Menlu Iran: Gerakan Kesukuan di Suriah dan Irak, Ancaman bagi Kawasan
-
Mohammad Javad Zarif, Menlu RII.
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran menyebut penjagaan persatuan nasional dan integritas wilayah negara-negara di kawasan adalah sebuah keharusan yang tak terbantahkan.
"Gerakan kesukuan dan etnis di Suriah dan Irak dengan tendensi separatisme merupakan bahaya bagi kawasan dan dunia," kata Mohammad Javad Zarif dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Tehran yang Kedua, Senin (8/1/2018).
Ia menambahkan, intervensi dan kebijakan Amerika Serikat di kawasan adalah tantangan paling mendasar yang menyebabkan bertambah rumitnya situasi.
"AS bersikeras untuk menjalankan kebijakan yang merusak dan berorientasi pada ketegangan dengan melanjutkan kehadiran ilegal militernya di Suriah," ujarnya.
Menlu Iran lebih lanjut menyinggung isu Palestina dan mengatakan bahwa kelanjutan pendudukan Palestina merupakan masalah yang paling akut yang dihadapi oleh kawasan dan dunia.
Pengumuman al-Quds sebagai ibukota rezim ilegal Zionis oleh AS, lanjut Zarif, adalah pengumuman permusuhan nyata terhadap umat Islam dan negara-negara Muslim dan penciptaan peluang bagi ekstremisme dan terorisme.
Menurut Zarif, kelanjutan agresi militer Arab Saudi ke Yaman merupakan salah satu faktor ketegangan di kawasan.
"Pasca 33 bulan perang sia-sia, para agresor harus memahami bahwa masalah tersebut tidak memiliki solusi militer," jelasnya.
Di bagian lain pidatonya, Menlu Iran menyinggung perlombaan senjata di kawasan, dan menuturkan, tidak ada negara manapun yang bisa menciptakan keamanan baginya dengan cara mengorbankan ketidakamanan negara-negara tetangganya.
Zarif juga menegaskan bahwa hingga sekarang, anasir-anasir kelompok teroris takfiri Daesh (ISIS) dan kelompok-kelompok serupa masih aktif.
"Pencegahan atas masuk dan menyebarnya ektremisme ke berbagai daerah baru, penumpasan penuh asal-usul pemikiran para ekstrem dan pemutusan sumber finansial mereka, harus tetap menjadi prioritas bagi kelanjutan untuk menangani sisa-sisa pemikiran berbahaya ini," pungkasnya.

Konferensi Keamanan Tehran yang Kedua digelar di Tehran, ibukota Iran pada Senin. Konferensi ini dihadiri oleh para pejaba politik, keamanan dan peneliti dari 49 negara dunia.
Konferensi Keamanan Tehran yang kedua ini mengangkat tema "Regional Security in West Asia; Emerging Challenges and Trends."
Para peserta akan membahas berbagai isu seperti, peran Iran dan negara-negara regional dan trans-regional di bidang keamanan Asia Barat serta pentingnya kerjasama pembangunan ekonomi dan pertahanan dalam mempromosikan keamanan regional.
Konferensi Keamanan Tehran pertama diadakan pada Desember 2016 dengan partisipasi para pakar senior di bidang keamanan. (RA)