Front Muqawama, Refleksi Regional Relawan Rakyat
Permainan regional pasca Daesh secara bertahap mulai sempurna. Teroris mulai terpojok, sekutu Barat syok atas kekalahan mitra terorisnya. Pemerintah reaksioner Arab juga berusaha melalui pengobaran perang baru di kawasan, mempersiapkan peluang munculnya kelompok teroris baru.
Dalam hal ini, pengalaman kekalahan Daesh dan sebelumnya, pengalaman muqawama melawan agresi rezim Al Saud di Yaman menunjukkan bahwa hanya pasukan relawan rakyat yang terinspirasi dari Basij di Iran yang mampu mencegah konspirasi ini.
Sebelumnya Imam Khomeini, pendiri Republik Islam Iran menekankan pembentukan relawan Basij yang mampu menjadi sumber inspirasi bagi kawasan.
Kini hampir 40 tahun dari kemenangan Revolusi Islam, Basij berhasil merusak papan catur Timur Tengah dan membuat kekuatan Washington di Asia Barat meredup.
Hizbullah Lebanon, pasukan pertahanan nasional di Suriah, al-Hashd al-Shaabi di Irak, Ansarullah di Yaman serta berbagai kelompok masyarakat lainnya yang mengikuti teladan Basij bangkit melawan hegemoni asing dan membentuk front muqawama yang menjadi benteng kuat terhadap terorisme.
Hampir dua dekade Barat dengan bantuan negara-negara reaksioner Arab berusaha menunjukkan dirinya sebagai wakil sejati bangsa Arab dengan memperluas aktivitas teroris di kawasan.
Melalui metode ini, mereka ingin merealisasikan dua tujuan. Pertama, Islamphobia dan mengenalkan bangsa Muslim sebagai rakyat pro kekerasan dan teroris. Adapun tujuan kedua merusak sistem dan stabilitas di kawasan serta mempersiapkan intervensi militer dan hasilnya telah jelas saat ini di mana negara-negara kawasan dilanda perang saudara atau perang lainnya.
Menghadapi konspirasi ini, kubu muqawama bukan saja berhasil mencegah perkembangan teroris dan mitra Baratnya untuk merusak kondisi di kawasan, bahkan kubu ini menjadi kekuatan besar yang mampu mencegah agresi pemerintah asing serta mengejar tuntutan sejati rakyat yang diapresiasikan selama gerakan kebangkita Islam.
Mungkin karena hal ini, selama beberapa hari terakhir Barat dan sekutunya berusaha menekan gerakan rakyat di kawasan yang menjadi simbol perkembangan wacana revolusi regional.
Retorika Donald Trump, presiden Amerika terhadap Hizbullah Lebanon, gelombang serangan militer Al Saud terhadap Ansarullah Yaman, represi diplomatik untuk melemahkan al-Hashd al-Shaabi, pembentukan front politik untuk membela Suriah, seluruhnya bukti dari ketakutan Barat-Arab atas teladan perlawanan pasukan relawan rakyat terhadap Zionisme di kawasan.
Tehran berulang kali menekankan tidak pernah mengintervensi urusan internal negara kawasan. Meski demikian kekuatan lunak Iran yang muncul dari rasio Revolusi Islam telah memicu gelombang di dunia Islam yang hasilnya adalah popularitas Iran semakin tinggi dan kebencian semakin mendalam kepada negara-negara reaksioner Arab yang mengekspor teroris melalui petrodolarnya.
Tak diragukan lagi bahwa salah satu faktor perkembangan wacana revolusi adalah Basij.