Iran, AS dan Dinamika Keamanan Teluk Persia
-
Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran
Transformasi kawasan menunjukkan bahwa kehadiran pihak asing di Teluk Persia, adanya krisis dan instabilitas politik di beberapa negara di kawasan adalah di antara faktor-faktor yang telah menciptakan ancaman terhadap keamanan kolektif di kawasan.
Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran pada hari Senin (31/12) mengunjungi fasilitas militer di pulau Abu Musa (Iran selatan) dan menekankan, "Keamanan di kawasan hanya mungkin dengan dukungan semua negara di kawasan dan kehadiran pihak-pihak asing merusak tujuan ini."
Amerika dengan kehadirannya di kawasan dan dengan mengintensifkan isu Iranphobia, berupaya menciptakan ketegangan dalam hubungan Iran dengan negara-negara di kawasan. Dalam kerangka strategi ini, Amerika Serikat menentang integrasi keamanan antara Iran dan negara-negara tetangga dan dengan agitasi ilusif di kawasan dengan menyebut Iran sebagai ancaman di kawasan. Sementara Amerika Serikat memasuki kawasan dengan alasan ingin menciptakan keamanan, tetapi ke mana pun ia pergi, rasa tidak aman yang diciptakannya dan sebagai contoh adalah kondisi di Suriah, Irak, Afghanistan dan Teluk Persia.
Kehadiran Amerika Serikat di kawasan memiliki dua dampak negatif dan jangka panjang.
Efek pertama adalah perlombaan senjata. Salah satu tujuan terpenting Amerika, khususnya di era Trump, adalah untuk mendorong perlombaan senjata dan penjualan senjata untuk menciptakan ketergantungan keamanan terhadap Amerika yang kuat.
Efek kedua bersumber dari kehadiran Amerika Serikat di kawasan yang akhirnya menciptakan kesenjangan dalam hubungan regional dan permasalahan keamanan yang berusaha disejajarkan dengan tujuan AS di kawasan.
Ini dalam konteks dimana masalah utama di kawasan Teluk Persia adalah realisasi keamanan regional dengan penekanan pada keamanan kolektif.
Surat kabar Rai al-Youm cetakan London dalam artikel Abdul Sattar Ghassem menulis, "Beberapa negara Arab di kawasan menghasut Amerika Serikat dan sejalan dengan target Israel, telah mengidentifikasi Iran sebagai ancaman bagi kawasan, sementara mereka lupa telah menghabiskan ratusan miliar dolar untuk ketidakamanan di kawasan."
Amerika Serikat dengan kebijakan yang diambil Trump berusaha menghapus Iran dari perimbangan keamanan regional dengan menciptakan kekhawatiran soal keamanan Selat Hormuz, tetapi Iran tentu tidak akan mengizinkan langkah-langkah tersebut.
Pekan lalu, kapal induk Amerika Serikat tiba di Teluk Persia. Kantor berita Sputnik menulis berdasarkan berita yang diterbitkan di media barat, kapal induk USS John C. Stennis yang memasuki Teluk Persia adalah kapal pertama di perairan setelah penarikan diri Washington dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).
Laksamana Alireza Tangsirii, Komandan Angkatan Laut Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), mencatat kehadiran kapal induk Amerika di Teluk Persia seraya mengingatkan, "Iran terus memantau mereka dan memonitoring penuh atas pasukan asing.
Kekuatan Iran berada pada level tertinggi dalam menjaga keamanan. Kekuatan ini tidak pernah menjadi ancaman bagi keamanan kawasan, karena doktrin militer Iran bersifat damai. Ucapan Mayjend Bagheri menjadi bukti atas pernyataan ini. Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran dalam sambutannya, juga memiliki pesan yang jelas tentang kerjasama beberapa negara di kawasan dengan Amerika Serikat untuk menerapkan konspirasi di Asia Barat.
Mayjen Bagheri menekankan, "Musuh regional Iran harus mengetahui bahwa Republik Islam bersama dengan doktrin perdamaian, memiliki kehadiran militer yang kuat dan tegas yang, jika perlu, mempertahankan integritas teritorialnya, juga mempertimbangkan negara-negara pengusul sebagai yang bertanggung jawab atas konsekuensinya."