Peningkatan Hubungan Strategis Tehran-Ankara
Kepala Staf Gabungan Militer Turki bertemu dan berdialog dengan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran di Tehran.
Jenderal Hulusi Akar dan Mayor Jenderal Mohammad Baqeri bertemu di Tehran, ibukota Iran pada Senin (2/10/2017) pagi dan membicarakan transformasi regional dan keamanan perbatasan Turki dan Iran.
Akar bersama rombongannya memasuki markas Angkatan Bersenjata Iran pada Senin pagi dan memberikan penghormatan kepada para Syuhada Perang Pertahanan Suci (perang yang dipaksakan rezim Saddam Irak terhadap Iran selama delapan tahun) serta membacakan al-Fatihah untuk mereka.
Ia bekunjung ke Tehran untuk bertemu dan berdialog dengan para pejabat tinggi militer dan keamanan Iran. Kepala Staf Gabungan Militer Turki dijadwalkan bertemu dan berdialog dengan Ali Shamkhani, Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran.
Di antara tema-tema yang akan dibicarakan adalah transformasi keamanan dan pertahanan regional, pelaksanaan berbagai kesepakatan antara Iran, Rusia dan Turki terkait dengan krisis Suriah, memerangi terorisme, keamanan perbatasan bersama dan perkembangan terbaru di wilayah Kurdistan Irak.
Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di sebuah pidatonya di parlemen menekankan dirinya berencana membicarakan transformasi terbaru Kurdistan Irak dan proses perundingan damai Suriah Astana dengan petinggi Iran di lawatannya ke Tehran pada 4 Oktober mendatang.
Pandangan Iran dan Turki terkait berbaga isu bilateral dan regional pastinya tidak seratus persen sama dan di sejumlah kasus kita bahkan menyaksikan strategi persaingan. Meski demikian Iran dan Turki adalah dua negara tetangga yang berada di bawah pengaruh parameter regional sehingga tidak tidak dapat mengabaikan interaksi di antara mereka.
Siamak Kakai, pengamat hubungan internasional mengatakan, "Iran dan Turki, mengingat hubungan bersejarah memiliki posisi cukup signifikan di kawasan. Oleh karena itu, meski di sejumlah kasus terkadang sikap kedua negara di kebijakan luar negeri terkait peristiwa di kawasan menjadi peluang tensi di antara keduanya, namun posisi budaya, ekonomi dan sejarah mendorong keduanya tidak pernah melupakan kerja sama dan hubungan di antara mereka."
Mengingat kondisi sensitif kawasan saat ini, lobi antara Iran dan Turki di level pejabat tinggi politik dan militer mampu mempengaruhi masa depan hubungan kedua negara.
Ali Begdeli, dosen Universitas Shahid Beheshti menilai penting lobi Iran dan Turki terkiat referendum pemisahan diri Kurdistan Irak. Saat diwawancarai Mehr News, Ali Begdeli mengatakan, "Kurdistan Irak dapat menjadi pangkalan bagi Amerika dan mengingat bahwa kawasan ini berada di bagian sensitif Timur Tengah, isu ini di masa mendatang dapat memicu kerusuhan di kawasan."
Ali Kaymakami, pengamat Turki saat diwawancarai Tasnim News mengisyaratkan poin ini dan menyakini bahwa Turki membutuhkan kerja sama dengan Iran untuk menjaga keamanan nasionalnya. Seraya menekankan pentingnya koordinasi Ankara dengan front muqawama di kawasan, ia mengatakan, "Turki harus memiliki kedekatan kerja sama dengan poros Iran, Suriah, Hizbullah dan Rusia untuk menangani isu Kurdi dan disintegrasi Suriah serta Irak. Jika tidak, Ankara tidak akan dapat meraih ambisinya termasuk menjaga keamanan nasional."
Menurut pandangan Ankara dan Tehran, setiap perubahan peta di kawasan akan memicu instabilitas. Dari sisi ini, dapat dikatakan bahwa kini mulai terbentuk level baru kerja sama bilateral dalam koridor pentingnya meningkatkan kerja sama strategis regional. (MF)