Muqawama dan Intifada, Kapasitas Efektif Hadapi Israel
-
Ali Larijani
Ali Larijani, Ketua Uni Parlemen Negara-negara Anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengecam aksi kejahatan dan anti kemanusiaan rezim penjajah zionis Israel terhadap para pelaku demonstrasi damai di Hari Tanah.
Ketua Majlis Shura Islami Iran Sabtu malam (31/3) meminta Uni Parlemen Negara-negara Anggota OKI dan dunia untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam mengecam rezim zionis Israel dan mendukung hak legal rakyat Palestina serta mencegah upaya Zionis Israel menciptakan krisis baru.
Iran sebagai pendukung hakiki rakyat teraniaya Palestina berusaha membela hak mereka dan dengan segala cara berusaha mengungkap kejahatan rezim zionis Israel bagi opini publik. Babak baru kejahatan rezim Zionis terhadap rakyat Palestina tengah dimulai disertai kebijakan sebagian negara-negara Islam dan Barat, termasuk rezim Al Saud di balik payung dukungan Amerika.
Donald Trump, Presiden Amerika dengan mengumumkan al-Quds sebagai ibukota rezim penjajah Israel telah membuka kesempatan bagi rezim ini untuk lebih congkak. Bersamaan dengan itu, rezim Al Saud dengan menerapkan kebijakan normalisasi membuat dukungan atas hak dan cita-cita Palestina sudah bukan prioritasnya lagi. Hari-hari ini agenda Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi di Amerika menjadi bukti pernyataan ini. Pertemuan dengan para pelaku kejahatan perang Zionis Israel di Amerika membuktikan kejahatan rezim zionis Israel dalam dua hari lalu di perbatasan Jalur Gaza, dimana aparat keamanan menembak secara membabi buta warga teraniaya Palestina.
Bahram Ghassemi, Jurubicara Kemenlu Iran hari Sabtu (31/3) mengatakan, rezim zionis Israel yang memiliki pengalaman panjang dalam menjajah, membunuh dan melakukan kejahatan, patut disayangkan mendapat dukungan mutlak presiden Amerika dan upaya memalukan sebagian pemimpin "bau kencur" di kawasan untuk menciptakan hubungan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi dan menghinakan dengan rezim ini membuat rezim zionis Israel semakin berani dan sombong untuk membantai para pelaku demonstrasi damai Palestina.
17 pemuda Palestina gugur syahid dan lebih dari 1.500 warga cedera selama dua hari lalu (Jumat dan Sabtu) merupakan kejahatan terbaru rezim Zionis Israel di balik pengkhianatan rezim Al Saud dan lampu hijau Amerika. Penolakan Amerika di Dewan Keamanan PBB yang ingin mengecam kejahatan rezim zionis Israel di perbatasan Jalur Gaza menunjukkan dukungan mutlak Amerika atas rezim pembantai anak-anak Israel demi mengubah konstelasi regional.
Kesombongan ini ditambah sikap Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel menunjukkan batas aman rezim ini untuk melanjutkan genosida rakyat Palestina dalam kerangka kesepakatan abadi atau Deal of the Century. Netanyahu Sabtu malam dengan bersandar pada Arab Saudi dan Amerika mendukung serangan terhadap para pemuda Palestina di perbatasan Jalur Gaza dengan peluru tajam. Tapi perlu diketahui bahwa dukungan itu pasti dijawab oleh Muqawama Palestina.
Padahal dunia Islam memiliki banyak kapasitas dan alat untuk memberi pelajaran kepada Zionis Israel, tapi dikarenakan pengkhianatan sebagian rezim-rezim yang secara lahiriah Islam menyebabkan segala yang dimiliki ini tidak mampu direalisasikan. Sekalipun demikian, pawai akbar hak kembali di perbatasan Jalur Gaza kembali membuktikan kapasitas Muqawama merupakan alat terbaik dalam menghadapi rezim zionis Israel. Memahami kenyataan Intifada rakyat Palestina akan menjadi pelajaran bagi rezim zionis dan para pendukungnya.
Sekaitan dengan hal ini, Ali Akbar Velayati, Penasihat Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran untuk Urusan Internasional hari Sabtu mengatakan, sekalipun Amerika dan sejumlah negara Eropa berusaha merealisasikan skenario buruknya di kawasan dengan bantuan para pendukung mereka di Timur Tengah dalam bentuk perang proksi dan mengubah perang dunia Islam dengan rezim zionis Israel menjadi perang antara umat Islam, tapi tidak diragukan bahwa resistensi rakyat tertindas Palestina akan menjadi pemenang dalam merebut kembali tanah air mereka yang diduduki.