Kerja Sama Iran-Qatar dan Konfrontasi Saudi
-
Bendera Iran dan Qatar
Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani mengeluarkan instruksi mengangkat Mohammed Hamad Saad Al Fuhaid Al Hajri sebagai duta besar luar biasa untuk Iran. Secara diplomatik, duta besar luar biasa menunjukkan posisi kuat dalam keterwakilan sebuah negara di negara lain.
Di antara negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC), hanya Oman dan Qatar yang menjalin hubungan baik dengan Iran. Kedua negara ini mengedepankan kerja sama dibandingkan friksi sebagaimana yang ditempuh Bahrain dan Arab Saudi maupun Uni Emirat Arab terhadap Iran.
Selain kecenderungan kedua pihak untuk menjalin hubungan bilateral dengan Iran, ada sejumlah faktor lain yang mempengaruhi terwujudnya hubungan tersebut yaitu masalah perbatasan laut bersama, kepentingan sumber daya alam gas bersama, dan kebijakan politik interventif Arab Saudi yang memaksakan kepentingannya terhadap Doha dan Tehran.
Tampaknya ada masalah besar ketidakpercayaan di kalangan negara-negara Arab anggota Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC) dalam hubungan di antara mereka. Contoh paling jelas adalah hubungan antara Qatar dan Arab Saudi. Masalah ini pula yang menyulut Arab Saudi yang diikuti Bahrain, Uni Emirat Arab dan Mesir memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Qatar dan menjatuhkan sanksi terhadap Doha.
Arab Saudi yang selalu ingin berperan sebagai "Bapak" seluruh negara Arab anggota P-GCC memandang Qatar sebagai anak yang tidak patuh. Pada saat yang sama, Doha menilai Riyadh terlalu banyak mengatur urusan negara Arab lain, termasuk Qatar yang memicu ketidakpuasan negara ini.
Masalah ketidakpercayaan ini dipertajam dengan ambisi Arab Saudi yang bermimpi menjadi polisi Timur Tengah. Oleh karena itu, apa saja yang dianggap Riyadh tidak sejalan dengan kepentingan regionalnya masuk dalam kategori ancaman. Sikap Qatar yang mempertahankan independensinya, termasuk tidak bersedia mengamini dikte permusuhan Al Saud terhadap Iran selama ini dipandang oleh Riyadh sebagai ancaman nasional Arab Saudi.
Soltan bin Saad Al-Muraikhi yang menjabat sebagai menteri luar negeri Qatar dalam pertemuan Liga Arab di Kairo pada September 2017 mengatakan, "Iran negara yang terhormat dan kami tidak akan pernah menutup kedutaan kami di sana,".
Para analis politik semacam Uzi Rabi menilai Qatar menawarkan dialog konstruktif antara negara-negara Arab dengan Iran, tapi tawaran ini dianggap sebagai ancaman nasional oleh Arab Saudi.
Watak politik luar negeri Arab Saudi yang berupaya mendiktekan kepentingannya di kawasan memicu ketidakpuasan dari negara lain termasuk Qatar. Pada saat yang sama, sikap kompromis Iran, terutama dengan negara tetangga menyebabkan Doha tetap melanjutkan hubungan yang baik dengan Tehran.
Keputusan Emir Qatar menetapkan duta besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk Iran menunjukkan berlanjutnya hubungan bilateral antara Doha dan Tehran, meskipun langkah ini akan direaksi dengan konfrontasi lebih tajam dari Riyadh dan sekutunya.(PH)