Ketika Komandan IRGC Menekankan Kesiapan Angkatan Bersenjata Iran Menghadapi Ancaman Musuh
Mayjen Hossein Salami, Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran hari Sabtu, 2 November, di pameran lukisan dinding sarang mata-mata Kedubes AS di Tehran menekankan, "Musuh di manapun berusaha melancarkan aksi anti Iran, maka mereka akan dihancurkan dari sana."
Apa yang disampaikan Mayjen Salami terkait kesiapan Angkatan Bersenjata Iran untuk melawan ancaman musuh didasarkan pada penilaian lapangan dan pendapat ahli.
Pernyataan komandan IRGC juga berisi poin-poin penting tentang tujuan-tujuan regional para musuh bangsa Iran, dan di puncak mereka adalah Amerika Serikat.
Dalam sambutannya, Mayjen Salami mengatakan bahwa Amerika Serikat memainkan peran utama dalam semua perang besar dunia, secara langsung atau tidak langsung, dan menilai klaim AS tentang kontraterorisme tidak realistis serta mengingatkan, "Kematian lebih dari delapan juta orang merupakan hasil dari intervensi militer Amerika di dunia."
Amerika Serikat mengklaim bahwa kebijakan luar negerinya adalah demi menjaga keamanan dan stabilitas di seluruh dunia, tetapi kinerjanya menunjukkan bahwa Amerika bahkan belum mampu memberikan keamanan bagi rakyat Amerika.
Dalam beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat telah melakukan intervensi di berbagai daerah seperti Afghanistan, Irak dan Suriah dengan dalih memerangi terorisme. Tetapi dengan kehadiran militer mereka, Amerika telah meningkatkan rasa tidak aman, terorisme, dan produksi dan penyelundupan narkoba di wilayah tersebut.
Pandangan terhadap kebijakan luar negeri AS menunjukkan bahwa dalam beberapa dekade terakhir, pendekatan Amerika berada dalam satu sirkuit tertutup. Sedemikian rupa sehingga tiga elemen destruktif perdamaian dan keamanan; yaitu perang, sanksi, dan pelanggaran hukum telah menjadi prinsip tetap dalam perilaku Amerika.
Perang proksi, seperti serangan Saudi dan UEA terhadap Yaman dan penciptaan hasutan dan kerusakan di beberapa negara di kawasan, telah menjadi bagian dari kebijakan AS dengan bantuan sekutu regionalnya.
Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam, Rabu lalu, 30 Oktober, pada wisuda ke-17 dan pelantikan mahasiswa Sekolah Tinggi Perwira Angkatan Darat Iran di Universitas Pertahanan Udara Khatam Al-Anbia, merujuk pada desain musuh untuk menghilangkan keamanan di beberapa negara kawasan, termasuk Irak dan Lebanon mengatakan, "Faktor pelaku kebusukan dan kebencian yang berbahaya ini sudah diketahui dan pelaku di balik kerusuhan ini tidak lain dari dinas intelijen AS dan negara-negara Barat yang didukung secara finansial oleh beberapa negara reaksioner di kawasan,"
Chanel News, salah satu media Asia Timur dalam analisanya menyebut eskalasi ketegangan di Asia Barat adalah kebijakan salah Amerika Serikat dan menjelaskan, "Akar masalah hari ini di Teluk Persia adalah tindakan Trump dan jika terjadi konflik di kawasan, maka para pembuat kebijakan AS akan membayar harga yang mahal."
Dalam hal ini tidak ada keraguan bahwa Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, dengan kekuatan pencegahan militer yang tinggi, sepenuhnya siap untuk menghadapi musuh-musuh mereka. Pada saat yang sama, kebijakan strategis Republik Islam Iran adalah untuk menekankan perdamaian dan keamanan dengan partisipasi semua negara di kawasan.
Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB pada 25 September, Presiden Hassan Rouhani mempresentasikan rencana perdamaian regional yang disebut "Prakarsa Perdamaian Hormuz" atau "Koalisi Harapan" dan mengirim teks lengkap prakarsa ini kepada kepala-kepala negara di kawasan.
Yang pasti, ancaman dan sanksi serta pembentukan koalisi palsu di kawasan tidak pernah membuat Republik Islam Iran ragu dalam menjaga keamanan dan menghilangkan ancaman dari kawasan. Itulah sebabnya komandan Korps Garda Revolusi Islam menyatakan dalam pidatonya menjelang 13 Aban yang bertepatan dengan tanggal 4 November yang diperingati sebagai Hari Nasional Perlawanan anti Arogansi Global menjelaskan, "Rakyat Iran membuktikan dengan mudah dapat melewati jalur yang sulit."