam layanan-layanan yang tangguh. Ketika kita memperkuat sistem kesehatan dan pendidikan serta meningkatkan infrastruktur dengan mempertimbangkan anak-anak, kita melindungi mereka dari ancaman iklim hari ini dan membantu menjamin masa depan mereka."

Laporan ini menyingkap ironi yang menyakitkan: anak-anak yang paling tidak berkontribusi terhadap krisis iklim adalah mereka yang paling menderita karenanya. Kisah Lorna yang harus berenang di sungai penuh buaya untuk sampai ke sekolah adalah simbol sempurna dari ketidakadilan ini, ia bukan memilih untuk menghadapi bahaya, ia dipaksa oleh keadaan yang diciptakan oleh generasi sebelumya. Dan yang paling mengguncang adalah data bahwa bahkan anak-anak di negara kaya seperti Italia (6 juta anak) tidak kebal. Ini bukan masalah "negara berkembang vs negara maju", ini adalah krisis eksistensial yang tidak mengenal batas geografis atau ekonomi. Ketika UNICEF berkata "setiap anak setidaknya terpapar satu risiko iklim", itu adalah pengakuan bahwa tidak ada tempat aman lagi di planet ini.(Sail)