Pemerintah Trump dan Semua Tanda Pelanggaran JCPOA
Pemerintah Donald Trump, Presiden Amerika dengan segala cara berusaha melemahkan kesepakatan nuklir dengan Iran dan dalam usahanya ini sering muncul tanda-tanda yang menunjukkan pelanggaran Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). Larangan penjualan pesawat komersil kepada Iran merupakan petanda pelanggaran JCPOA oleh Amerika.
DPR Amerika hari Rabu (13/9) menyepakati dua usulan tambahan tentang larangan penjualan pesawat komersil ke Iran. Karena mereka mengklaim bahwa Iran nantinya akan menggunakan pesawat-pesawat komersil untuk memindahkan senjata dan pasukan ke Suriah. Penggunaan itu menurut mereka bertentangan dengan JCPOA.
Klaim seperti ini merupakan cara yang dipilih pemerintah Trump dan mereka yang berada di Senat dan DPR AS guna menekan kesepakatan JCPOA. Padahal, JCPOA merupakan kesepakatan multilateral dan bukan kesepakatan antara dua negara, sehingga setiap negara yang menandatanganinya dengan mudah dapat melanggar atau merevisinya.
Sesuai dengan teks kesepakatan nuklir Iran, semua pihak yang menandatangani JCPOA harus melaksanakan seluruh kesepakatan yang ada dengan niat baik dalam kondisi yang konstruktif dan saling menghormati. Di sini, Amerika tidak menghormati komitmennya terhadap JCPOA dan berusaha menekan kepentingan Iran pada level terendah. Dalam kondisi yang demikian, ketika pemerintah Trump melihat negaranya tidak mampu mengajak masyarakat internasional agar dilakukan perundingan baru dan revisi JCPOA, tidak ada jalan lain kecuali berkali-kali melanggar kesepakatan nuklir secara sepihak.
Ali Akbar Velayati, Penasihat Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam urusan Internasional hari Kamis (14/9) mengatakan, "Larangan pejualan pesawat ke Iran tanda lain dari pelanggaran JCPOA yang menunjukkan tidak boleh mempercayai Amerika. Republik Islam Iran tidak membutuhkan Amerika untuk meraih kemajuannya."
Sebelum DPR AS meratifikasi larangan penjualan pesawat komersil ke Iran, Amerika berusaha menekan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) agar dapat melakukan inspeksi ke Iran lebih dari yang disepakati dalam JCPOA. Tekanan ini dengan sendirinya merupakan pelanggaran JCPOA. Sekaitan dengan hal ini, Reza Najafi, Wakil Tetap Iran di IAEA hari Rabu (13/9) dalam sidang Dewan Gubernur di Wina menyatakan, "Manuver terbaru Amerika bertentangan dengan JCPOA."
Baru-baru ini Amerika berusaha keras meyakinkan IAEA untuk melakukan inspeksi terhadap sejumlah tempat di Iran. Peristiwa ini direaksi tegas oleh Iran. Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran saat mereaksi sikap Amerika yang ingin menjadikan akses ke pusat-pusat militer Iran sebagai bagian dari JCPOA mengatakan, "Isi JCPOA telah menentukan apa saja yang dapat diakses para inspektor dan motivasi tersembunyi tidak pernah menjadi dasar inspeksi."
Permainan yang dilakukan pemerintah Trump dengan JCPOA adalah simalakama. Karena pelanggaran berulang terhadap JCPOA telah terbukti bagi dunia, dimana Amerika tidak dapat dipercaya dan tidak komitmen dengan perjanjian internasional. Selain itu, dalam masalah JCPOA, Amerika ditinggal semua negara. Karena negara-negara anggota kelompok 5+1 selain Amerika senantiasa menekankan pelaksanaan JCPOA.
Oleh karenanya, setiap langkah politik pemerintah Trump di hadapan kesepakatan nuklir hanya akan mengisolasi Amerika. Karena kondisi internasional saat ini tidak seperti dahulu lagi, sehingga dengan informasi bohong Amerika akan ada kesepakatan anti Iran.