67 Persen Rakyat Amerika Tidak Puas terhadap Perang Lawan Iran
Berdasarkan jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis pada Senin, tingkat popularitas Trump telah mencapai titik terendah selama masa kepresidenannya, dan mayoritas besar warga Amerika khawatir perang (agresif) Amerika Serikat terhadap Iran akan berlangsung berkepanjangan.
Menurut laporan Pars Today yang mengutip IRNA, hanya 33 persen peserta dalam jajak pendapat selama empat hari tersebut yang menyetujui kinerja Trump di Gedung Putih, sementara 67 persen tidak puas dengan Donald Trump.
Tingkat popularitas Trump dalam jajak pendapat Reuters pada awal bulan ini berada di angka 35 persen, dan kini menyamai tingkat popularitas terendahnya pada masa kepresidenan sebelumnya, yang tercatat pada Desember 2017.
Trump kembali ke Gedung Putih tahun lalu ketika kurang dari separuh rakyat Amerika menyetujui kepemimpinannya, tetapi tahun ini, setelah memerintahkan serangan terhadap Iran bersama Israel, popularitasnya merosot tajam.
Perang terhadap Iran melumpuhkan seperlima perdagangan minyak dunia dan menyebabkan kenaikan harga bensin, yang memberikan tekanan terhadap rumah tangga Amerika serta para sekutu Republik Trump yang saat ini berusaha mempertahankan mayoritas di Kongres dalam pemilu sela November.
Trump, yang mencalonkan diri dalam pemilu dengan janji mengendalikan inflasi dan mencegah perang berkepanjangan, pada awalnya mengklaim bahwa perang dengan Iran akan berlangsung selama beberapa minggu dan (dengan mengulangi klaimnya yang tidak berdasar) menyatakan bahwa perang adalah satu-satunya cara untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Namun, Iran telah membuktikan ketahanannya dan secara signifikan mengendalikan perdagangan minyak melalui Selat Hormuz.
Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan bahwa sekitar 80 persen warga Amerika, yang terdiri dari 87 persen Demokrat dan 71 persen Republik, meyakini bahwa serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran “akan berlangsung dalam waktu yang lama”. Hanya 16 persen yang menyatakan bahwa konflik tersebut kemungkinan akan berakhir dalam beberapa minggu.
Washington Post: Trump Terjebak dalam Rawa Strategis
Dalam kaitan ini, surat kabar Washington Post dalam sebuah laporan yang menyinggung kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat 60 hari lalu menulis bahwa Gedung Putih menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai “kemajuan bersejarah” yang akan mengarah pada pembukaan kembali Selat Hormuz dan menjamin pencegahan “Iran memperoleh senjata nuklir”. Para penasihat Trump juga mengatakan bahwa kesepakatan tersebut akan menunjukkan bahwa presiden Amerika Serikat mampu mengakhiri “perang tanpa akhir” di Asia Barat, bukan memperpanjangnya.
Kesepakatan tersebut memberikan waktu dua bulan untuk melakukan negosiasi agar gencatan senjata sementara dapat berubah menjadi kesepakatan yang lebih luas mengenai perselisihan selama beberapa dekade terkait program nuklir Iran. Namun, tenggat waktu tersebut kini telah berakhir. Perang belum berakhir, Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup, dan negosiasi yang terbatas serta terperinci mengenai program nuklir Iran tidak pernah dimulai.
Laporan tersebut menyatakan: Enam bulan setelah dimulainya serangan Amerika Serikat terhadap Iran yang dikoordinasikan dengan rezim Israel, dan 78 hari menjelang pemilu sela yang akan menentukan apakah Partai Republik dapat mempertahankan kendali atas Kongres atau tidak, Trump menghadapi jenis konflik berkepanjangan dan tanpa batas yang sebelumnya ia klaim secara khusus mampu mencegahnya; sebuah perang tanpa solusi militer yang jelas, tanpa prospek kemajuan diplomatik yang pasti, serta dengan biaya ekonomi dan politik yang terus meningkat di dalam negeri Amerika Serikat.