Tujuan dan Filosofi Arbain
https://parstoday.ir/id/news/iran-i63495-tujuan_dan_filosofi_arbain
Lebih dari 15 juta orang dengan slogan “Allah mencintai orang yang mencinta Husein” mendatangi kota Karbala, Irak pada peringatan 40 hari kesyahidan Imam Husein as dalam beberapa tahun terakhir. Ini adalah sebuah perkumpulan besar dengan semboyan perdamaian dan keselamatan.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 27, 2018 12:02 Asia/Jakarta
  • Sebagian dari peserta peringatan hari Arbain sudah tiba di Karbala, Irak.
    Sebagian dari peserta peringatan hari Arbain sudah tiba di Karbala, Irak.

Lebih dari 15 juta orang dengan slogan “Allah mencintai orang yang mencinta Husein” mendatangi kota Karbala, Irak pada peringatan 40 hari kesyahidan Imam Husein as dalam beberapa tahun terakhir. Ini adalah sebuah perkumpulan besar dengan semboyan perdamaian dan keselamatan.

Semboyan ini sejalan dengan seruan Tuhan dan untuk memperoleh ridha-Nya. Dia menyeru semua manusia untuk hidup berdampingan dengan penuh kedamaian dan keamanan, serta menjunjung nilai-nilai moral dan kemanusiaan, seperti saling menghormati dan menjaga hak-hak orang lain. Manusia diajak menggunakan akal dan bersikap bijak sehingga tidak ada negara atau bangsa yang menindas dan menjajah bangsa-bangsa lain.

Jelas bahwa setiap bangsa dan masyarakat menyimpan berbagai potensi dan kapasitas. Setiap komunitas harus diberi ruang sehingga potensi dan kapasitas itu bisa diaktualisasikan. Oleh karena itu, al-Quran dalam sebuah slogan universal berkata, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah.” (al-Baqarah: 208)

Saat ini di sebuah titik dari dunia, di Karbala pawai akbar perdamaian dan kedamaian sedang berlangsung. Para peserta pawai ini bukan pejabat resmi pemerintah, tetapi berbagai lapisan masyarakat dari negara-negara dunia dan mereka berjalan seirama tanpa sedikit pun cekcok dan perdebatan.

Para peserta pawai ini bersikap ramah antar-sesama dan pintu-pintu rumah terbuka untuk semua. Masyarakat menjamu orang-orang yang datang dengan kedermawanan dan mempersembahkan apa yang mereka miliki untuk para tamu.

Pawai ini berlangsung bertepatan dengan hari Arbain Imam Husein bin Ali as. Mereka membentuk perkumpulan peziarah Huseini terbesar dalam sejarah Karbala dan itupun dengan berjalan kaki di tengah semua bahaya yang mungkin datang dari sisi teroris.

Para peziarah Imam Husein as berjalan kaki dari kota Najaf dan titik-titik lain menuju Karbala. Pawai akbar ini merupakan sebuah fenomena yang menakjubkan dan sarat dengan nilai-nilai spiritual.

Orang yang mengikuti kegiatan ini akan menyaksikan kehadiran peserta pawai dari berbagai mazhab dan agama, dan memperlihatkan kecintaan mereka kepada Imam Husein as; Muslim Syiah dan Sunni, Kristen dengan lambang salib di lehernya, dan bahkan orang Budha. Arbain telah menghapus semua sekat agama dan Imam Husein tampil sebagai tokoh universal. Figur yang dicintai oleh semua pemeluk agama dan sosok universal.

Lalu, apa makna dan tujuan Arbain dan ziarah Imam Husein as? Dalam menjawab pertanyaan ini, seorang penulis dan peneliti Iran, Doktor Mohammad Reza Sangari menuturkan, “Arbain mengandung konsep kesempurnaan, Arbain berarti hari ke-40 kesyahidan Imam Husein as. Empat puluh adalah batas kesempurnaan. Rasulullah Saw diangkat menjadi nabi pada usia 40 tahun, dan al-Quran menyebutkan bahwa Allah menyempurnakan miqat Nabi Musa di bukit Thur Sina selama 40 hari.”

“Ziarah Arbain sebenarnya sebuah gerakan simbolis dengan pesan bahwa jalan ini harus ditempuh sampai ke tujuan dan tidak boleh berhenti di tengah jalan. Sikap istiqamah pada sebuah perbuatan akan lebih sulit dan lebih berat dari memulai perbuatan itu sendiri. Jadi, makna dari aksi jalan kaki peziarah dan pecinta Imam Husein bin Ali as adalah berkomitmen pada cita-cita, iman, mempertahankan keyakinan, tidak goyah, dan tidak kehilangan arah,” tambahnya.

Doktor Reza Sangari melanjutkan, “Dalam doa ziarah Arbain, kita berkata bahwa Imam Husein telah mengorbankan jiwanya demi melepaskan manusia dari belenggu kejahilan dan dari kesesatan yang membingungkan. Ikut serta dalam pawai jalan kaki bertujuan untuk mewujudkan misi ini. Yaitu menyingkirkan tirai kejahilan dan mengambil jarak dari kesesatan yang membingungkan, dan melangkah ke arah cahaya. Ini adalah pesan terang Arbain.”

Aksi jalan kaki Arbain kembali ke abad pertama Hijriyah. Jabir bin Abdullah al-Anshari adalah peziarah pertama Imam Husein as yang datang ke Karbala pada hari Arbain. Pada hari itu, Sayidah Zainab dan Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as bersama rombongan 84 orang tiba di Karbala dan mereka mengadakan majlis duka di sana.

Jabir bin Abdullah al-Anshari datang ke Karbala bersama Athiyah bin Saad al-Aufi. Ia adalah salah seorang ulama, mufassir, dan ahli hadis yang lahir pada masa pemerintahan Imam Ali as.

Athiyah menceritakan kisahnya sebagai berikut, “Aku bersama Jabir bin Abdullah al-Anshari menziarahi makam Imam Husein. Ketika kami tiba di Karbala, Jabir mendekati Sungat Furat dan mandi. Kemudian memakai pakaian (semacam pakaian ihram); satu helai dibalutkan di pinggang dan satu helai lainnya dipakai di pundak dan badannya. Setelah itu, Jabir mengeluarkan wewangian berupa tepung dari akar pohon berbau wangi dari kantongnya dan memakainya.

Jabir berjalan ke arah makam Imam Husein sambil berzikir, karena matanya sudah buta, dia lalu berkata, “Tuntun aku ke makam Husein sehingga aku bisa memegangnya.”Aku pun melakukannya dan menuntun Jabir sampai ke makam. Karena larut dalam kesedihan, ia pingsan dan jatuh di atas makam. Aku percikkan air ke wajahnya. Ketika siuman ia berkata tiga kali, “Wahai Husein!... aku bersaksi, engkau adalah putra sebaik-baik nabi, engkau pemimpin orang-orang mukmin, engkau teladan takwa, engkau putra para pemberi petunjuk dan pemimpin, engkau orang kelima Ahli Kisa’, engkau putra Ali bin Abi Thalib, dan engkau putra Fatimah, penghulu para wanita.

Bagaimana engkau tidak menjadi demikian, sementara engkau disuap oleh tangan pemimpin para nabi. Engkau diasuh dalam pangkuan orang yang paling bertakwa. Engkau disusui dengan keimanan dan disapih dengan keislaman. Engkau hidup dan mati dalam keadaan suci.

Hati orang-orang mukmin terbakar karena berpisah darimu. Mereka yakin engkau hidup. Salam dan kebahagiaan dari Allah untukmu. Aku bersaksi, kisahmu seperti kisah syahidnya Nabi Yahya, putra Zakaria yang dipenggal kepalanya oleh thagut di zamannya.”

Jabir kemudian memperhatikan makam para syuhada Karbala di sekitar makam Imam Husein as dan menziarahinya sembari berkata, “Salam untuk kalian ruh-ruh yang berada di sekitar makam Husein… Aku bersaksi, kalian telah menunaikan shalat, membayar zakat, dan melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Kalian berperang melawan orang-orang yang sesat. Kalian telah menyembah Allah hingga kematian menjemput. Demi Allah yang mengutus Muhammad Saw dengan kebenaran, kami bersama kalian dalam segala hal yang kalian alami.”

Aku (Athiyah) kemudian berkata kepada Jabir, “Bagaimana kita bisa bersama para syuhada Karbala, sementara kita tidak bersama mereka dan tidak mengayunkan pedang seperti mereka? Bahkan para syuhada ini telah berkorban, kepala-kepala mereka terpenggal, anak-anak mereka menjadi yatim dan istri-istri mereka menjadi janda.”

Jabir menjawab, “Hai Athiyah! Aku mendengar sendiri Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa yang mencintai suatu kaum, ia akan dibangkitkan bersama kaum tersebut. Barang siapa yang menyukai perbuatan suatu kaum, ia terhitung dalam perbuatan tersebut. Demi Allah yang mengutus Muhammad Saw dengan kebenaran! Niatku dan niat para sahabatku sama seperti niatnya Husein dan para sahabatnya. Atas niat itulah mereka mencapai kesyahidan.’”

Perlu dicatat doa ziarah Arbain hanya terkait dengan Imam Husein as dan ziarah seperti ini tidak ditemukan untuk imam-imam lain. Filosofi keberadaan ziarah Arbain karena peristiwa penyatuan kepala para syuhada Karbala dengan jasad mereka oleh Imam Sajjad.

Ilmuan besar, Abu Raihan al-Biruni berkata, “Pada 20 Shafar, kepala suci Imam Husein as disatukan dengan badannya dan kemudian dikuburkan bersama badannya. Sejak hari itu ziarah Arbain mulai ada.”

Setelah Jabir, para ulama besar mulai berjalan kaki ke Karbala seperti yang dilakukan Mirza Jawad Agha Maliki Tabrizi, salah satu marji' besar Syiah. Dia berkata, "Bagi orang mukmin, tanggal 20 Shafar (Arbain) harus dijadikan sebagai hari duka dan kesedihan, dan berusahalah untuk menziarahi imam syahid di kuburannya, meskipun satu kali di sepanjang hidupnya, seperti perkataan sebuah hadis bahwa salah satu tanda orang mukmin adalah melakukan ziarah Arbain."

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Aksi jalan kaki ini adalah awal dari daya tarik magnet Huseini di hari Arbain. Daya tarik yang telah membawa Jabir bin Abdullah dari Madinah ke Karbala, magnet ini sekarang ada di hati saya dan Anda meskipun (peristiwa ini) telah berlalu selama berabad-abad."

Pawai akbar Arbain adalah sebuah parade besar untuk berlepas tangan dari tindakan-tindakan anti-kemanusiaan, serta mengumumkan kesetiaan dan kecintaan kepada Imam Husein as dan ajarannya. (RM)